Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHADIRAN Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Pelindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) menjadi angin segar bagi keamanan siber anak di Indonesia. Namun, regulasi ini tidak akan berjalan optimal tanpa peran aktif orang tua dan institusi pendidikan dalam menutup celah potensi bahaya di dunia maya.
Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa meskipun platform digital kini diwajibkan membatasi akses bagi anak, pengawasan manual tetap menjadi garda terdepan.
"PP Tunas ini sangat membantu, tapi orang tua dan sekolah juga harus diaktifkan. Kalau tidak, anak akan tetap mencari celah," ujar Prof. Rose, dikutip Jumat (20/3).
Menurut Prof. Rose, efektivitas PP Tunas sangat bergantung pada peningkatan literasi digital orangtua. Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya.
Ia menekankan bahwa orangtua harus memahami perkembangan teknologi agar mampu mendampingi sekaligus memantau aktivitas anak secara tepat.
"Kalau tidak ada pengawasan, anak bisa mencari jalan lain. Ini yang harus diantisipasi," tegasnya.
Selain aspek teknis, pembangunan karakter menjadi instrumen penting dalam memfilter dampak negatif teknologi. Prof. Rose menjelaskan bahwa penanaman nilai-nilai dasar seperti kejujuran, disiplin, empati, kontrol diri, hingga toleransi harus dimulai sejak usia dini.
"Karakter seperti jujur, disiplin, itu berasal dari moral. Dan moral itu harus diajarkan, bukan sekadar disuruh. Kalau anak tidak diajarkan empati dan kontrol diri sejak kecil, akan sulit bagi mereka membedakan mana yang baik dan buruk," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa Kak Seto, menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua adalah pendukung terbesar bagi keberhasilan regulasi ini.
"Regulasi sudah ada, tetapi yang terbesar pendukungnya adalah orangtua. Tanpa keterlibatan mereka, perlindungan anak tidak akan optimal," kata Kak Seto.
Sebagai langkah konkret, Kak Seto menyarankan agar orangtua membangun komunikasi dua arah yang sehat.
Dengan menciptakan ruang diskusi yang terbuka, anak akan merasa lebih dipahami kebutuhannya, sehingga mereka tidak merasa tertekan dalam mengikuti batasan-batasan digital yang ditetapkan di rumah. (Ant/Z-1)
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
Pendampingan orangtua selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Kebersamaan bisa dilakukan oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan.
Banjir besar November 2025 menyisakan duka yang belum usai, menjadikan perayaan tahun ini pengingat pahit bahwa bencana datang silih berganti.
Program penguatan kualitas lingkungan belajar dan pengembangan kapasitas siswa digelar untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di Jakarta Timur.
BPIP mengapresiasi Pemprov DKI Jakarta yang menyelenggarakan Sosialisasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila bagi satuan pendidikan.
Sejumlah pakar dan hasil kajian sosiologi menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu memperkuat solidaritas dan semangat belajar siswa di sekolah.
Ia juga bercita-cita menjadi astronom serta menempuh kuliah di kampus terkenal kelas dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved