Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA Sensor Film (LSF) mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih kategori usia tontonan saat membawa anak ke bioskop, terutama pada masa libur Lebaran.
Pemilihan film yang tidak tepat dinilai dapat memberikan dampak buruk jangka panjang bagi perkembangan mental dan kognitif anak.
Wakil Ketua LSF, Noorca M Massardi, menegaskan bahwa menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak. Ia menyoroti bagaimana konten dewasa dapat mengganggu psikis mereka yang belum siap menerimanya.
"Kalau film-film dengan tanda 17+ ditonton oleh anak-anak di bawah umur itu pasti akan memunculkan dampak yang negatif. Ini belum sesuai dengan ciri-ciri perkembangan kognitifnya, perkembangan mentalnya, pasti berdampak negatif," ujar Noorca, dikutip Rabu (18/3).
Menurut Noorca, kekuatan audio visual dalam sebuah film memiliki daya rekam yang sangat kuat. Adegan-adegan tertentu dapat tersimpan dalam memori anak hingga mereka dewasa. Ia menceritakan pengalaman pribadinya saat kecil yang masih mengingat potongan adegan film meski judulnya sudah terlupakan.
Secara spesifik, LSF meminta orangtua untuk menjauhkan anak-anak dari film yang mengandung unsur kekerasan dan adegan percintaan dengan persentuhan fisik. Konten semacam ini dikhawatirkan akan memicu imajinasi yang tidak sehat pada anak.
"Kalau adegan-adegan kekerasan itu yang pasti akan membuat anak atau orang yang di bawah umur klasifikasi usianya akan terganggu," jelasnya. "Jadi, dia akan mengkhayal bagaimana rasanya adegan itu, padahal misalkan dia masih umur 5 tahun."
Sebagai bagian dari Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, LSF telah membagi klasifikasi film ke dalam empat kategori warna untuk memudahkan masyarakat:
Untuk memperkuat pengawasan di lapangan, LSF bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) melalui Gerakan Bioskop Sadar Sensor Mandiri yang telah berjalan sejak 2022.
Melalui gerakan ini, pihak bioskop berperan aktif mengarahkan penonton agar memilih film yang sesuai dengan usia mereka.
Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menampilkan kode warna yang berbeda pada setiap film di sistem penjualan tiket, sehingga orang tua dapat langsung mengidentifikasi kelayakan tontonan bagi buah hati mereka. (Ant/Z-1)
Tidak sedikit anak-anak yang aktif menggunakan telepon seluler pintar setiap hari, termasuk untuk menonton film
FILM Pangku, karya penyutradaraan perdana Reza Rahadian ditetapkan untuk penonton berusia 17 tahun ke atas oleh LSF
LEMBAGA Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI), meluncurkan laman resminya yang telah diperbarui (lsf.go.id). Kini laman resmi LSF hadir dengan deretan fitur yang lebih inklusif.
DI Twitter/X, ramai diperbincangkan tentang banyaknya sensor yang dialami oleh film Nosferatu dari sutradara Robert Eggers saat tayang di bioskop Indonesia.
Salah satu yang digagas di antaranya adalah pemecahan klasifikasi usia dari Semua Umur hingga 13+.
Kebersamaan bisa dilakukan oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved