Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Menjadi Pelindung, bukan Pelampiasan: Kunci Orangtua Kelola Emosi demi Tumbuh Kembang Anak

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 10:00
Menjadi Pelindung, bukan Pelampiasan: Kunci Orangtua Kelola Emosi demi Tumbuh Kembang Anak
Ilustrasi(Freepik)

PERAN orangtua bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, melainkan juga menjadi jangkar emosional yang stabil. 

Psikolog anak dan keluarga dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, menekankan pentingnya bagi orangtua untuk mengelola emosi dengan baik agar dapat menjalankan fungsi perlindungan dan pengasuhan secara maksimal.

Menurut Sani, kewajiban melindungi anak dan mengatur regulasi diri tidak hanya berlaku bagi orangtua kandung. Siapa pun yang memegang peran pengasuhan memikul tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga stabilitas emosinya.

"Kalau sudah punya anak, walaupun bukan anaknya (anak kandung), tapi wajib melindungi anak tersebut dan wajib mengatur emosinya agar lebih terkontrol," ujar Sani, dikutip Jumat (27/2).

Strategi Menenangkan Diri

Dalam praktiknya, emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih. Sani membagikan kiat agar orangtua tidak terjebak dalam tindakan impulsif. Langkah pertama yang paling krusial adalah mengalihkan fokus dari pelampiasan amarah menuju proses penenangan diri.

Metode yang digunakan bisa beragam dan personal, mulai dari pendekatan spiritual hingga aktivitas relaksasi. Sani mencontohkan beberapa cara seperti beribadah, menonton film, mendengarkan musik, hingga berjalan-jalan sejenak untuk mendinginkan kepala.

"Ya ketika kita emosi mestinya bukan fokus kepada pelampiasannya tapi fokus pada menenangkan diri dulu, makanya ada orang yang akhirnya bisa jalan-jalan dulu, nonton, mendengarkan musik atau sholat dulu, *sharing* dengan teman, baru akhirnya mencari solusi," jelasnya.

Pentingnya Support System dan Kesadaran Peran

Selain teknik penenangan individu, membangun sistem pendukung atau support system juga menjadi faktor penentu. Dengan memiliki tempat untuk berbagi cerita dengan orang terpercaya, orangtua dapat meregulasi emosinya sehingga mampu bertindak dengan penuh kesadaran (mindful).

Sani mengingatkan bahwa orang dewasa memiliki tanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak. Namun, ketika orangtua lebih terjebak pada pemenuhan ego dan penyaluran emosi pribadinya, fungsi perlindungan tersebut biasanya akan runtuh.

Situasi akan memburuk jika orangtua gagal melihat posisi anak sebagai individu yang harus dilindungi. 

"Karena balik lagi yang dipikirkan adalah penyaluran emosinya, nah orang tua tersebut pada akhirnya tidak bisa melihat dari sisi anak, bahwa anak itu bukan alat, bukan target penyaluran emosi. Ini juga yang membuat situasi menjadi lebih parah ketika orangtua tidak tahu menyalurkan emosi secara matang," tegas Sani.

Dengan perilaku dan regulasi emosi yang tepat, orang tua tidak hanya membangun lingkungan yang aman, tetapi juga memastikan perkembangan anak berjalan optimal tanpa bayang-bayang trauma akibat ledakan emosi yang tidak terkendali. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya