Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN orangtua bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, melainkan juga menjadi jangkar emosional yang stabil.
Psikolog anak dan keluarga dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, menekankan pentingnya bagi orangtua untuk mengelola emosi dengan baik agar dapat menjalankan fungsi perlindungan dan pengasuhan secara maksimal.
Menurut Sani, kewajiban melindungi anak dan mengatur regulasi diri tidak hanya berlaku bagi orangtua kandung. Siapa pun yang memegang peran pengasuhan memikul tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga stabilitas emosinya.
"Kalau sudah punya anak, walaupun bukan anaknya (anak kandung), tapi wajib melindungi anak tersebut dan wajib mengatur emosinya agar lebih terkontrol," ujar Sani, dikutip Jumat (27/2).
Strategi Menenangkan Diri
Dalam praktiknya, emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih. Sani membagikan kiat agar orangtua tidak terjebak dalam tindakan impulsif. Langkah pertama yang paling krusial adalah mengalihkan fokus dari pelampiasan amarah menuju proses penenangan diri.
Metode yang digunakan bisa beragam dan personal, mulai dari pendekatan spiritual hingga aktivitas relaksasi. Sani mencontohkan beberapa cara seperti beribadah, menonton film, mendengarkan musik, hingga berjalan-jalan sejenak untuk mendinginkan kepala.
"Ya ketika kita emosi mestinya bukan fokus kepada pelampiasannya tapi fokus pada menenangkan diri dulu, makanya ada orang yang akhirnya bisa jalan-jalan dulu, nonton, mendengarkan musik atau sholat dulu, *sharing* dengan teman, baru akhirnya mencari solusi," jelasnya.
Selain teknik penenangan individu, membangun sistem pendukung atau support system juga menjadi faktor penentu. Dengan memiliki tempat untuk berbagi cerita dengan orang terpercaya, orangtua dapat meregulasi emosinya sehingga mampu bertindak dengan penuh kesadaran (mindful).
Sani mengingatkan bahwa orang dewasa memiliki tanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak. Namun, ketika orangtua lebih terjebak pada pemenuhan ego dan penyaluran emosi pribadinya, fungsi perlindungan tersebut biasanya akan runtuh.
Situasi akan memburuk jika orangtua gagal melihat posisi anak sebagai individu yang harus dilindungi.
"Karena balik lagi yang dipikirkan adalah penyaluran emosinya, nah orang tua tersebut pada akhirnya tidak bisa melihat dari sisi anak, bahwa anak itu bukan alat, bukan target penyaluran emosi. Ini juga yang membuat situasi menjadi lebih parah ketika orangtua tidak tahu menyalurkan emosi secara matang," tegas Sani.
Dengan perilaku dan regulasi emosi yang tepat, orang tua tidak hanya membangun lingkungan yang aman, tetapi juga memastikan perkembangan anak berjalan optimal tanpa bayang-bayang trauma akibat ledakan emosi yang tidak terkendali. (Ant/Z-1)
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Identifikasi trauma pada anak memerlukan kepekaan khusus karena mereka belum mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara verbal.
Kondisi tubuh yang kuat sangat diperlukan agar anak mampu menghadapi berbagai efek samping akibat kemoterapi.
Screen time yang tidak tepat dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan.
Vitamin A merupakan zat esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Sayangnya, pemantauan kadar vitamin ini masih menjadi tantangan di Indonesia.
Orang tua disarankan lebih cermat menyiasati pemenuhan gizi anak di rumah, terutama bagi anak yang lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama.
Menurut dr. Ray, sistem pencernaan bukan hanya berfungsi untuk mencerna makanan, tetapi juga berperan langsung dalam proses pertumbuhan otak dan kemampuan kognitif anak.
Pelajari 7 cara sederhana untuk melindungi anak-anak dari paparan polusi udara. Mulai dari penggunaan masker N95 hingga memilih transportasi ramah lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved