Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Memulihkan Psikologis Anak Korban Banjir Lewat Terapi Bermain dan Seni

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 07:39
Memulihkan Psikologis Anak Korban Banjir Lewat Terapi Bermain dan Seni
Ilustrasi--Anak-anak mengikuti permainan dalam layanan psikososial dari Kementerian Sosial di Posko Pengungsi Desa Konga, Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (7/11/2024)(ANTARA/Aditya Pradana Putra)

BENCANA banjir yang melanda Aceh Tamiang menyisakan tantangan tidak hanya secara fisik, namun juga kesehatan mental, khususnya bagi kelompok anak-anak. 

Psikolog klinis, Anna Aulia, menekankan pentingnya intervensi psikologis melalui terapi bermain dan terapi seni (art therapy) untuk membantu anak-anak memulihkan kondisi emosional mereka pascabencana.

Menurut Anna, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal. 

"Anak jarang bilang dia trauma atau sedih. Tapi itu terlihat dari perilaku dan gambar yang mereka buat," ujar Anna, dikutip Kamis (26/2).

Dalam sesi terapi seni yang dijalankan, anak-anak diberikan kebebasan untuk menuangkan ekspresi mereka di atas kertas. 

Melalui media gambar, anak-anak sering kali merefleksikan pengalaman traumatis yang mereka alami, mulai dari suasana banjir, tenda pengungsian, hingga situasi yang mencekam. 

Gambar-gambar tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi psikolog untuk memahami emosi terpendam yang dirasakan anak.

Anna, yang juga merupakan relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Aceh Tamiang dari Kementerian Kesehatan, menilai bahwa pendekatan seni sangat efektif karena mudah diterapkan dan tidak memerlukan alat yang rumit. 

"Pendekatan ini juga membantu anak menyalurkan emosi tanpa tekanan untuk bercerita secara langsung," tambahnya.

Selain terapi seni, relawan juga melakukan layanan psikososial melalui kegiatan bermain dan bergerak bersama. Upaya ini bertujuan untuk membangun kembali rasa aman serta mengembalikan koneksi sosial anak-anak. 

Hal ini sangat penting mengingat trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat memengaruhi emosi dan konsentrasi anak dalam jangka panjang. 

"Anak bisa menjadi lebih mudah marah, sering menangis, hingga sulit fokus belajar," jelas psikolog yang juga bertugas di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor tersebut.

Namun, Anna menegaskan bahwa pemulihan trauma pada anak bukanlah proses yang instan. 

Peran lingkungan dan keluarga menjadi faktor kunci agar anak dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. 

"Yang utama adalah anak merasa aman dan tidak sendirian," tegasnya.

Program pendampingan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan pascabencana di Aceh. Melalui pengerahan TCK, pemerintah berkomitmen untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, termasuk menyediakan dukungan kesehatan mental yang komprehensif bagi masyarakat yang terdampak bencana. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya