Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak dan keluarga lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sani B Hermawan menyarankan orangtua untuk membekali pemahaman kepada anak sebelum diizinkan bermain di luar rumah.
"Tentunya anak juga perlu dibekali dengan hal-hal seperti tidak boleh nyebrang jalan seininya (sembarangan) atau kalau bolanya ke lempar ke luar pagar, kompleks misalnya harus bicara ke orangtua," kata Sani, Senin (7/7).
Sebelum anak dilepas bermain di luar, orangtua diminta memulai dengan pengawasan hingga pemantauan di awal.
Terutama untuk usia anak-anak yang memasuki Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar, disarankan perlu tetap ditemani terlebih dahulu. Jika anak dinilai memang sudah bisa, orangtua bisa melepas perlahan-lahan.
Sementara, untuk anak usia memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), tetap perlu dibekali batasan-batasan terutama terkait aktivitas bermain dan interaksi di luar rumah.
"Lebih ke arah aturan-aturan mana yang boleh dan tidak boleh. Dan tentunya jam malam perlu diberlakukan, kemudian anak juga harus melapor
kepada siapa dia bermain dan ke mana aja dia bermain," ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani itu.
Sani menekankan orangtua harus tahu terlebih dahulu kondisi lingkungan fisik sekitar rumah sebelum mengizinkan anak bermain di luar.
Semisal, memastikan lingkungan itu karakternya seperti apa hingga kemungkinan risiko terjadi kecelakaan atau bahaya, seperti jatuh atau terpeleset karena licin atau tenggelam karena ada lubang seperti gorong-gorong yang tidak tertutup.
Menyoroti fenomena orangtua yang membiarkan anak-anak berusia sangat muda bermain di luar rumah seperti saat malam hari tanpa pengawasan, di mana hal itu menurut Sani, telah menyalahi aturan anak boleh bermain sendiri.
Orangtua disarankan saat akan mengizinkan anak bermain di luar perlu mempertimbangkan batasan atau radius aman, waktu, medan atau lingkungan bermain, hingga dengan siapa anak bermain.
"Misalnya ada anak yang dilepas bermain sama temannya, temannya juga usia yang sama, kan gak bisa saling tolong menolong karena dengan usia yang seperti itu, dan mungkin jadi bahkan malah ketakutan misalnya karena anak tersebut merasa takut disalahi," ujar dia.
Sebenarnya anak bermain di luar, bukan berarti dilepas begitu saja. Namun, anak bisa bermain di luar dengan permainan dan lingkungan yang aman serta mengasyikkan, seperti bermain kelereng atau congklak bersama tetangga di dekat rumah.
Menurut dia, orangtua disarankan tetap memberi ruang bagi anak bermain di luar rumah, dengan keadaan yang aman karena lingkungan terjaga dan tidak bisa melepas begitu saja jika memang medannya tidak aman.
"Jadi bukan berarti dengan banyaknya kejadian apa yang ada sekarang ini enggak membuat anak terkurung di dalam rumah juga tidak wisejustru orangtua mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh," jelas dia. (Ant/Z-1)
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Platform gim imersif global, Roblox, resmi mengumumkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh penggunanya melakukan verifikasi usia untuk mengakses fitur chat.
Memandikan anak yang terkena cacar air bertujuan agar kulit tetap bersih dan sehat. Langkah ini efektif untuk mencegah timbulnya biang keringat.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Penerapan gizi seimbang memiliki dampak langsung pada kesehatan saluran cerna. Asupan yang tepat akan menjaga keseimbangan bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus.
MENURUT Konvensi Hak Anak PBB tahun 1989, ada 10 hak dasar anak yang perlu dijamin oleh negara dan masyarakat, salah satunya adalah hak untuk bermain dan berekreasi.
Anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik perlu selalu didampingi saat bermain sendiri maupun bersama teman-temannya.
Tidak hanya menyenangkan, bermain juga diakui sebagai sarana penting untuk menumbuhkan berbagai keterampilan hidup yang esensial.
Bermain lebih dari sekadar hiburan—ini adalah alat yang sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang fisik, kognitif, serta sosial-emosional anak.
Bermain game bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang menjelajahi dunia virtual yang penuh detail dan cerita yang mendalam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved