Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keseimbangan Kasih Sayang dan Kontrol: Kunci Cegah Perasaan Pilih Kasih pada Anak

Basuki Eka Purnama
18/2/2026 18:10
Keseimbangan Kasih Sayang dan Kontrol: Kunci Cegah Perasaan Pilih Kasih pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

ISU mengenai rasa pilih kasih orangtua terhadap anak kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Fenomena ini mencuat menyusul kasus tragis pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, yang memicu beragam komentar warganet terkait pengalaman mereka sebagai "anak tengah" yang merasa kurang diperhatikan.

Menanggapi fenomena tersebut, Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya orangtua untuk menerapkan pola asuh yang seimbang antara kasih sayang dan kontrol

Langkah ini krusial guna mencegah munculnya persepsi diperlakukan tidak adil di dalam lingkungan keluarga.

Amalia menjelaskan bahwa konsep adil dalam pengasuhan sering kali disalahpahami. 

Menurut lulusan Universitas Gadjah Mada ini, adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

“Terlepas dari berapa pun jumlah anak, orangtua perlu memiliki kontrol dan kasih sayang yang seimbang pada setiap anak. Adil dan bijak bukan berarti semua perlakuan harus sama, namun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak,” ujar Amalia, dikutip Rabu (18/2).

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa perlakuan yang adil harus mempertimbangkan variabel usia, kebutuhan spesifik, serta tahap tumbuh kembang anak. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, Amalia menyarankan agar orangtua menyediakan waktu khusus (special time) secara rutin bagi setiap anak.

“Luangkan special time untuk masing-masing anak minimal 15 menit setiap hari. Special time berarti menghabiskan waktu bersama anak tanpa banyak instruksi, biarkan anak memilih kegiatannya atau sekadar bercerita,” tambahnya. 

Kehadiran waktu berkualitas ini bertujuan agar setiap anak merasa benar-benar dilihat dan dihargai sebagai individu yang unik.

Selain penyediaan waktu khusus, membangun komunikasi yang hangat juga menjadi fondasi penting. Komunikasi yang baik menciptakan ruang aman bagi anak untuk menyampaikan perasaan mereka. 

Hal ini sekaligus memudahkan orang tua dalam memberikan pemahaman dan melakukan validasi emosi saat anak menunjukkan tanda-tanda cemburu.

“Validasi emosi yang anak rasakan. Pada keluarga dengan lebih dari dua anak, rasa cemburu bisa muncul karena perbedaan kebutuhan. Akui dulu perasaan anak, lalu beri pengertian saat anak sudah lebih tenang,” tegasnya.

Sebagai penutup, Amalia mengingatkan orangtua untuk tetap konsisten dalam menerapkan aturan rumah tangga dan tidak ragu menunjukkan rasa cinta secara nyata. 

Konsistensi dan keterbukaan ekspresi kasih sayang diharapkan mampu meminimalisir munculnya persepsi negatif mengenai perbedaan kasih sayang di antara saudara sekandung. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya