Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Memahami Luka 'Anak Pilih Kasih', Kunci Kesadaran Diri Menurut Psikolog

Basuki Eka Purnama
18/2/2026 15:55
Memahami Luka 'Anak Pilih Kasih', Kunci Kesadaran Diri Menurut Psikolog
Ilustrasi(Pexels)

PENGALAMAN masa kecil, terutama terkait perbedaan perlakuan dari orangtua, sering kali meninggalkan jejak emosional yang mendalam hingga seseorang dewasa. 

Menanggapi fenomena ini, Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., menekankan pentingnya membangun kesadaran diri sebagai langkah awal pemulihan bagi individu yang merasa dianaktirikan atau dibanding-bandingkan.

Amalia menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memaafkan secara terburu-buru, melainkan menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk dinamika diri di masa kini.

“Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci,” ujar Amalia, dikutip Rabu (18/2).

Dampak Psikologis dan Relasi Interpersonal

Menurut lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, perlakuan yang tidak setara di dalam keluarga dapat mendistorsi cara seseorang memandang dirinya sendiri serta cara mereka menjalin relasi dengan orang lain. 

Sebelum mencoba memperbaiki keadaan, seseorang perlu mengenali pola-pola emosional yang muncul akibat luka masa lalu tersebut.

Isu mengenai dampak perlakuan berbeda terhadap anak ini kembali menjadi sorotan publik menyusul kasus tragis pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara. 

Kasus tersebut memicu diskusi luas di media sosial, terutama mengenai tantangan menjadi "anak tengah". Diduga, pelaku dalam kasus tersebut merupakan anak tengah yang mendapatkan perlakuan berbeda dari anggota keluarga lainnya.

Proses Penerimaan yang Bertahap

Amalia mengingatkan bahwa proses berdamai dengan masa lalu adalah perjalanan panjang yang tidak bisa dipaksakan. 

Ia menilai penerimaan terhadap pengalaman pahit tersebut harus dilakukan secara perlahan dan penuh kesabaran terhadap diri sendiri.

“Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu-buru memaafkan semuanya. Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut,” tambahnya.

Setelah kesadaran terbentuk dan dampak-dampaknya teridentifikasi, barulah individu dapat mulai memperbaiki aspek-aspek kehidupan yang dirasa terganggu atau menghambat perkembangan diri mereka saat ini.

Kapan Harus ke Profesional?

Meski upaya mandiri dapat dilakukan, Amalia menggarisbawahi bahwa ada kalanya beban emosional yang dirasakan terlalu kuat untuk ditangani sendiri. 

Dalam kondisi di mana luka masa lalu terus membayangi dan sulit diatasi, mencari bantuan ahli adalah langkah yang sangat dianjurkan.

“Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional,” pungkasnya.

Dengan membangun kesadaran dan mencari bantuan yang tepat, diharapkan individu yang pernah mengalami perlakuan tidak adil di masa kecil dapat memutus rantai trauma dan menjalani kehidupan dewasa yang lebih sehat secara mental. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya