Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Forum Internasional di Mesir, Kemenag Perkenalkan Ekoteologi

Abdillah M Marzuqi
01/2/2026 15:05
Forum Internasional di Mesir, Kemenag Perkenalkan Ekoteologi
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Lubenah Amir saat menjadi pembicara dalam rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Mesir(Dok.HO)

KEMENTERIAN Agama memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial. Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Lubenah Amir menjelaskan agama memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan global, termasuk krisis ekologis dan kemanusiaan yang saling berkaitan. Dikatakannya, dunia modern saat ini dihadapkan pada berbagai krisis yang kompleks. 

“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar internasional yang digelar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Mesir, Sabtu (31/1). 

Ia menekankan bahwa agama tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai praktik ritual atau identitas formal, melainkan harus hadir sebagai kekuatan yang membangun relasi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” katanya.

Menurut Lubenah, inti ajaran Islam adalah rahmat atau kasih sayang yang bersifat universal dan melampaui batas ruang serta waktu. Konsep rahmat bagi seluruh alam tersebut menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam praktik kehidupan modern, nilai-nilai universal tersebut kerap mengalami fragmentasi dan terlepas dari kepekaan terhadap penderitaan manusia serta kerusakan lingkungan.

“Di sinilah pentingnya upaya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar sebagai wacana normatif, tetapi sebagai spirit yang hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari,” kata Lubenah.

Dalam kesempatan itu, Lubenah juga menyebut bahwa Kementerian Agama menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai salah satu prioritas kebijakan keagamaan. Kebijakan tersebut diwujudkan melalui pengembangan berbagai layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk dapat menjadi contoh dalam merawat harmoni sosial berbasis nilai keagamaan. “Cinta kemanusiaan menjadi landasan agar agama hadir sebagai kekuatan pemersatu, yang menumbuhkan saling pengertian, empati, dan kerja sama lintas iman dan budaya,” kata Lubenah.

Seminar internasional tersebut turut menghadirkan pembicara lain, yaitu Pengajar Universitas Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi serta Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Mesir Abdul Muta’ali. Seminar itu diikuti 150 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan keagamaan. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya