Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Ini Panduan untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi dan Hidrasi Anak yang Belajar Berpuasa

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 16:04
Ini Panduan untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi dan Hidrasi Anak yang Belajar Berpuasa
Ilustrasi(Freepik)

MENGAJARI anak berpuasa memerlukan pendekatan khusus, terutama dalam menjaga kecukupan asupan gizi dan cairan tubuh. 

Dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia, dr. Afiffa Mardhotillah, Sp. A, membagikan sejumlah langkah strategis bagi orangtua untuk memastikan buah hati tetap sehat dan bugar selama menjalani ibadah puasa.

Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak. Menurut Afiffa, orangtua wajib memantau kondisi kesehatan dan kematangan mental anak sebelum memulai proses belajar berpuasa.

"Beberapa hal yang perlu dipastikan adalah usia dan kesiapan mental anak. Pastikan si kecil sudah cukup matang serta pastikan anak dalam kondisi sehat," ujar Afiffa, dikutip Jumat (27/2).

Strategi Hidrasi: Rumus 25%

Tantangan terbesar bagi anak yang baru belajar berpuasa adalah menurunnya nafsu makan serta risiko dehidrasi. 

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya ini menjelaskan bahwa anak usia sekolah membutuhkan asupan cairan sekitar 1 hingga 2 liter per hari, tergantung pada berat badannya.

Untuk menyiasati agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi tanpa membuat anak merasa kembung, Afiffa menyarankan pembagian waktu minum secara berkala dengan porsi masing-masing 25%:

  1. 25% saat berbuka puasa.
  2. 25%* saat makan malam.
  3. 25% menjelang tidur.
  4. 25% saat sahur.

"Jika bosan minum air putih, infused water yang dicampur buah mungkin dapat menjadi solusi," tambahnya sebagai alternatif pemberi rasa alami yang sehat.

Keseimbangan Gizi dan Pemilihan Karbohidrat

Dari sisi nutrisi, orangtua didorong untuk menyajikan menu dengan komposisi karbohidrat, protein, lemak, dan serat yang seimbang. Kunci agar anak tidak cepat merasa lemas adalah pemilihan jenis karbohidrat yang tepat.

Sangat dianjurkan untuk mengutamakan karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, seperti nasi merah, kentang, atau oats. 

Jenis makanan ini dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga mampu menjaga rasa kenyang lebih lama. 

Sebaliknya, hindari makanan atau minuman yang terlalu tinggi gula saat sahur maupun berbuka. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya lonjakan gula darah yang terlalu cepat.

Untuk mendukung pertumbuhan, kebutuhan protein anak harus tercukupi minimal 10% hingga 15% dari total kalori harian. 

Afiffa juga menyarankan agar orangtua tetap fleksibel dalam menentukan jenis masakan. 

Memberikan menu yang disukai anak dapat menjadi motivasi tambahan agar mereka lebih bersemangat menjalankan ibadah puasa. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya