Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan anak yang sehat aman untuk berpuasa selama Ramadan asalkan asupan cairan dan nutrisi esensialnya dalam 24 jam terpenuhi saat berbuka dan sahur.
Untuk asupan cairan, dia mencontohkan, anak-anak usia enam hingga tujuh tahun, yang umumnya sudah dapat berpuasa, dengan berat badan 20 hingga 30 kg membutuhkan sekitar 1,5 hingga 1,7 liter cairan per hari.
"Tidak usah khawatir anak dehidrasi karena tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, karena kita penuhi kebutuhan cairan dari sahur, buka, dan setelah tarawih," ujar dia dalam media briefing Pengurus IDAI mengenai Puasa pada Anak secara daring, Kamis (6/4).
Baca juga : Olahan Ikan Laut Kata Nutrisi Ini Bantu Jaga Kesehatan saat Berpuasa
Selain cairan, Piprim mengatakan anak juga harus terpenuhi nutrisi esensialnya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, yang juga berperan menghindarkan dia dari stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.
Nutrisi esensial itu yakni asam amino esensial dan lemak esensial yang bisa diperoleh dari sumber protein hewani seperti ikan, ayam, telur, dan daging.
Seorang anak membutuhkan protein hewani sekitar dua gram per berat badannya. Anak usia enam tahun dengan berat badan 20 kg misalnya, membutuhkan sekitar dua gram dikali 20 yakni 40 gram protein hewani.
Baca juga : Sarat Gizi, Salad Buah Sangat Cocok untuk Berbuka Puasa
Jumlah ini dapat dipenuhi dengan enam hingga tujuh butir telur. Satu butir telur mengandung enam gram protein.
"Mungkin saat sahur dadar telur dengan tiga butir telur dan saat berbuka puasa tiga butir minimal. Tetapi kalau 40 gram dengan ikan, kira-kira satu ons ikan fillet mengandung 30 gram protein," jelas Piprim.
Dia menyarankan anak-anak dikurangi secara maksimal asupan makanan rendah nutrisi, tinggi gula dan tepung seperti kue-kue manis atau donat, baik saat berbuka puasa maupun sahur agar tidak mudah lapar saat berpuasa.
Baca juga : Pola Asuh Ikut Tentukan Kemampuan Puasa Anak
"Kalau anak diberi junk food tinggi gula dan tepung-tepungan dia akan glucose spike. Masalahnya dengan glucose spike, sesuatu yang naiknya cepat turunnya akan cepat. Ini akan ada glucose crush. Di sinilah anak akan merasa lapar lagi. Jadi mana kuat dia berpuasa kalau sahurnya donut, wafer yang manis-manis," pungkas Piprim, yang kembali menekankan pentingnya tercukupi kebutuhan protein hewaninya saat sahur maupun berbuka puasa. (Ant/Z-1)
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Puasa justru menjadi momentum terbaik untuk terapi lambung karena organ pencernaan mendapatkan waktu istirahat.
Ketidaksiapan mental sering kali memicu kecemasan saat menghadapi perubahan pola hidup selama sebulan penuh saat Ramadan.
Pemicu utama maag atau dispepsia adalah naiknya asam lambung akibat pola makan yang tidak terjaga.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Oahraga yang dilakukan sesaat setelah sahur sangat tidak dianjurkan. Hal ini karena aktivitas fisik di pagi hari saat berpuasa dapat memicu dehidrasi.
Pemilihan alas kaki seharusnya mengutamakan kenyamanan anak di atas fungsi korektif yang belum tentu diperlukan.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Jika kadar vitamin D rendah, kalsium yang seharusnya menjadi struktur utama kekuatan tulang tidak dapat terserap maksimal oleh tubuh.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved