Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Jangan Langsung Buka Puasa dengan Gorengan, Bisa Picu Mual hingga Asam Lambung

Basuki Eka Purnama
09/3/2026 07:16
Jangan Langsung Buka Puasa dengan Gorengan, Bisa Picu Mual hingga Asam Lambung
Ilustrasi--Pedagang menggoreng tahu untuk dijual di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (8/4/2022).(ANTARA/Sigid Kurniawan)

MENGONSUMSI gorengan seolah sudah menjadi tradisi tidak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia saat berbuka puasa. Namun, di balik kegurihannya, kebiasaan menyantap gorengan ketika perut dalam kondisi kosong ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan pencernaan.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Gizi., mengingatkan bahwa kandungan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi pada gorengan menjadi pemicu utamanya.

"Sebenarnya tidak dianjurkan untuk berbuka puasa dengan gorengan," tegas Karina dalam program IPB Pedia yang tayang di YouTube IPB TV.

Beban Berat bagi Pencernaan

Menurut Karina, lemak merupakan zat gizi yang jauh lebih sulit dan lama untuk dicerna dibandingkan karbohidrat. 

Masalah muncul karena setelah berpuasa seharian, sistem pencernaan manusia berada dalam kondisi istirahat atau "tidur" dalam waktu yang cukup lama.

Memasukkan makanan tinggi lemak secara tiba-tiba memaksa sistem pencernaan bekerja ekstra keras seketika. 

"Takutnya nanti ada gangguan di sistem pencernaan. Paling tidak mungkin sakit perut, mual, mules," jelasnya.

Selain risiko gangguan mekanis, gorengan juga menjadi ancaman bagi penderita gangguan lambung. Kondisi perut yang kosong cenderung memiliki tingkat asam lambung yang meningkat. Jika langsung dipicu oleh makanan berminyak, efeknya akan sangat menyakitkan.

"Bayangin ya, perut yang kosong, asam lambungnya meningkat. Kalau orang yang punya asam lambung itu pasti perih banget rasanya," tambah Karina.

Tips Konsumsi yang Aman

Meski tidak dianjurkan sebagai menu pembuka, Karina menyatakan bahwa masyarakat tetap boleh menikmati gorengan dengan syarat tertentu. Kuncinya terletak pada pengaturan waktu dan jumlah konsumsi.

"Makan gorengan saat berbuka puasa itu boleh, tapi dengan catatan, diberi jeda waktu dan tidak berlebihan," ujarnya.

Ia menyarankan agar perut diisi terlebih dahulu dengan makanan ringan yang lebih bersahabat atau makanan utama sebelum menyantap gorengan. Langkah ini dilakukan agar lambung memiliki waktu persiapan sebelum memproses lemak.

Lebih lanjut, Karina mengingatkan pentingnya membatasi jumlah gorengan yang dimakan. Konsumsi lemak berlebih yang dilakukan secara terus-menerus tanpa kontrol tidak hanya mengganggu pencernaan jangka pendek, tetapi juga berisiko memicu obesitas.

Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih menu berbuka demi menjaga kualitas kesehatan jangka panjang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya