Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Bahaya Tersembunyi di Balik Gorengan saat Berbuka Puasa

Basuki Eka Purnama
24/2/2026 12:06
Bahaya Tersembunyi di Balik Gorengan saat Berbuka Puasa
Ilustrasi--Pedagang menggoreng tahu untuk dijual di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (8/4/2022).(ANTARA/Sigid Kurniawan)

BAGI banyak orang, gorengan telah menjadi takjil "wajib" saat berbuka puasa. Namun, di balik kenikmatannya, kebiasaan ini menyimpan risiko kesehatan yang serius. 

Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan bahwa mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa dapat membebani kerja organ tubuh yang telah beristirahat selama kurang lebih 12 jam.

"Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh," ujar Yesi, dikutip Selasa (24/2).

Menurut Yesi, berbuka dengan gorengan menyebabkan asupan lemak menjadi berlebih. Dampaknya tidak main-main karena organ tubuh dipaksa bekerja ekstra keras secara tiba-tiba. 

Organ yang paling pertama terdampak adalah hati, tempat kelebihan lemak akan disimpan. Penumpukan lemak ini dapat memicu perlemakan hati yang, jika dibiarkan, berkembang menjadi peradangan, sirosis, hingga kanker hati.

Selain hati, konsumsi gorengan berlebih berisiko menyumbat pembuluh darah dan membebani jantung. 

"Hal ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga terjadi penyumbatan berisiko terjadi aterosklerosis dan penyakit jantung koroner," jelas Yesi.

Dampak negatifnya juga meluas ke pankreas dan empedu, yang berisiko menyebabkan resistensi insulin hingga diabetes. Ginjal pun dipaksa bekerja lebih keras, yang berpotensi memicu penyakit ginjal kronik. 

Sementara itu, lemak yang menumpuk di area perut dapat menekan diafragma dan menyebabkan sesak napas, serta berisiko mengganggu sistem reproduksi akibat ketidakseimbangan hormon.

Bagi mereka yang sudah mengalami kegemukan atau obesitas, risiko ini jauh lebih besar. Jika kebiasaan makan gorengan dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi asupan serat dan aktivitas fisik, tubuh akan mengalami penumpukan lemak ekstrem. 

"Maka terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh yang sangat berisiko terjadi obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker dan penyakit lainnya," tambahnya.

Saran Konsumsi dan Alternatif Sehat

Yesi memberikan panduan praktis untuk menjaga kesehatan selama puasa. Bagi individu dengan status gizi normal, batas aman konsumsi gorengan adalah maksimal dua buah sehari, dengan catatan tidak ada asupan lain yang diolah dengan digoreng atau bersantan. 

Bagi penderita obesitas, gorengan tidak dianjurkan, namun jika ingin mengonsumsi, dibatasi maksimal satu kali dalam seminggu. Selain itu, pastikan minyak yang digunakan adalah minyak baru, bukan minyak bekas.

Sebagai alternatif takjil yang lebih baik bagi metabolisme, Yesi menyarankan untuk memulai berbuka dengan air putih. 

Selanjutnya, pilihlah takjil yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit untuk mengganti cairan tubuh, seperti kurma, air kelapa, buah-buahan, atau salad buah. 

Dengan beralih ke pilihan yang lebih sehat, tubuh akan tetap bugar tanpa harus menanggung beban kerja organ yang berlebihan selama bulan Ramadan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya