Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Menemukan Resiliensi Keluarga di Meja Buka Puasa

Basuki Eka Purnama
17/3/2026 09:02
Menemukan Resiliensi Keluarga di Meja Buka Puasa
Ilustrasi(Freepik)

MOMEN berbuka puasa bersama keluarga menyimpan makna sosial dan psikologis yang jauh lebih dalam dibandingkan waktu makan pada hari biasa. Di balik hidangan yang tersaji, terselip ruang strategis untuk memperkuat relasi dan ketahanan emosional antaranggota keluarga.

Menurut Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Prof. Euis Sunarti, saat berbuka adalah puncak kebahagiaan setelah seharian menahan lapar dan haus. Di sinilah keluarga berkumpul, berbincang, dan berdoa bersama pada waktu yang diyakini mustajab.

Lebih dari Sekadar Makan Bersama

Dalam perspektif ilmu keluarga, interaksi di meja buka puasa menjadi wahana untuk membangun kohesi dan keterikatan (bonding). Prof. Euis menjelaskan bahwa momen ini berkontribusi besar pada penguatan fungsi ekspresif keluarga, mulai dari aspek agama hingga kasih sayang.

MI/HO--Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Prof. Euis Sunarti

"Dalam ilmu keluarga, momen seperti ini menjadi wahana membangun tipologi keluarga regeneratif, resilien, rhythmic, dan tradisionalistik. Keluarga meningkatkan kohesi dan bonding, memperkuat kebersamaan melalui family time and routine, sekaligus memaknai waktu dan rutinitas tersebut dengan lebih dalam," ujarnya.

Atmosfer kebersamaan saat menunggu azan Magrib, seperti saling mengingatkan waktu berdoa dan berbagi cerita ringan, menjadi faktor kunci dalam membangun kelekatan emosional. Situasi yang penuh syukur ini secara otomatis meningkatkan ketahanan sosial-psikologis keluarga.

Investasi dalam Percakapan Ringan

Banyak yang tidak menyadari bahwa obrolan santai sambil menunggu beduk adalah bentuk investasi jangka panjang. Prof. Euis menekankan bahwa dialog tersebut membantu setiap anggota keluarga merasa diterima dan dipahami.

"Percakapan ringan saat menunggu waktu berbuka pun memiliki peran penting. Interaksi tersebut dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan satu sama lain, membangun konsep diri yang positif, serta menjadi investasi dalam komponen resiliensi keluarga," paparnya.

Melalui kebiasaan ini, nilai-nilai seperti saling peduli, berbagi, dan menghargai satu sama lain kembali diperkuat. Ramadan seolah mengingatkan kembali bahwa keluarga adalah institusi tempat setiap individu saling terikat dan membutuhkan.

Kehadiran Jiwa di Meja Makan

Tantangan utama dalam buka puasa bersama bukanlah pada menu yang disajikan, melainkan pada kualitas kehadiran. Prof. Euis menyarankan agar setiap anggota keluarga hadir secara utuh—tidak hanya raga, tetapi juga jiwa.

Bagi keluarga yang terkendala kesibukan pekerjaan, frekuensi pertemuan memang menjadi tantangan. Namun, hal tersebut bisa dikompensasi dengan meningkatkan kualitas komunikasi saat momen berbuka akhirnya tiba.

"Yang terpenting bukan hanya frekuensi pertemuan, tetapi kualitas komunikasi dan pemaknaan kebersamaan," pungkas Prof. Euis. 

Dengan pemaknaan yang tepat, momen berbuka puasa akan menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan keluarga di masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik