Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bulan Ramadan, banyak orang menyadari bahwa waktu berbuka puasa tidak pernah benar-benar sama dari hari ke hari. Jadwal berbuka biasanya bergeser beberapa menit setiap harinya. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan, mengapa waktu buka puasa bisa berubah dan tidak tetap seperti jadwal harian lainnya.
Perubahan waktu berbuka sebenarnya bukan disebabkan oleh kesalahan kalender atau perubahan kebiasaan dalam penentuan waktu ibadah. Pergeseran tersebut berkaitan langsung dengan fenomena astronomi, khususnya pergerakan bumi dan posisi matahari yang terus berubah setiap hari.
Dalam penentuan waktu berbuka puasa, patokan utamanya adalah saat matahari terbenam atau waktu magrib. Karena posisi matahari yang terlihat dari Bumi terus berubah akibat rotasi dan revolusi bumi, waktu terbenamnya matahari pun tidak pernah benar-benar sama dari satu hari ke hari berikutnya. Biasanya pergeseran ini hanya berkisar satu hingga beberapa menit setiap hari, tetapi jika diakumulasi selama satu bulan, perubahannya bisa mencapai lebih dari sepuluh menit.
Fenomena ini berkaitan dengan rotasi dan revolusi Bumi. Planet kita berputar pada porosnya sekaligus mengelilingi Matahari dalam orbit. Ketika Bumi berotasi, garis cakrawala yang menutupi matahari bergerak secara perlahan, sehingga waktu matahari menghilang di ufuk barat juga ikut bergeser dari hari ke hari.
Selain faktor pergerakan Bumi, perbedaan geografis juga memengaruhi waktu terbenamnya matahari. Setiap wilayah memiliki posisi lintang, bujur, serta ketinggian tempat yang berbeda. Kondisi tersebut membuat sudut pandang terhadap matahari tidak sama. Misalnya, daerah yang berada di dataran tinggi sering kali melihat Matahari terbenam sedikit lebih lambat dibanding wilayah yang berada di lembah atau tertutup pegunungan.
Akibatnya, jadwal buka puasa di beberapa kota bisa berbeda beberapa menit meskipun masih berada dalam satu zona waktu. Perbedaan ini merupakan hal yang normal dan memang diperhitungkan dalam penyusunan jadwal salat dan imsakiyah di setiap daerah.
Faktor lain yang memengaruhi perubahan waktu berbuka adalah kemiringan sumbu bumi. Sumbu rotasi bumi diketahui miring sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya. Kemiringan ini menyebabkan posisi Matahari tampak bergerak naik dan turun sepanjang tahun, yang kemudian memengaruhi panjang pendeknya durasi siang.
Ketika posisi matahari tampak lebih tinggi di langit, durasi siang menjadi lebih panjang sehingga Matahari terbenam lebih lambat. Sebaliknya, ketika posisinya lebih rendah, siang hari menjadi lebih pendek dan waktu terbenam datang lebih cepat. Inilah sebabnya mengapa menjelang akhir Ramadan di beberapa wilayah, waktu berbuka sering terasa sedikit lebih maju dibanding hari-hari sebelumnya.
Selain itu, bentuk orbit Bumi yang tidak sepenuhnya bulat juga memiliki pengaruh. Orbit Bumi berbentuk elips, sehingga jarak antara Bumi dan Matahari tidak selalu sama sepanjang tahun. Perbedaan jarak ini membuat kecepatan Bumi dalam mengelilingi Matahari juga sedikit berubah, yang secara tidak langsung turut memengaruhi waktu Matahari mencapai cakrawala.
Perubahan waktu berbuka juga dipengaruhi oleh sistem kalender yang digunakan. Kalender Hijriah yang dipakai untuk menentukan Ramadan berbasis pada peredaran Bulan, berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti peredaran matahari. Karena itu, setiap tahun Ramadan maju sekitar 10 hingga 11 hari lebih awal dalam kalender Masehi.
Akibat pergeseran ini, Ramadan bisa jatuh pada musim yang berbeda setiap tahunnya. Jika Ramadan berlangsung saat periode dengan durasi siang lebih panjang, waktu puasa terasa lebih lama. Sebaliknya, ketika Ramadan terjadi pada periode dengan siang lebih pendek, waktu berbuka datang lebih cepat.
Dengan memahami faktor-faktor astronomi tersebut, perubahan waktu buka puasa sebenarnya menjadi hal yang wajar. Pergeseran beberapa menit setiap hari merupakan bagian dari dinamika alam semesta, yang menunjukkan bagaimana aktivitas manusia, termasuk ibadah, berkaitan erat dengan pergerakan benda langit dalam sistem tata surya.
Sumber: Umsiba dan Qoo100
Simak jadwal fase Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 di Aceh. Cek waktu puncak, fase yang terlihat, dan imbauan shalat khusuf dari BMKG & Kemenag.
BMKG memastikan akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) pada Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena alam ini dapat diamati secara langsung dari berbagai wilayah di Indonesia.
Panduan lengkap cara melihat parade 6 planet sejajar pada Februari 2026 di Indonesia. Waktu terbaik, lokasi, dan alat yang dibutuhkan. Cek di sini!
Pelajari apa itu Gerhana Bulan Total, proses terjadinya, hingga alasan mengapa bulan berwarna merah (Blood Moon). Cek juga jadwal gerhana tahun 2026!
Sejumlah stasiun penelitian telah mengonfirmasi kesiapan observasi. Di antaranya adalah Stasiun Penelitian Concordia yang dikelola Prancis dan Italia, serta Stasiun Mirny milik Rusia
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, optimalisasi zakat nasional belum menunjukkan lompatan yang sepadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved