Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Pembangunan Ramah Keluarga Kunci Bangsa Beradab

Basuki Eka Purnama
05/4/2026 15:26
Pembangunan Ramah Keluarga Kunci Bangsa Beradab
Ilustrasi(Freepik)

GURU Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Euis Sunarti, menegaskan bahwa pembangunan ramah keluarga merupakan prasyarat mutlak dalam mewujudkan individu berkualitas, masyarakat madani, serta bangsa yang beradab. Konsep ini menempatkan keluarga bukan sekadar unit sosial terkecil, melainkan basis utama dalam perumusan kebijakan lintas sektor pembangunan nasional.

Dalam program IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV, Prof Euis menjelaskan bahwa gagasan pembangunan ramah keluarga lahir dari perjalanan akademik panjang. Ia menyoroti bahwa idealnya pembangunan harus bermuara pada keluarga yang berketahanan, sejahtera, dan berkualitas.

"Namun, faktanya masih terdapat kesenjangan. Memang masih ada gap di situ," ujar Prof Euis dikutip Minggu (5/4).

Ia mengidentifikasi sejumlah faktor laten yang terus mengancam ketahanan keluarga di Indonesia, mulai dari tekanan ekonomi, kemiskinan, kerentanan sosial, hingga ancaman terhadap tumbuh kembang anak dan remaja.

Kebijakan Lintas Sektor Berdampak pada Keluarga

Prof Euis menekankan bahwa setiap kebijakan pemerintah, baik yang secara eksplisit menyasar keluarga maupun tidak, pasti memiliki dampak terhadap kualitas kehidupan domestik. Kebijakan pajak, aturan ketenagakerjaan, sistem pengupahan, hingga kurikulum pendidikan dan arah industri memiliki implikasi langsung maupun tidak langsung.

Oleh karena itu, integrasi kebijakan lintas sektor menjadi sangat krusial agar tidak terjadi tumpang tindih atau pertentangan yang justru merugikan keluarga.

"Semua pihak harus memikirkan bahwa kebijakan dan programnya akan berdampak kepada keluarga, sehingga harus mencari mana yang terbaik agar keluarga dapat menjalankan peran dan fungsinya," jelasnya.

Salah satu isu krusial yang disoroti adalah kesehatan mental generasi muda. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat urgensi besar untuk melakukan intervensi komprehensif terhadap remaja Indonesia.

Indikator Masalah Temuan/Data
Tingkat Depresi Remaja Tinggi (Berdasarkan survei kesehatan terbaru)
Akses Bantuan Kesehatan Mental Hanya sekitar 10% yang mendapatkan bantuan
Faktor Tekanan Utama Ekonomi, kemiskinan, dan kerentanan sosial

Implementasi Wilayah dan Pekerjaan Ramah Keluarga

Untuk mewujudkan konsep tersebut, Prof Euis mengusulkan tiga pilar implementasi di tingkat tapak, yaitu:

  • Wilayah Ramah Keluarga: Penataan ruang yang mendekatkan tempat kerja dengan hunian untuk mengurangi beban stres perjalanan.
  • Pekerjaan Ramah Keluarga: Penerapan sistem kerja fleksibel berbasis output yang memungkinkan orang tua tetap menjalankan fungsi pengasuhan.
  • Kampung Ramah Keluarga: Penciptaan lingkungan sosial yang saling peduli dan mendukung keamanan serta tumbuh kembang anak.

Dalam hal ini, pemerintah memegang peran sebagai aktor utama melalui regulasi dan koordinasi lintas kementerian. Sementara itu, kalangan akademisi berperan melalui Tridarma Perguruan Tinggi untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis data dan inovasi pendukung.

Menutup penjelasannya, Prof Euis memberikan pesan khusus bagi generasi muda sebagai calon pembangun keluarga. Ia meminta mereka menyiapkan kematangan secara holistik, mulai dari aspek fisik, mental, sosial, emosional, hingga moral dan spiritual.

"Penuhi prestasi perkembangannya sesuai umur, lalu tingkatkan kapasitasnya. Insyaallah bisa membangun keluarga yang berketahanan," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik