Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi. mengingatkan bahwa pola asuh di rumah bisa menjadi pemicu perilaku anak dan remaja melakukan kekerasan.
Menurut dia, anak yang mengalami pola asuh yang buruk seperti mengalami perundungan secara tidak langsung di rumah bisa berdampak pada diri mereka yang cenderung melampiaskan perilakunya di luar lingkungan itu.
"Bisa berdampak pada diri mereka sehingga agresivitasnya tidak bisa disalurkan di rumah, bisa dijadikan satu senjata untuk melakukannya di
sekolah," kata psikolog yang biasa disapa Romi itu, dikutip Rabu (12/11).
Menurut dia, rumah sering menjadi tempat pertama anak mengalami bentuk perundungan atau bullying, seperti adanya tekanan, rasa tidak aman, atau kekerasan emosional di rumah berpotensi menyalurkan amarahnya melalui perilaku agresif di sekolah.
"Karena bisa saja apa yang terjadi di sekolah, bullying yang dijadikan itu bukan trigger saja, bukanlah penyebab utamanya. Dan makanya
dia kemudian menjadi bertindak kasar, agresif, melampiaskan apa yang tidak nyaman bagi dirinya," tutur dia.
Romi mengatakan anak atau remaja melakukan tindakan kekerasan tidak semata-mata muncul karena pengaruh tontonan, tetapi juga ada proses pembentukan perilaku yang terjadi melalui modeling atau meniru.
Dalam hal ini, ketika anak menunjukkan agresivitas seperti membawa benda tajam, penting bagi orang tua untuk melihat lebih dalam apa yang terjadi dalam kehidupan emosional anak.
"Itu yang mesti dicek lagi juga apa sih yang ada di dalam kehidupannya, jangan-jangan banyak sekali dendam, banyak sekali amarah
sehingga anak itu melampiaskannya dengan cara yang tidak wajar," ujar dia.
Romi menyampaikan sejumlah tanda dini yang bisa dikenali orangtua sebelum anak bertindak agresif atau melakukan kekerasan, indikasinya seperti berperilaku menjadi lebih pendiam atau kelihatan tidak tenang.
"Kalaupun dia punya teman, biasanya banyak meminta orang untuk mendukung dia. Dan dari perilaku dengan orang tuanya mungkin lebih tidak
mau mengungkapkan dan kelihatan lebih aneh daripada biasanya," katanya.
Lebih lanjut, Romi menegaskan bahwa pentingnya orangtua mengajarkan anak sejak dini tentang moral sebagai dasar bagi manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Menurut dia, pengajaran tentang moral itu perlu dikembangkan dengan nilai-nilai seperti empati, kontrol diri, nurani, toleransi, kebaikan, rasa hormat, dan keadilan dalam mencegah anak melakukan tindakan kekerasan.
"Kalau anak ini punya empati, dia tidak akan melakukan sesuatu yang melukai temannya karena dia berempati bahwa kalau diperlakukan itu
kepada dia akan menjadi tidak nyaman. Jadi ini semua dikembangkan secara simultan sejak usia dini," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved