Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi. mengingatkan bahwa pola asuh di rumah bisa menjadi pemicu perilaku anak dan remaja melakukan kekerasan.
Menurut dia, anak yang mengalami pola asuh yang buruk seperti mengalami perundungan secara tidak langsung di rumah bisa berdampak pada diri mereka yang cenderung melampiaskan perilakunya di luar lingkungan itu.
"Bisa berdampak pada diri mereka sehingga agresivitasnya tidak bisa disalurkan di rumah, bisa dijadikan satu senjata untuk melakukannya di
sekolah," kata psikolog yang biasa disapa Romi itu, dikutip Rabu (12/11).
Menurut dia, rumah sering menjadi tempat pertama anak mengalami bentuk perundungan atau bullying, seperti adanya tekanan, rasa tidak aman, atau kekerasan emosional di rumah berpotensi menyalurkan amarahnya melalui perilaku agresif di sekolah.
"Karena bisa saja apa yang terjadi di sekolah, bullying yang dijadikan itu bukan trigger saja, bukanlah penyebab utamanya. Dan makanya
dia kemudian menjadi bertindak kasar, agresif, melampiaskan apa yang tidak nyaman bagi dirinya," tutur dia.
Romi mengatakan anak atau remaja melakukan tindakan kekerasan tidak semata-mata muncul karena pengaruh tontonan, tetapi juga ada proses pembentukan perilaku yang terjadi melalui modeling atau meniru.
Dalam hal ini, ketika anak menunjukkan agresivitas seperti membawa benda tajam, penting bagi orang tua untuk melihat lebih dalam apa yang terjadi dalam kehidupan emosional anak.
"Itu yang mesti dicek lagi juga apa sih yang ada di dalam kehidupannya, jangan-jangan banyak sekali dendam, banyak sekali amarah
sehingga anak itu melampiaskannya dengan cara yang tidak wajar," ujar dia.
Romi menyampaikan sejumlah tanda dini yang bisa dikenali orangtua sebelum anak bertindak agresif atau melakukan kekerasan, indikasinya seperti berperilaku menjadi lebih pendiam atau kelihatan tidak tenang.
"Kalaupun dia punya teman, biasanya banyak meminta orang untuk mendukung dia. Dan dari perilaku dengan orang tuanya mungkin lebih tidak
mau mengungkapkan dan kelihatan lebih aneh daripada biasanya," katanya.
Lebih lanjut, Romi menegaskan bahwa pentingnya orangtua mengajarkan anak sejak dini tentang moral sebagai dasar bagi manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Menurut dia, pengajaran tentang moral itu perlu dikembangkan dengan nilai-nilai seperti empati, kontrol diri, nurani, toleransi, kebaikan, rasa hormat, dan keadilan dalam mencegah anak melakukan tindakan kekerasan.
"Kalau anak ini punya empati, dia tidak akan melakukan sesuatu yang melukai temannya karena dia berempati bahwa kalau diperlakukan itu
kepada dia akan menjadi tidak nyaman. Jadi ini semua dikembangkan secara simultan sejak usia dini," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved