Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Intervensi Sederhana Ini Terbukti Lipat Gandakan Empati Remaja Jakarta

Basuki Eka Purnama
03/3/2026 20:52
Intervensi Sederhana Ini Terbukti Lipat Gandakan Empati Remaja Jakarta
Konferensi pers eksperimen CekTemanSebelah(MI/HO)

DI tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kesehatan mental generasi muda, sebuah eksperimen sosial di Jakarta memberikan secercah harapan. Program bertajuk CekTemanSebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman” membuktikan bahwa intervensi sederhana di lingkungan sekolah mampu meningkatkan empati dan sikap prososial remaja secara signifikan.

Program yang diinisiasi oleh Health Collaborative Center (HCC) ini melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta. Selama 10 hari, para siswa diminta mempraktikkan metode tootling, yaitu melaporkan tindakan positif teman sebaya secara terstruktur. Hasilnya mengejutkan: terkumpul 4.710 laporan kebaikan, yang berarti terjadi daya multiplikasi 10 kali lipat hanya dalam waktu singkat.

Ketua HCC sekaligus pemimpin eksperimen, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa dampak psikososial dari program ini sangat nyata. Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain (perspective-taking).

“Di akhir eksperimen ini terdapat 4.710 laporan kebaikan yang terkumpul hanya dalam 10 hari. Artinya ada daya multiplikasi 10 kali lipat dalam satu intervensi sederhana. Bahkan delapan dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program,” ujar Ray.

Transformasi Suasana Kelas

Dampak dari eksperimen ini tidak hanya terlihat pada data statistik, tetapi juga dirasakan langsung di ruang kelas. Naeni Rohmawati, S.Pd, Guru Bimbingan Konseling MAN 2 Jakarta Timur, mengamati perubahan atmosfer belajar yang menjadi lebih hangat.

“Sebagai guru BK, saya melihat langsung bagaimana suasana kelas berubah selama program ini. Siswa yang biasanya pasif mulai berani mengapresiasi temannya. Program ini sederhana, tetapi dampaknya nyata—empati tumbuh, interaksi menjadi lebih hangat, dan ruang kelas terasa lebih aman secara emosional,” ungkapnya.

Para siswa pun merasakan dampak personal yang positif. Donita Putri Shanum, siswa kelas X-D, mengaku awalnya menganggap ini hanya tugas menulis biasa. Namun, ia kemudian menyadari bahwa di sekitarnya banyak hal baik yang sering terlewat. 

Sementara itu, Muhammad Khoirul Anam dari kelas XI-G merasa hubungan antarteman menjadi lebih solid dan saling menghargai.

Motivasi dan Dinamika Sosial

Dari sisi motivasi, mayoritas siswa (77%) melaporkan kebaikan sebagai bentuk ucapan terima kasih, diikuti oleh keinginan untuk memberi apresiasi (71%) dan menginspirasi teman lain (41%).

Data juga menangkap dinamika gender yang menarik: siswa perempuan memiliki peluang 34 kali lebih besar untuk melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan. Temuan ini menjadi catatan penting bagi pengembangan strategi intervensi sosial di masa depan.

Psikolog Klinis Sulastry Pardede, Psi, menegaskan bahwa pelatihan perilaku prososial melalui pendekatan tootling ini efektif dalam membentuk reaksi sosial positif dan memperkuat solidaritas antar teman sebaya. 

Dengan hasil ini, pendekatan berbasis kekuatan (strength-based) seperti CekTemanSebelah 2.0 berpotensi menjadi model promosi kesehatan mental yang berkelanjutan di sekolah-sekolah Indonesia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya