Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Menjaga Nyala Empati Tanpa Harus Kehilangan Diri: Memahami Compassion Fatigue

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 18:12
Menjaga Nyala Empati Tanpa Harus Kehilangan Diri: Memahami Compassion Fatigue
Ilustrasi--Relawan bermain bersama murid SDN 173149 Parsingkaman saat kegiatan trauma healing penyintas bencana di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Sabtu (24/1/2026)(ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

RASA empati yang tinggi merupakan modal kemanusiaan yang mulia, terutama saat menghadapi situasi krisis berkepanjangan seperti bencana alam. Namun, tanpa batasan yang sehat, kepedulian tersebut justru dapat berbalik menjadi bumerang bagi kesehatan mental.

Psikolog klinis dari Universitas Padjajaran, Virginia Hanny, M.Psi., mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan emosional agar seseorang tidak terjebak dalam kondisi compassion fatigue atau kelelahan emosional. 

Kondisi ini sering kali menghantui mereka yang berada di garis depan bantuan atau masyarakat yang terlalu dalam menyerap duka publik.

"Kelelahan emosional yang dapat dialami oleh tenaga kesehatan, relawan atau masyarakat yang sangat terlibat secara emosional," ujar Virginia, dikutip Rabu (28/1).

Memahami Batasan Psikologis

Menurut praktisi dari Personal Growth ini, kelelahan emosional membuat seorang penolong merasa kewalahan hingga berisiko mengalami trauma sekunder saat berusaha membantu orang lain. 

Untuk mencegah hal tersebut, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membedakan antara empati dan keterlibatan berlebihan (over-involvement).

Seseorang perlu memiliki kepedulian tanpa harus larut sepenuhnya dalam penderitaan orang lain. Hal ini dilakukan dengan membangun benteng pertahanan mental atau psychological boundaries.

“Membangun psychological boundaries, di mana kita harus menyadari bahwa kita dapat peduli tanpa harus bertanggung jawab atas semua penderitaan yang dirasakan oleh orang lain,” tutur Virginia.

Mengakui Keterbatasan dan Melakukan Jeda

Lebih lanjut, Virginia menekankan bahwa setiap individu memiliki kapasitas emosional yang terbatas. Menyadari bahwa kita tidak dapat membantu semua orang bukan berarti bentuk ketidakpedulian, melainkan sikap realistis untuk menjaga keberlangsungan bantuan itu sendiri.

Salah satu pemicu utama stres di era digital adalah paparan konten yang berat. Virginia menyarankan masyarakat untuk berani mengambil jeda dari informasi yang mengandung gambar, video, atau narasi emosional yang intens. 

Sebagai gantinya, waktu tersebut sebaiknya diisi dengan aktivitas pemulihan diri seperti refleksi, olahraga, atau kegiatan kreatif.

Menjaga batasan sehat adalah bentuk upaya menjaga kesehatan mental agar empati tidak padam di tengah jalan.

“Penting untuk diingat bahwa melakukan hal-hal tersebut bukan berarti mengurangi kepedulian terhadap para korban, melainkan sebagai upaya menjaga diri agar empati dapat tetap terjaga dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya