Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Waspada Kelelahan Mental Akibat Paparan Berita Bencana, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 07:03
Waspada Kelelahan Mental Akibat Paparan Berita Bencana, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi(Freepik)

ARUS informasi mengenai bencana yang datang bertubi-tubi melalui media sosial maupun media massa ternyata memiliki dampak serius bagi kesehatan jiwa. Psikolog klinis dari Personal Growth, Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa paparan berita bencana secara terus-menerus dapat memicu kelelahan mental, bahkan bagi mereka yang berada jauh dari lokasi kejadian.

Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai vicarious trauma atau trauma sekunder. 

Menurut Virginia, kondisi ini menggambarkan dampak psikologis yang dialami individu setelah terpapar pengalaman traumatis orang lain secara tidak langsung.

"Fenomena ini banyak dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma. Hal ini menggambarkan kondisi psikologis yang dialami seorang individu setelah secara tidak langsung terpapar pengalaman traumatis orang lain," ujar psikolog lulusan Universitas Padjadjaran tersebut, dikutip Rabu (28/1).

Respon Stres yang Nyata

Berdasarkan penelitian, paparan berulang terhadap konten bencana, baik berupa gambar, video, maupun narasi emosional, dapat memicu respon stres yang serupa dengan mereka yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung. 

Rasa sedih, cemas, atau lelah secara mental merupakan reaksi emosional yang wajar di tengah situasi krisis yang berkepanjangan.

Namun, Virginia memberikan catatan penting mengenai kapan kondisi ini harus mulai diwaspadai secara serius. 

"Ketika emosi negatif intens dan menetap lebih dari dua minggu tanpa perbaikan hingga kesulitan tidur atau mimpi buruk terus-menerus," tegasnya.

Tanda-tanda lain yang perlu diperhatikan meliputi perasaan putus asa, mati rasa emosional, rasa bersalah yang berlebihan, hingga gangguan fungsi dalam aktivitas harian seperti pekerjaan, sekolah, dan relasi sosial. 

Perilaku ekstrem seperti menghindari berita sama sekali atau sebaliknya, melakukan pengecekan berita secara kompulsif, juga menjadi indikator adanya masalah.

Langkah Mitigasi dan Batasan Diri

Untuk mencegah kelelahan mental yang lebih dalam, Virginia menyarankan masyarakat untuk mulai mengatur konsumsi informasi mereka. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan membatasi durasi membaca atau menonton berita, misalnya cukup 1-2 kali sehari melalui sumber yang tepercaya.

Selain itu, penting bagi setiap individu untuk membangun benteng emosional. 

"Menyadari boundaries pribadi, dan menyadari juga bahwa empati tidak berarti harus menyerap semua perasaan yang dirasakan oleh para korban," tutur Virginia.

Jika perasaan cemas mulai melanda, teknik grounding seperti mengatur pernapasan dalam atau berfokus pada sensasi tubuh dapat membantu menenangkan sistem saraf. 

Jika kondisi memungkinkan, mengubah kecemasan menjadi aksi nyata seperti donasi atau menjadi relawan juga sangat disarankan untuk menyeimbangkan kondisi psikologis.

Virginia mengingatkan agar siapa pun yang merasa gejalanya semakin memburuk atau mulai muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri agar segera mencari bantuan ahli. 

"Apabila gejala-gejala ini sangat mengganggu keberfungsian atau semakin memburuk, maka individu sangat disarankan untuk mencari bantuan professional seperti psikiater atau psikolog klinis untuk memprosesnya," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya