Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGHADAPI orang yang tengah dirundung duka sering kali memicu kecanggungan. Niat hati ingin menghibur atau menunjukkan kepedulian, namun tanpa disadari, pertanyaan yang kita ajukan justru bisa menggores luka yang lebih dalam.
Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menjaga lisan saat berhadapan dengan individu yang baru saja kehilangan orang terkasih.
Menurutnya, ada batasan-batasan komunikasi yang harus dipahami agar dukungan yang diberikan tidak berubah menjadi beban mental tambahan bagi yang berduka.
Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah rasa ingin tahu yang terlalu besar terhadap penyebab kematian.
Ratriana menyarankan agar kita tidak langsung menanyakan detail kejadian yang bersifat teknis maupun kronologis.
"Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan," ujar Ratriana, dikutip Selasa (27/1).
Ia menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya diajukan jika pihak yang berduka sudah lebih dulu membuka cerita secara sukarela.
Memaksa mereka menceritakan detail kejadian dapat memicu trauma karena mereka harus mengulang kembali momen menyakitkan tersebut di saat kondisi emosionalnya belum stabil atau belum siap untuk berbagi.
Selain detail kronologis, hal krusial lainnya yang harus dihindari adalah pertanyaan yang mengandung nada menyalahkan (blaming), meskipun dibalut dengan kesan "penasaran" atau "peduli".
Contohnya, mempertanyakan mengapa korban tidak segera dibawa ke rumah sakit atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat.
Ratriana memperingatkan bahwa pertanyaan seperti ini memiliki dampak psikologis yang serius.
"Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi," ungkapnya.
Kalimat penyemangat seperti "kamu harus kuat" atau "harus tabah" mungkin terdengar positif, namun bagi mereka yang sedang berproses dengan kehilangan, kalimat ini justru bisa bersifat toksik.
Ratriana, yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, menyebutkan bahwa permintaan untuk bersikap kuat dapat merampas ruang bagi seseorang untuk merasa rapuh.
"Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya," jelasnya.
Terakhir, sangat dilarang untuk membandingkan pengalaman duka antara satu orang dengan orang lain.
Setiap individu memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam memproses kesedihan.
Saling mengadu nasib atau membandingkan penderitaan hanya akan membuat orang yang ditinggalkan merasa tidak dipahami dan pengalaman emosionalnya seolah diabaikan.
Pada akhirnya, dukungan terbaik tidak selalu berupa kata-kata panjang atau nasihat. Hadir secara nyata, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi mereka untuk menyembuhkan luka perlahan-lahan adalah bentuk empati yang paling dibutuhkan oleh mereka yang sedang berduka. (Ant/Z-1)
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa ayahanda mendiang dokter Aulia telah menjalani perawatan di RSUP dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, selama tiga hari.
Proses berduka setelah kehilangan orang yang dicintai mencakup beberapa tahapan, yang dimulai dari tahap tidak percaya.
Petenis peringakt dua dunia Aryna Sabalenka mengalami kehancuran setelah kematian mantan kekasihnya, Konstantin Koltsov, yang meninggal dalam kejadian tragis.
Belakangan ini, beberapa perusahaan Tiongkok mengklaim telah menciptakan ribuan "manusia digital" hanya dari materi audiovisual almarhum yang berdurasi 30 detik.
Belum ada keputusan terkait apakah Anthony Sinisuka Ginting akan ikut serta bertanding di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2023 di Denmark, 21-27 Agustus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved