Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Seni Berempati: Menjaga Lisan di Hadapan Mereka yang Sedang Berduka

Basuki Eka Purnama
27/1/2026 16:40
Seni Berempati: Menjaga Lisan di Hadapan Mereka yang Sedang Berduka
Ilustrasi(Freepik)

MENGHADAPI orang yang tengah dirundung duka sering kali memicu kecanggungan. Niat hati ingin menghibur atau menunjukkan kepedulian, namun tanpa disadari, pertanyaan yang kita ajukan justru bisa menggores luka yang lebih dalam.

Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menjaga lisan saat berhadapan dengan individu yang baru saja kehilangan orang terkasih. 

Menurutnya, ada batasan-batasan komunikasi yang harus dipahami agar dukungan yang diberikan tidak berubah menjadi beban mental tambahan bagi yang berduka.

Hindari Pertanyaan Detail dan Kronologis

Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah rasa ingin tahu yang terlalu besar terhadap penyebab kematian. 

Ratriana menyarankan agar kita tidak langsung menanyakan detail kejadian yang bersifat teknis maupun kronologis.

"Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan," ujar Ratriana, dikutip Selasa (27/1).

Ia menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya diajukan jika pihak yang berduka sudah lebih dulu membuka cerita secara sukarela. 

Memaksa mereka menceritakan detail kejadian dapat memicu trauma karena mereka harus mengulang kembali momen menyakitkan tersebut di saat kondisi emosionalnya belum stabil atau belum siap untuk berbagi.

Waspadai Nada yang Menyudutkan

Selain detail kronologis, hal krusial lainnya yang harus dihindari adalah pertanyaan yang mengandung nada menyalahkan (blaming), meskipun dibalut dengan kesan "penasaran" atau "peduli". 

Contohnya, mempertanyakan mengapa korban tidak segera dibawa ke rumah sakit atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat.

Ratriana memperingatkan bahwa pertanyaan seperti ini memiliki dampak psikologis yang serius. 

"Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi," ungkapnya.

Berhenti Meminta untuk "Kuat"

Kalimat penyemangat seperti "kamu harus kuat" atau "harus tabah" mungkin terdengar positif, namun bagi mereka yang sedang berproses dengan kehilangan, kalimat ini justru bisa bersifat toksik. 

Ratriana, yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, menyebutkan bahwa permintaan untuk bersikap kuat dapat merampas ruang bagi seseorang untuk merasa rapuh.

"Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya," jelasnya.

Hindari "Adu Nasib" dan Perbandingan

Terakhir, sangat dilarang untuk membandingkan pengalaman duka antara satu orang dengan orang lain. 

Setiap individu memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam memproses kesedihan. 

Saling mengadu nasib atau membandingkan penderitaan hanya akan membuat orang yang ditinggalkan merasa tidak dipahami dan pengalaman emosionalnya seolah diabaikan.

Pada akhirnya, dukungan terbaik tidak selalu berupa kata-kata panjang atau nasihat. Hadir secara nyata, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi mereka untuk menyembuhkan luka perlahan-lahan adalah bentuk empati yang paling dibutuhkan oleh mereka yang sedang berduka. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya