Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Menemani Tanpa Menghakimi: Seni Mendukung Kerabat yang Berduka

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 16:46
Menemani Tanpa Menghakimi: Seni Mendukung Kerabat yang Berduka
Ilustrasi(Freepik)

KEHILANGAN orang terdekat secara mendadak merupakan guncangan emosional yang luar biasa. Dalam situasi yang penuh kerapuhan ini, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi krusial. Namun, tidak jarang niat baik untuk menghibur justru terasa membebani bagi mereka yang sedang berduka.

Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., menekankan bahwa kunci utama dalam membantu seseorang yang berduka adalah kehadiran yang tepat. 

Menurutnya, lingkungan harus memiliki kepekaan untuk membedakan kapan waktu untuk mendekat dan kapan harus memberi ruang.

Kehadiran yang tidak Memaksa

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghormati batasan emosional pihak yang berduka. 

Jika mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri, keluarga dan teman harus mampu menghormati keputusan tersebut. Meski begitu, memberikan ruang bukan berarti membiarkan mereka sendirian tanpa pengawasan.

"Ketika seseorang ditinggal meninggal secara mendadak oleh orang terdekatnya, dukungan dari lingkungan memang menjadi sangat penting. Dukungan yang paling utama adalah hadir dengan cara yang tepat," ujar Ratriana, dikutip Rabu (28/1).

Ia menambahkan bahwa pemeriksaan kondisi (checking in) tidak harus dilakukan secara intensif hingga memaksa pihak yang bersangkutan membalas pesan. 

Cukup sampaikan bahwa Anda selalu ada untuk mereka, sehingga mereka tetap merasa didukung tanpa merasa tertekan untuk berinteraksi.

Pentingnya Validasi Emosi

Salah satu kesalahan umum dalam memberikan dukungan adalah memberikan kalimat-kalimat penghiburan yang justru mengabaikan rasa sakit. 

Ratriana mengingatkan agar kita menghindari kalimat klise seperti "ada makna di balik semuanya", "sudah waktunya", atau "Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita".

Kalimat-kalimat tersebut sering kali membuat orang yang berduka merasa harus segera pulih. Padahal, rasa duka bisa muncul dalam berbagai spektrum, mulai dari sedih, marah, bingung, hingga mati rasa.

"Validasi emosi akan membantu orang yang berduka merasa dimengerti dan tidak terburu-buru untuk pulih," ungkap psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi tersebut.

Bantuan Konkret di Masa Sulit

Selain dukungan emosional, bantuan praktis sering kali jauh lebih bermakna. 

Saat berduka, seseorang biasanya kesulitan untuk fokus pada kebutuhan dasar sehari-hari. Menawarkan bantuan konkret seperti menyediakan makanan, membantu membersihkan rumah, hingga menemani pengurusan administrasi dapat sangat meringankan beban mereka.

Terakhir, Ratriana mengingatkan bahwa setiap orang memiliki "jam biologis" berduka yang berbeda-beda. Tidak ada standar waktu yang pasti untuk seseorang bisa kembali pulih sepenuhnya.

"Hormati proses berduka mereka. Tidak ada timeline yang sama bagi setiap orang. Ada yang cepat tampak pulih, ada yang membutuhkan waktu lama. Tugas kita bukan mempercepat proses itu, tetapi menemani mereka melaluinya dengan penuh empati dan kesabaran," tutupnya.

Mengenai gestur seperti mengirimkan karangan bunga, Ratriana menilai hal itu lebih cocok sebagai simbol empati bagi kenalan (acquaintances). 

Namun, bagi keluarga atau kerabat dekat, kehadiran fisik dan pesan personal tetap tidak tergantikan karena dukungan emosional secara langsung jauh lebih dibutuhkan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya