Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHILANGAN orang terdekat secara mendadak merupakan guncangan emosional yang luar biasa. Dalam situasi yang penuh kerapuhan ini, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi krusial. Namun, tidak jarang niat baik untuk menghibur justru terasa membebani bagi mereka yang sedang berduka.
Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., menekankan bahwa kunci utama dalam membantu seseorang yang berduka adalah kehadiran yang tepat.
Menurutnya, lingkungan harus memiliki kepekaan untuk membedakan kapan waktu untuk mendekat dan kapan harus memberi ruang.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghormati batasan emosional pihak yang berduka.
Jika mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri, keluarga dan teman harus mampu menghormati keputusan tersebut. Meski begitu, memberikan ruang bukan berarti membiarkan mereka sendirian tanpa pengawasan.
"Ketika seseorang ditinggal meninggal secara mendadak oleh orang terdekatnya, dukungan dari lingkungan memang menjadi sangat penting. Dukungan yang paling utama adalah hadir dengan cara yang tepat," ujar Ratriana, dikutip Rabu (28/1).
Ia menambahkan bahwa pemeriksaan kondisi (checking in) tidak harus dilakukan secara intensif hingga memaksa pihak yang bersangkutan membalas pesan.
Cukup sampaikan bahwa Anda selalu ada untuk mereka, sehingga mereka tetap merasa didukung tanpa merasa tertekan untuk berinteraksi.
Salah satu kesalahan umum dalam memberikan dukungan adalah memberikan kalimat-kalimat penghiburan yang justru mengabaikan rasa sakit.
Ratriana mengingatkan agar kita menghindari kalimat klise seperti "ada makna di balik semuanya", "sudah waktunya", atau "Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita".
Kalimat-kalimat tersebut sering kali membuat orang yang berduka merasa harus segera pulih. Padahal, rasa duka bisa muncul dalam berbagai spektrum, mulai dari sedih, marah, bingung, hingga mati rasa.
"Validasi emosi akan membantu orang yang berduka merasa dimengerti dan tidak terburu-buru untuk pulih," ungkap psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi tersebut.
Selain dukungan emosional, bantuan praktis sering kali jauh lebih bermakna.
Saat berduka, seseorang biasanya kesulitan untuk fokus pada kebutuhan dasar sehari-hari. Menawarkan bantuan konkret seperti menyediakan makanan, membantu membersihkan rumah, hingga menemani pengurusan administrasi dapat sangat meringankan beban mereka.
Terakhir, Ratriana mengingatkan bahwa setiap orang memiliki "jam biologis" berduka yang berbeda-beda. Tidak ada standar waktu yang pasti untuk seseorang bisa kembali pulih sepenuhnya.
"Hormati proses berduka mereka. Tidak ada timeline yang sama bagi setiap orang. Ada yang cepat tampak pulih, ada yang membutuhkan waktu lama. Tugas kita bukan mempercepat proses itu, tetapi menemani mereka melaluinya dengan penuh empati dan kesabaran," tutupnya.
Mengenai gestur seperti mengirimkan karangan bunga, Ratriana menilai hal itu lebih cocok sebagai simbol empati bagi kenalan (acquaintances).
Namun, bagi keluarga atau kerabat dekat, kehadiran fisik dan pesan personal tetap tidak tergantikan karena dukungan emosional secara langsung jauh lebih dibutuhkan. (Ant/Z-1)
Ada batasan-batasan komunikasi yang harus dipahami agar dukungan yang diberikan tidak berubah menjadi beban mental tambahan bagi yang berduka.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa ayahanda mendiang dokter Aulia telah menjalani perawatan di RSUP dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, selama tiga hari.
Proses berduka setelah kehilangan orang yang dicintai mencakup beberapa tahapan, yang dimulai dari tahap tidak percaya.
Petenis peringakt dua dunia Aryna Sabalenka mengalami kehancuran setelah kematian mantan kekasihnya, Konstantin Koltsov, yang meninggal dalam kejadian tragis.
Belakangan ini, beberapa perusahaan Tiongkok mengklaim telah menciptakan ribuan "manusia digital" hanya dari materi audiovisual almarhum yang berdurasi 30 detik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved