Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era digital yang serba cepat, batas antara ruang privat dan ruang publik kian memudar. Fenomena oversharing, kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial, menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pengguna.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., mengingatkan bahwa perilaku ini memerlukan kesadaran moral, khususnya empati dan kontrol diri.
Guru besar yang akrab disapa Romi ini menjelaskan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang kontradiktif.
Meski dapat digunakan sebagai sarana berbagi edukasi atau penelitian yang bermanfaat, mengunggah detail kehidupan pribadi secara berlebihan sering kali membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun hubungan sosial.
"Kalau misalnya berbaginya itu edukasi, melakukan penelitian atau ceramah, mungkin itu masih punya dampak untuk orang lain. Tapi, kalau sudah yang pribadi, enggak usah terlalu diunggah. Itu ada hal yang seharusnya secara moral harus bisa membatasi orang untuk mengatakannya," ujar Romi, dikutip Rabu (25/2).
Menurut Romi, banyak individu melakukan oversharing tanpa menyadarinya. Hal ini sering dipicu oleh dorongan psikologis saat mendapatkan apresiasi, seperti notifikasi likes atau komentar positif dari audiens.
Perasaan senang karena diperhatikan ini menciptakan efek candu, yang kemudian membuat pengguna media sosial kurang selektif dalam menyaring informasi yang layak untuk konsumsi publik.
Padahal, setiap informasi yang dibagikan memiliki konsekuensi. Tidak semua orang memiliki persepsi yang sama terhadap apa yang kita sampaikan, sehingga potensi munculnya pro dan kontra selalu ada.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya stimulasi moral dalam beraktivitas di dunia maya.
Romi merujuk pada konsep seven essential virtues (tujuh kebajikan utama) yang seharusnya menjadi pedoman bagi manusia, yakni empati, kontrol diri, dan nurani. Ketiganya memiliki peran krusial saat seseorang hendak berinteraksi di ruang digital:
"Seven essential virtues itu perlu ada pada setiap manusia dan memang sudah ada, tapi, harus distimulasi agar bisa lebih memahami dan bisa masuk ke dalam kehidupan kita dalam praktiknya. Misalnya dalam mengambil keputusan termasuk dalam meng-upload di media sosial," tutur Romi.
Pada akhirnya, bijak dalam bersosial media bukan berarti berhenti berbagi, melainkan lebih selektif dalam memilih apa yang perlu diunggah. Dengan memadukan empati, kontrol diri, dan nurani, pengguna diharapkan mampu menjaga relasi serta kenyamanan bersama di dunia maya. (Ant/Z-1)
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Setelah hampir tiga dekade media sosial memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat, pemerintah akhirnya mengakui bahaya media sosial bagi anak-anak.
Akun medsos anak di bawah 16 tahun terancam dihapus permanen! Simak aturan lengkap PP Tunas dan cara kerja verifikasi wajah yang bikin anak tak bisa bohong umur lagi.
Lagu atau musik yang muncul dalam video streaming maupun live streaming di platform digital merupakan objek pengumpulan royalti.
Menurut tangkapan layar yang dibagikan oleh Paluzzi, Meta akan memperingatkan pengguna bahwa jika mereka keluar dari daftar Teman Dekat.
Reisa Broto Asmoro & Ustaz Akri Patrio ingatkan batasan sharing di medsos saat Ramadan agar tidak merusak mental dan pahala. Simak tips bijak bermedsos di sini.
Saat seseorang berada dalam puncak emosi, baik itu rasa senang yang meluap, kesedihan mendalam, hingga kemarahan yang memuncak, mereka cenderung menjadi lebih impulsif.
Oversharing di media sosial berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan validasi dari orang lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved