Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Menakar Batasan Digital: Mengapa Kontrol Diri dan Empati Penting Sebelum Unggah ke Media Sosial

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 20:21
Menakar Batasan Digital: Mengapa Kontrol Diri dan Empati Penting Sebelum Unggah ke Media Sosial
Ilustrasi(Freepik)

DI era digital yang serba cepat, batas antara ruang privat dan ruang publik kian memudar. Fenomena oversharing, kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial, menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pengguna. 

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., mengingatkan bahwa perilaku ini memerlukan kesadaran moral, khususnya empati dan kontrol diri.

Guru besar yang akrab disapa Romi ini menjelaskan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang kontradiktif. 

Meski dapat digunakan sebagai sarana berbagi edukasi atau penelitian yang bermanfaat, mengunggah detail kehidupan pribadi secara berlebihan sering kali membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun hubungan sosial.

"Kalau misalnya berbaginya itu edukasi, melakukan penelitian atau ceramah, mungkin itu masih punya dampak untuk orang lain. Tapi, kalau sudah yang pribadi, enggak usah terlalu diunggah. Itu ada hal yang seharusnya secara moral harus bisa membatasi orang untuk mengatakannya," ujar Romi, dikutip Rabu (25/2).

Menurut Romi, banyak individu melakukan oversharing tanpa menyadarinya. Hal ini sering dipicu oleh dorongan psikologis saat mendapatkan apresiasi, seperti notifikasi likes atau komentar positif dari audiens. 

Perasaan senang karena diperhatikan ini menciptakan efek candu, yang kemudian membuat pengguna media sosial kurang selektif dalam menyaring informasi yang layak untuk konsumsi publik.

Padahal, setiap informasi yang dibagikan memiliki konsekuensi. Tidak semua orang memiliki persepsi yang sama terhadap apa yang kita sampaikan, sehingga potensi munculnya pro dan kontra selalu ada. 

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya stimulasi moral dalam beraktivitas di dunia maya.

Romi merujuk pada konsep seven essential virtues (tujuh kebajikan utama) yang seharusnya menjadi pedoman bagi manusia, yakni empati, kontrol diri, dan nurani. Ketiganya memiliki peran krusial saat seseorang hendak berinteraksi di ruang digital:

  • Empati: Mempertimbangkan dampak dari ucapan atau unggahan terhadap orang lain.
  • Kontrol Diri: Menahan diri untuk tidak mengumbar segala hal ke ruang publik.
  • Nurani: Menjadi kompas penentu apakah suatu tindakan, termasuk mengunggah konten, adalah hal yang benar atau salah.

"Seven essential virtues itu perlu ada pada setiap manusia dan memang sudah ada, tapi, harus distimulasi agar bisa lebih memahami dan bisa masuk ke dalam kehidupan kita dalam praktiknya. Misalnya dalam mengambil keputusan termasuk dalam meng-upload di media sosial," tutur Romi.

Pada akhirnya, bijak dalam bersosial media bukan berarti berhenti berbagi, melainkan lebih selektif dalam memilih apa yang perlu diunggah. Dengan memadukan empati, kontrol diri, dan nurani, pengguna diharapkan mampu menjaga relasi serta kenyamanan bersama di dunia maya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya