Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Apa Bahaya Oversharing di Media Sosial Saat Ramadan? Ini Penjelasan Medis dan Agama

Haufan Hasyim Salengke
01/3/2026 22:19
Apa Bahaya Oversharing di Media Sosial Saat Ramadan? Ini Penjelasan Medis dan Agama
Diskusi fenomena oversharing atau berbagi informasi pribadi secara berlebihan di media sosial.(dok. istimewa)

FENOMENA berbagi aktivitas di media sosial seolah telah menjadi menu wajib sehari-hari, tak terkecuali di bulan Ramadan. Namun, di balik kemudahan berbagi cerita, tersimpan risiko 'oversharing' yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental hingga menggerus pahala ibadah.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Ramadan No Oversharing Bersama Tropical No Oversaring yang digelar di Sentul, Bogor, Minggu (1/3). Pakar kesehatan dr. Reisa Broto Asmoro dan pendakwah Ustaz Akri Patrio membedah fenomena ini dari sudut pandang medis dan religi.

Menurut Reisa, dorongan untuk terus mengunggah konten sering kali berawal dari keinginan untuk merasa lega atau sekadar mengikuti tren lingkungan. Namun, bahaya muncul ketika fokus beralih dari konten itu sendiri menjadi ketergantungan pada respons orang lain.

"Masalah utama oversharing bukan pada apa yang dibagikan, tapi pada respons yang menjadi fokusnya. Likes dan dukungan bisa menjadi adiksi. Jika dilakukan berlebihan tanpa batasan privasi, lama-lama mental kita menjadi lemah karena kita kehilangan jati diri dan batasan," ujar Reisa.

Ia pun membagikan setidaknya tiga filter sebelum memosting sesuatu. Pertama, aman, yaitu apakah informasi yang akan dibagikan aman untuk diketahui publik. Kedua, perlu, bahwa seseorang perlu memastikan apakah konten benar-benar perlu dibagikan. Terakhir, bermanfaat, yaitu apakah ada manfaat yang dihasilkan dari unggahan tersebut.

Antara Inspirasi dan Riya

Senada dengan hal tersebut, Ustaz Akri Patrio menekankan bahwa dalam Islam, aktivitas berbagi di media sosial sangat bergantung pada niat atau iktikad. Berbagi kebaikan untuk memotivasi orang lain (fastabiqul khairat) sangat dianjurkan, namun tipis batasnya dengan pamer.

"Kalau posting untuk pencitraan personal atau pamer (riya), itu sia-sia dan merusak amal Ramadan. Bahasa agamanya jelas: berkatalah yang baik atau diam. Jangan mencaci atau menjatuhkan orang lain melalui media sosial," tegas Ustaz Akri.

Ia menambahkan bahwa berbagi produk usaha atau informasi bermanfaat bukanlah hal yang tercela dalam agama, selama dilakukan dalam koridor kebaikan dan bukan untuk tujuan kesombongan.

Kemeriahan acara ditutup dengan aksi memikat Chef Hideki dalam sesi cooking demonstration. Sang koki memperagakan teknik memasak presisi untuk menyajikan hidangan autentik khas Korea dan Jepang, yakni gimmari dan tempura don.

Melalui inisiatif ini, Tropical berkomitmen menginspirasi masyarakat untuk merengkuh Ramadan yang lebih bermakna. Mendorong keselarasan antara asupan nutrisi dari hidangan sehat dan etika dalam berinteraksi sosial diharapkan menjadi kunci untuk mencapai keseimbangan kesehatan fisik serta ketenangan batin yang hakiki. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya