Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra menekankan pentingnya melatih empati dan melibatkan anak-anak dalam aktivitas sosial sebagai salah satu solusi untuk mencegah aksi kekerasan seperti tawuran.
Menurut dia, anak dan remaja membutuhkan ruang yang aman dan suportif untuk menyalurkan tekanan emosional yang mereka rasakan, terutama pada masa transisi seperti awal tahun ajaran baru.
"Empati itu bisa dilatih. Anak perlu diberi ruang untuk mengalami dan melihat langsung berbagai situasi kehidupan sosial, misalnya lewat kegiatan kemanusiaan, gotong royong, atau membantu teman yang kesulitan," kata Novi, dikutip Minggu (20/7).
Novi menyampaikan, salah satu cara yang dinilai paling berdampak adalah memberi kesempatan kepada anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang membangun rasa peduli terhadap sesama.
Selain itu, lingkungan yang menerima kondisi anak apa adanya juga turut memainkan peran penting.
Ia menyebut, pendekatan ini dapat merangsang kerja bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan (prefrontal cortex), sehingga anak mampu merespons situasi emosional dengan lebih bijak.
Dengan demikian, anak punya tempat menyalurkan energinya dengan cara yang sehat, serta kecenderungan untuk melampiaskan emosi lewat kekerasan akan jauh berkurang.
"Itu semua akan melatih otak nalarnya agar bekerja lebih baik, sehingga dia akan membuat keputusan lebih baik saat mendapat peristiwa yang memancing emosi," ujarnya.
Lebih lanjut Novi mengatakan, pendekatan korektif seperti ini lebih berdampak jangka panjang dibanding sekadar hukuman yang bersifat memutus
akses anak terhadap fasilitas seperti ponsel atau uang jajan.
Dari sisi psikologis, ia menjelaskan bahwa perilaku agresif pada remaja didorong oleh tekanan emosi tinggi yang dipicu oleh hormon stres (kortisol), yang umum terjadi di usia pubertas.
Tekanan ini membuat kerja otak bagian prefrontal cortex atau pusat pengambilan keputusan akan menurun, dan respons anak lebih sering dikendalikan oleh bagian otak primitif (amigdala) yang cenderung reaktif.
"Inilah mengapa mereka mudah terpancing atau terprovokasi. Ditambah lagi, jika mereka tidak mendapat validasi atau apresiasi dari orangtua dan guru, maka pujian dari teman sebaya meskipun untuk tindakan negatif bisa terasa sangat berarti," jelas Novi.
Ia juga kembali mengingatkan bahwa kurangnya interaksi anak dengan keluarga dan hilangnya minat terhadap aktivitas positif bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang berada dalam pengaruh lingkungan berisiko tinggi.
"Peran orangtua dan guru sangat besar. Bukan hanya mengawasi, tapi menjadi teladan, teman bicara, dan pembuka jalan anak untuk tumbuh
dalam lingkungan yang sehat," pungkas Novi. (Ant/Z-1)
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Satpol PP DKI Jakarta bersama TNI dan Polri berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan serta bersiaga di titik-titik rawan tawuran
Sebanyak 17 remaja diamankan polisi setelah terlibat perang sarung di perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo yang sempat meresahkan warga.
Pihak kepolisian mengimbau generasi muda di wilayah Bekasi agar tidak mudah terprovokasi melalui media sosial yang sering kali menjadi pemicu bentrokan fisik.
Pendekatan represif dan pengamanan tidak lagi memadai mulai menjadi arus utama dalam kebijakan daerah.
POLRES Metro Jakarta Barat menangkap ujuh remaja bersenjata tajam yang hendak tawuran di Jalan Kemanggisan Pulo, Palmerah, Minggu (11/1) sekitar pukul 04.00 WIB.
Pihak kepolisian sangat menyayangkan fakta bahwa mayoritas tersangka yang diamankan masih berstatus di bawah umur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved