Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
STRES merupakan kondisi yang hampir pernah dialami setiap orang. Dalam jangka pendek, stres sebenarnya merupakan respons alami tubuh untuk menghadapi tekanan atau situasi menantang. Namun, jika terjadi secara terus-menerus atau kronis, stres dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan.
Tidak hanya memengaruhi kondisi mental, stres juga dapat berdampak pada kesehatan fisik, termasuk penampilan seseorang. Perubahan pada kulit, rambut, hingga kebiasaan yang muncul akibat stres dapat membuat wajah terlihat berbeda dari biasanya.
Dilansir dari laman Healthline, stres memicu pelepasan hormon tertentu dalam tubuh yang dapat memengaruhi berbagai fungsi biologis, termasuk kesehatan kulit dan rambut. Selain itu, stres juga dapat memicu kebiasaan buruk yang tanpa disadari memengaruhi penampilan.
Salah satu perubahan yang paling sering terjadi akibat stres adalah munculnya jerawat. Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Hormon ini dapat merangsang produksi minyak berlebih pada kulit. Jika minyak tersebut menyumbat pori-pori, jerawat pun lebih mudah muncul. Beberapa penelitian juga menunjukkan tingkat stres yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya tingkat keparahan jerawat.
Stres sering kali berkaitan dengan kurang tidur. Kondisi ini dapat memicu munculnya kantung mata yang membuat wajah tampak lelah. Kurang tidur juga dapat mempercepat munculnya tanda penuaan pada kulit, seperti garis halus dan berkurangnya elastisitas kulit di sekitar mata.
Stres dapat mengganggu fungsi lapisan pelindung kulit yang dikenal sebagai stratum corneum. Lapisan ini berperan menjaga kelembapan kulit serta melindungi jaringan kulit di bawahnya. Ketika fungsinya terganggu, kulit dapat kehilangan kelembapan sehingga menjadi kering, kasar, dan mudah iritasi.
Stres juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem imun menurun, keseimbangan bakteri pada kulit bisa terganggu. Kondisi ini dapat memicu kemerahan atau ruam pada kulit. Selain itu, stres juga diketahui dapat memperburuk beberapa penyakit kulit seperti eksim, psoriasis, dan dermatitis kontak.
Stres dapat memengaruhi protein pada kulit dan menurunkan elastisitasnya. Penurunan elastisitas ini dapat mempercepat terbentuknya keriput. Selain itu, ekspresi wajah seperti sering mengerutkan dahi saat stres juga dapat mempercepat munculnya garis-garis halus di wajah.
Selama ini banyak orang percaya bahwa stres dapat menyebabkan rambut cepat beruban. Penelitian terbaru menunjukkan stres dapat memengaruhi sel pembentuk pigmen rambut. Ketika sel tersebut rusak atau berkurang, rambut yang tumbuh berikutnya dapat kehilangan warnanya dan tampak beruban.
Stres kronis juga dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut. Kondisi ini dapat menyebabkan rambut rontok lebih banyak dari biasanya. Gangguan ini dikenal sebagai telogen effluvium, yaitu kondisi ketika banyak rambut masuk ke fase rontok secara bersamaan.
Sebagian orang memiliki kebiasaan menggertakkan gigi ketika merasa cemas atau stres. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, gigi dapat mengalami kerusakan atau keausan.
Stres juga dapat memicu kebiasaan mengencangkan rahang atau menggertakkan gigi. Kebiasaan ini dapat menyebabkan gangguan pada sendi rahang yang dikenal sebagai temporomandibular joint dysfunction (TMD). Kondisi tersebut dapat menimbulkan nyeri pada rahang, wajah, hingga telinga.
Saat stres, beberapa orang tanpa sadar menggigit bibir atau bagian dalam mulut. Kebiasaan ini dapat menyebabkan bibir menjadi kering, perih, bahkan terluka.
Karena stres dapat memengaruhi banyak aspek kesehatan, mengelolanya dengan baik menjadi hal yang penting. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, mendapatkan waktu tidur yang cukup, serta meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menenangkan.
Berbicara dengan teman, keluarga, atau tenaga profesional juga dapat membantu seseorang mengatasi tekanan yang sedang dialami. (Healthline/Z-2)
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya.
Cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak.
MASALAH finansial yang memicu stres ternyata dapat merusak kesehatan jantung. Hal itu diungkapkan dalam studi yang dirilis oleh Mayo Clinic Proceedings.
Stres sebenarnya tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam kadar tertentu, stres justru diperlukan untuk menjaga performa kerja agar tetap optimal.
Dalam dunia medis, jerawat dikenal sebagai Acne Vulgaris dan sering dialami oleh remaja karena perubahan hormon, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya.
Studi menunjukkan konsumsi gula berlebih dapat memperparah jerawat melalui lonjakan insulin. Lalu, seberapa efektif diet rendah gula untuk mengatasi jerawat menurut para ahli?
Jerawat bisa muncul dalam bentuk komedo, papula, pustula, hingga jerawat batu yang meradang.
Seiring masuknya musim penghujan dan banjir, masyarakat harus lebih waspada terhadap masalah kulit.
Netizen menyoroti kondisi kulit wajahnya yang terlihat memiliki bopeng dan bekas jerawat, bahkan menjadikannya bahan perbandingan di dunia maya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved