Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Faktor Psikologis di Balik Keluhan Stres Jadi WNI

M Iqbal Al Machmudi
23/2/2026 11:00
Faktor Psikologis di Balik Keluhan Stres Jadi WNI
Ilustrasi(Freepik)

MEDIA sosial sempat menyoroti seorang penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS yang viral usai pernyataannya yang menyebutkan cukup dirinya saja yang menjadi warga negara Indonesia (WNI), sementara anaknya jangan. 

Atas pernyataan yang menimbulkan pro kontra tersebut ia mengunggah klarifikasi dan meminta maaf melalui akun @sasetyaningtyas. 

Ia mengaku ada rasa kecewa , lelah, dan frustrasi pribadi sebagai WNI terhadap berbagai kondisi yang ada.

Melihat kondisi tersebut, Psikiater Lahargo Kembaren, mengatakan stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya. 

Dalam tinjauan psikologis, ada beberapa faktor yang biasanya berperan. Pertama, collective stress (stres kolektif) yakni ketika seseorang terus menghadapi isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik, maka akan muncul rasa tidak berdaya terhadap sesuatu yang terasa besar dan sulit dikendalikan. 

"Ini membuat sebagian orang merasa lelah secara emosional/ burn out. Fenomena ini juga terlihat dari tren diskusi publik dan konten viral yang mengekspresikan kekecewaan terhadap kondisi negara atau masa depan, yang kemudian diperkuat oleh media sosial," kata Lahargo, Senin (23/2).

Kedua yaitu social comparison and future anxiety saat melihat situasi dan bayangan bahwa hidup lebih baik di luar negeri dapat memicu munculnya perbandingan sosial. 

Lahargo menyebut bukan berarti individu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan.

Ketiga, cognitive bias akibat paparan berita negatif yaitu jika seseorang lebih banyak mengonsumsi konten yang bernuansa krisis, kekhawatiran dan kegagalan sistem, maka otak akan cenderung melakukan catastrophizing yaitu melihat situasi terasa lebih berat daripada realitas objektif, jadi lebay, terlalu berlebihan menyikapinya

“Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan," ujar pengurus bidang Pengabdian Masyarakat di Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) tersebut. 
 
Lahargo menjelaskan dengan tekanan psikologis tersebut, banyak orang memilih dua pendekatan untuk mengatasinya yakni ada yang memilih update di media sosial atau bertemu ke psikolog. Apabila dilihat secara psikologis, keduanya punya fungsi berbeda.

Jika seseorang memiliki tekanan tersebut dan memilih cukup update di media sosial saja maka itu bisa disebut hanya usaha untuk pelepasan emosi sementara yakni membantu seseorang merasa didengar. Namun, media sosial bukanlah ruang pemulihan, itu hanya ruang ekspresi sementara.

Di sisi lain jika seseorang memilih datang ke psikolog atau psikiater, maka itu adalah langkah tepat yang bisa diambil apabila keluhan sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi kehidupan sehari-hari.

"Datang ke profesional kesehatan jiwa dapat membantu menguraikan stres secara terstruktur, bukan hanya ventilasi emosi tapi juga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Sementara curhat di media sosial boleh saja sebagai ekspresi, tapi pemulihan dari stres yang dialami tetap butuh ruang aman yang tidak menghakimi salah satunya lewat konsultasi ke profesional kesehatan jiwa," jelas dia.

Sayangnya masih banyak orang yang lebih memilih update di media sosial. 

Lahargo menjelaskan fenomena tersebut menandakan seseorang membutuhkan validasi. Otak manusia mendapat dopamin dari respon sosial seperti like, komentar, share. Ini membuat individu terdorong membagikan hal hal yang sifatnya pribadi.

Bisa juga sebagai sinyal identitas diri. Postingan sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif atau cara pandang terhadap dunia. Regulasi emosi, sebagian orang menulis di media sosial untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi dilakukan di ruang publik.

"Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami," ucapnya.

Oleh karena itu bijaknya memilah apa yang ingin dibagikan di media sosial. Secara psikologis dan etika digital, ada 3 filter sederhana, kalau diunggah saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko salah paham.

Kemudian jika isu identitas negara, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat. Dan selanjutnya yakni gunakan prinsip future self yaitu apakah unggahan itu tetap nyaman jika dilihat 5 tahun lagi.

“Media sosial itu ruang publik permanen. Tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, aman untuk dipublikasikan," ucapnya.

“Fenomena stres terkait identitas kebangsaan bukan sekadar soal nasionalisme, tapi refleksi kecemasan masa depan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara mengekspresikan keresahan dan menjaga kesehatan mental secara nyata," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya