Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA sosial sempat menyoroti seorang penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS yang viral usai pernyataannya yang menyebutkan cukup dirinya saja yang menjadi warga negara Indonesia (WNI), sementara anaknya jangan.
Atas pernyataan yang menimbulkan pro kontra tersebut ia mengunggah klarifikasi dan meminta maaf melalui akun @sasetyaningtyas.
Ia mengaku ada rasa kecewa , lelah, dan frustrasi pribadi sebagai WNI terhadap berbagai kondisi yang ada.
Melihat kondisi tersebut, Psikiater Lahargo Kembaren, mengatakan stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya.
Dalam tinjauan psikologis, ada beberapa faktor yang biasanya berperan. Pertama, collective stress (stres kolektif) yakni ketika seseorang terus menghadapi isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik, maka akan muncul rasa tidak berdaya terhadap sesuatu yang terasa besar dan sulit dikendalikan.
"Ini membuat sebagian orang merasa lelah secara emosional/ burn out. Fenomena ini juga terlihat dari tren diskusi publik dan konten viral yang mengekspresikan kekecewaan terhadap kondisi negara atau masa depan, yang kemudian diperkuat oleh media sosial," kata Lahargo, Senin (23/2).
Kedua yaitu social comparison and future anxiety saat melihat situasi dan bayangan bahwa hidup lebih baik di luar negeri dapat memicu munculnya perbandingan sosial.
Lahargo menyebut bukan berarti individu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan.
Ketiga, cognitive bias akibat paparan berita negatif yaitu jika seseorang lebih banyak mengonsumsi konten yang bernuansa krisis, kekhawatiran dan kegagalan sistem, maka otak akan cenderung melakukan catastrophizing yaitu melihat situasi terasa lebih berat daripada realitas objektif, jadi lebay, terlalu berlebihan menyikapinya
“Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan," ujar pengurus bidang Pengabdian Masyarakat di Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) tersebut.
Lahargo menjelaskan dengan tekanan psikologis tersebut, banyak orang memilih dua pendekatan untuk mengatasinya yakni ada yang memilih update di media sosial atau bertemu ke psikolog. Apabila dilihat secara psikologis, keduanya punya fungsi berbeda.
Jika seseorang memiliki tekanan tersebut dan memilih cukup update di media sosial saja maka itu bisa disebut hanya usaha untuk pelepasan emosi sementara yakni membantu seseorang merasa didengar. Namun, media sosial bukanlah ruang pemulihan, itu hanya ruang ekspresi sementara.
Di sisi lain jika seseorang memilih datang ke psikolog atau psikiater, maka itu adalah langkah tepat yang bisa diambil apabila keluhan sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi kehidupan sehari-hari.
"Datang ke profesional kesehatan jiwa dapat membantu menguraikan stres secara terstruktur, bukan hanya ventilasi emosi tapi juga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Sementara curhat di media sosial boleh saja sebagai ekspresi, tapi pemulihan dari stres yang dialami tetap butuh ruang aman yang tidak menghakimi salah satunya lewat konsultasi ke profesional kesehatan jiwa," jelas dia.
Sayangnya masih banyak orang yang lebih memilih update di media sosial.
Lahargo menjelaskan fenomena tersebut menandakan seseorang membutuhkan validasi. Otak manusia mendapat dopamin dari respon sosial seperti like, komentar, share. Ini membuat individu terdorong membagikan hal hal yang sifatnya pribadi.
Bisa juga sebagai sinyal identitas diri. Postingan sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif atau cara pandang terhadap dunia. Regulasi emosi, sebagian orang menulis di media sosial untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi dilakukan di ruang publik.
"Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami," ucapnya.
Oleh karena itu bijaknya memilah apa yang ingin dibagikan di media sosial. Secara psikologis dan etika digital, ada 3 filter sederhana, kalau diunggah saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko salah paham.
Kemudian jika isu identitas negara, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat. Dan selanjutnya yakni gunakan prinsip future self yaitu apakah unggahan itu tetap nyaman jika dilihat 5 tahun lagi.
“Media sosial itu ruang publik permanen. Tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, aman untuk dipublikasikan," ucapnya.
“Fenomena stres terkait identitas kebangsaan bukan sekadar soal nasionalisme, tapi refleksi kecemasan masa depan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara mengekspresikan keresahan dan menjaga kesehatan mental secara nyata," pungkasnya. (Z-1)
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak.
MASALAH finansial yang memicu stres ternyata dapat merusak kesehatan jantung. Hal itu diungkapkan dalam studi yang dirilis oleh Mayo Clinic Proceedings.
PAPDI mengungkapkan misinformasi di media sosial menyebabkan cakupan vaksinasi campak 2025 turun drastis, menjauh dari target WHO 95%.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak di bawah usia 16 tahun tetap dapat berkarya di media sosial, namun sebaiknya menggunakan akun milik orang tua, bukan akun pribadi.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved