Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Tips dari Psikolog, Menangkal Burnout dengan Kesadaran Napas

Basuki Eka Purnama
30/1/2026 21:30
Tips dari Psikolog, Menangkal Burnout dengan Kesadaran Napas
Ilustrasi(Freepik)

RUTINITAS dunia kerja yang serba cepat sering kali memaksa para karyawan bergerak dalam mode otomatis. Tanpa disadari, pola kerja yang mengabaikan kondisi fisik dan mental ini menjadi bom waktu yang memicu stres berkepanjangan hingga kelelahan ekstrem atau burnout.

Psikolog Ayu S. Sadewo, S.Psi., M.Psi., dikutip Jumat (30/1), menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebagai fondasi utama menjaga kesehatan mental pekerja.

Menurut Ayu, langkah awal untuk membangun kesadaran ini tidaklah rumit. Hal sederhana seperti menyadari tarikan dan embusan napas di tengah aktivitas harian dapat menjadi jangkar agar seseorang tetap terhubung dengan kondisi dirinya sendiri.

“Kesadaran itu dimulai dari sadar napas. Banyak orang tidak pernah benar-benar sadar kapan ia menarik dan membuang napas, padahal itu pintu masuk untuk mengenali kondisi diri,” ujar lulusan Profesi Psikolog Universitas Indonesia tersebut.

Memahami Batas Stres

Ayu menjelaskan bahwa stres sebenarnya tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam kadar tertentu, stres justru diperlukan untuk menjaga performa kerja agar tetap optimal. 

Namun, masalah serius mulai muncul ketika stres tersebut berlangsung dalam durasi yang lama dan tidak dikelola dengan baik.

Ia menggarisbawahi perbedaan antara stres biasa dan burnout. Jika stres satu atau dua hari masih dianggap wajar, burnout adalah kondisi stres kronis yang terjadi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

“Stres satu atau dua hari itu wajar. Burnout terjadi ketika stres dibiarkan terlalu lama dan tubuh serta pikiran tidak diberi ruang untuk pulih,” tegasnya.

Mengenali Alarm Tubuh

Dampak dari stres yang menumpuk tidak hanya menyerang sisi psikologis, tetapi juga menjelma menjadi keluhan fisik. Ketegangan otot, sakit kepala, gangguan tidur, hingga penurunan daya tahan tubuh merupakan cara tubuh memberi sinyal bahwa ada tekanan mental yang berlebih.

Secara emosional dan profesional, burnout ditandai dengan menurunnya semangat kerja, kesulitan untuk fokus, meningkatnya kesalahan kecil, hingga munculnya rasa enggan untuk datang ke tempat kerja.

Ayu mengajak para pekerja untuk lebih peka terhadap perubahan kecil dalam diri mereka. Menjaga kesehatan mental, menurutnya, harus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar tindakan reaktif saat masalah muncul. 

Dengan kesadaran yang terjaga, keseimbangan antara performa kerja dan kesejahteraan diri dapat tetap beriringan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya