Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Indonesia Puncaki Indeks Kebahagiaan Kerja Asia Pasifik, Namun Burnout Menghantui

Basuki Eka Purnama
07/2/2026 12:14
Indonesia Puncaki Indeks Kebahagiaan Kerja Asia Pasifik, Namun Burnout Menghantui
Ilustrasi(Freepik)

KABAR menggembirakan datang dari dunia kerja tanah air. Laporan terbaru Jobstreet by SEEK bertajuk Workplace Happiness Index mengungkapkan bahwa Indonesia memimpin tingkat kebahagiaan pekerja di kawasan Asia Pasifik. 

Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden pada akhir 2025, sebanyak 82% pekerja Indonesia mengaku bahagia di tempat kerja.

Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara-negara dengan pasar kerja kompetitif lainnya. 

Sebagai perbandingan, tingkat kebahagiaan di Hong Kong hanya mencapai 47%, diikuti Singapura (56%), dan Australia (57%). 

Selain merasa bahagia, mayoritas pekerja Indonesia juga merasa dihargai (86%) dan menemukan kepuasan batin atau fulfilling (75%) dalam profesi mereka.

Makna Kerja di Atas Materi

Menariknya, meskipun gaji tetap menjadi keinginan utama bagi 54% responden, pendorong kebahagiaan yang sebenarnya justru berakar pada aspek nonmateri. 

Hubungan harmonis dengan rekan kerja (77%), lokasi kantor yang strategis (76%), serta perasaan bahwa pekerjaan mereka memiliki tujuan yang bermakna (75%) menjadi faktor kunci kenyamanan bekerja.

Namun, laporan ini memberikan catatan kritis bagi manajemen perusahaan. 

Meski aspek lingkungan kerja dinilai positif, kepuasan terhadap kepemimpinan senior baru menyentuh angka 64%. Hal ini menunjukkan adanya ruang perbaikan dalam transparansi dan komunikasi antara atasan dan bawahan.

Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia dari Jobstreet by SEEK, menekankan pentingnya keseimbangan ini.

"Gaji yang kompetitif memang penting untuk menarik kandidat, namun kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna dan mereka memiliki keseimbangan untuk menikmati hidup di luar pekerjaan. Pemimpin perusahaan memiliki peran krusial untuk menjembatani kesenjangan ini dengan membina komunikasi yang terbuka dan mengakui pencapaian setiap individu secara lebih transparan," ujarnya.

Kesenjangan Generasi dan Ancaman Burnout

Studi ini juga menemukan adanya happiness gap atau kesenjangan kebahagiaan. Gen X dan Milenial menjadi kelompok paling puas dengan angka di atas 84%. 

Sebaliknya, Gen Z melaporkan tingkat kebahagiaan terendah (76%). Kelompok muda ini cenderung merasa kurang dihargai dan kesulitan menemukan relevansi tugas harian dengan visi besar perusahaan.

Di balik optimisme tersebut, terdapat "alarm" yang patut diwaspadai. Sebanyak 43% pekerja mengaku mengalami kelelahan mental atau burnout. 

Ironisnya, 40% dari mereka yang mengaku "bahagia" ternyata juga merasakan burnout di bawah permukaan. 

Selain itu, perkembangan AI mulai membayangi keamanan kerja, di mana 42% responden—terutama di sektor teknologi—merasa terancam oleh teknologi ini.

Wisnu menutup dengan peringatan agar perusahaan tidak terlena dengan tingginya indeks kebahagiaan ini.

"Pencapaian Indonesia sebagai pemimpin kebahagiaan kerja di Asia Pasifik merupakan cerminan dari optimisme dan budaya positif yang kuat di tanah air. Namun, perusahaan tidak boleh terlena. Angka burnout sebesar 43% dan kekhawatiran terhadap AI merupakan 'alarm' bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif. Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan," pungkas Wisnu. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya