Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMUA orang ingin hidup tenang dan bahagia. Di akhir doa, umat Islam membaca Su-rat Al-Baqarah [2]: 201: “Ya Tu-han kami, berikanlah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa neraka.”
Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz ‘ala Hamisyi Al-Qur’an menjelaskan lafaz ‘hasanah’ dalam ayat tersebut berarti kebahagiaan (al-saadah).
Meski demikian, hidup tidak selalu mudah. Di zaman yang serba-materialistis, hedonistis, dan individualistis, banyak orang yang hidupnya men-derita. Angka gangguan jiwa semakin tinggi. Data WHO, pada 2019, satu dari delapan orang mengalami gangguan mental. Hal yang sama terjadi di Tanah Air. Menurut Men-teri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada Januari 2026, 28 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kese-hatan jiwa.
Bagaimana agar hidup ba-hagia? Banyak hal yang mem-buat manusia hidup bahagia. Salah satunya --dan mungkin yang paling signifikan-- ialah agama. Survei Pew Research Center (2019) di 26 negara me-nunjukkan beberapa temuan menarik. Pertama, mereka yang taat beragama merasa sangat bahagia jika diban-dingkan dengan mereka yang kurang taat beragama.
Kedua, tidak ada kaitan serta perbedaan yang jelas antara mereka yang taat dan yang kurang taat beragama dalam masalah kesehatan.
Ketiga, mereka yang taat beragama cenderung tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
Keempat, mereka yang taat beragama lebih banyak aktif di organisasi non-agama seperti charity dan klub sosial bila dibandingkan dengan mereka yang tidak beragama.
Kelima, kalau dibanding-kan dengan yang tidak taat beragama dan tidak beragama, mereka yang taat beragama lebih aktif terlibat dalam pemi-lihan umum dan memberikan suara (vote).
Intinya, mereka yang taat beragama hidupnya lebih bahagia, sehat, peduli sosial, dan aktif dalam urusan pub-lik ketimbang mereka yang tidak taat beragama dan tidak beragama.
Mengapa manusia perlu agama? Pertama, percaya ke-pada Tuhan adalah fitrah ma-nusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Manusia akan bahagia apabila kebutuhan jasmaniah dan rohaniahnya terpenuhi. Jika hanya salah satu yang terpenuhi, manusia akan mengalami split persona-lity (kepribadian terbelah). Pemenuhan kebutuhan jasma-niah dan rohaniah menjadikan manusia sebagai pribadi yang utuh (well being).
Kedua, dengan agama, ma-nusia mendapatkan ketenang-an karena memiliki panduan, arah perjalanan hidup yang pasti, tidak terombang- ambing, dan rasa aman karena dekat dengan Tuhan.
Ketiga, agama memberi makna hidup dan dukungan sosial yang kuat dari komu-nitas, tidak terasing dan ke-sepian. Tidak taat beragama dan tidak berafiliasi pada agama membuat hidup manu-sia sia-sia.
Dengan puasa Ramadan, hidup menjadi lebih tenang karena kita dekat dengan Allah, Tuhan Maha Mendengar tempat kita mengeluh dan meng-adu, Tuhan Mahakuasa yang mengabulkan semua karsa.
Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden pada akhir 2025, sebanyak 82% pekerja Indonesia mengaku bahagia di tempat kerja.
Temukan 100 kalimat bahagia singkat, inspiratif, penuh syukur untuk menambah semangat hidup. Ciptakan kebahagiaan setiap hari!
Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menyampaikan, Wisuda Akbar Sekolah Lansia SPP merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan nyata terhadap lansia.
Psikiater Judith Joseph ungkap kebahagiaan adalah hak asasi manusia. Ini 5 langkah untuk pulihkan rasa joy dari depresi tersembunyi.
Ini delapan cara untuk meningkatkan kebahagiaan di tahun 2025. Simak yuk agar tahun ini lebih menyenangkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved