Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Kinerja Melejit di 2025, PGE Perkuat Posisi Panas Bumi sebagai Tulang Punggung Transisi Energi

Basuki Eka Purnama
26/3/2026 09:35
Kinerja Melejit di 2025, PGE Perkuat Posisi Panas Bumi sebagai Tulang Punggung Transisi Energi
Ilustrasi--Sejumlah pekerja memeriksa instalasi saluran uap panas bumi (geothermal) PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (23/10/2025).(ANTARA/Anis Efizudin)

PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatatkan tren bisnis positif sepanjang 2025. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa energi panas bumi Bulai bergeser dari sekadar energi alternatif menjadi tulang punggung transisi energi bersih di Indonesia.

Berdasarkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2025, PGEO membukukan pendapatan sebesar US$432,72 juta, naik dari tahun sebelumnya sebesar US$407,12 juta. 

Tidak hanya dari sisi finansial, perusahaan juga mencetak rekor produksi listrik hijau tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) sebesar 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55% dibandingkan 2024.

Momentum Pertumbuhan dan Kapasitas Terpasang

Pengamat energi Hadi Ismoyo menilai pencapaian ini mencerminkan momentum penting bagi pengembangan panas bumi nasional. Saat ini, kapasitas terpasang PGE telah mencapai 727 megawatt (MW), naik signifikan dari sebelumnya 672 MW.

“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dari seluruh potensi yang tersedia, ruang pertumbuhan masih sangat luas,” ujar Hadi, Selasa (17/3).

Hadi menekankan bahwa panas bumi memiliki keunggulan sebagai energi baseload yang stabil dibandingkan sumber terbarukan lain seperti surya atau angin. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan korporasi ini harus dibarengi dengan dukungan kebijakan yang kuat.

“Dalam konteks bauran energi nasional, kinerja seperti ini perlu mendapatkan dukungan penuh, baik dari sisi regulasi, insentif, maupun kemudahan investasi,” tambahnya.

Menopang Target Ekonomi dan Kelistrikan

Sejalan dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) diproyeksikan tumbuh hingga 76% pada periode 2025–2034.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, menyebut panas bumi sebagai game changer dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus menekan emisi karbon. Apalagi, pemerintah mencanangkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.

“Karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi ditopang 1,8 persen pertumbuhan ketenagalistrikan,” jelas Ali. 

Menurutnya, jika kinerja positif PGE terus dijaga, transisi energi Indonesia bisa berjalan lebih agresif mengingat Indonesia memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia.

Tantangan dan Kolaborasi Jangka Panjang

Meski prospeknya cerah, Ali mengingatkan adanya tantangan klasik di sektor ini, seperti tingginya biaya eksplorasi awal, risiko proyek, dan kebutuhan infrastruktur pendukung. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta adalah kunci untuk membuka potensi yang masih tersimpan.

“Dengan potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya, panas bumi bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang menuju kemandirian energi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya