Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyatakan bahwa 25% anak Indonesia mengalami fatherless. Terkait dengan itu, psikolog anak Elizabeth Santosa menyatakan, ketidakhadiran sosok ayah atau father figure dalam kehidupan anak dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius hingga dewasa.
Dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi relasi sosial, identitas diri, hingga pola hubungan dalam rumah tangga.
“Kalau seseorang tidak memiliki father figure atau ada absen peran ayah dalam hidupnya, biasanya ada psychological impact,” ujar Elizabeth saat dihubungi, Jumat (19/12).
Ia menjelaskan, dampak yang paling umum muncul adalah rendahnya harga diri dan perasaan tidak bernilai. “Misalnya, harga diri rendah, merasa tidak bernilai,” katanya.
Selain itu, absennya peran ayah juga kerap memicu gangguan kecemasan dan depresi. Anak yang tumbuh tanpa figur ayah disebut mengalami tantangan besar dalam pencarian jati diri. “Bisa juga ada gangguan kecemasan, bisa juga gangguan depresi, bisa juga ada kesulitan atau struggle dalam pencarian jati diri,” jelasnya.
Masalah lain yang sering muncul adalah kesulitan membangun relasi yang aman dan sehat. Menurut Elizabeth, individu dengan pengalaman kehilangan atau ketidakhadiran ayah cenderung sulit merasa nyaman dalam hubungan emosional. “Biasanya itu muncul perilaku di mana sulit sekali merasa nyaman dan aman ketika memiliki relasi atau attachment dengan orang lain,” ujarnya.
Kondisi ini berdampak pada kemampuan membangun hubungan yang dilandasi rasa percaya. “It’s difficult untuk membangun rumah tangga yang ada rasa saling percaya," imbuh dia.
Pada perempuan, dampak tersebut dapat terlihat dalam relasi dengan pasangan. “Ada seorang wanita yang ditinggal oleh ayahnya, setiap kali ketemu laki-laki calon suami, dia tidak merasa nyaman dan tidak punya rasa percaya,” ungkapnya.
Ketakutan akan ditinggalkan kembali sering kali muncul. “Merasa bahwa calon suaminya ini bakal meninggalkan dia,” tambahnya. Manifestasinya bisa berupa kecemburuan berlebihan atau rasa tidak aman meski sudah menikah.
Sementara itu, pada sebagian individu lain, absennya ayah dapat memicu masalah perilaku. “Kalau ayahnya meninggal atau meninggalkan rumah saat dia masih muda, dia bisa merasa terbengkalai, lalu muncul perasaan marah,” ujarnya. Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi agresi atau perilaku menyimpang. “Bisa jadi agresif, bisa jadi preman,” katanya.
Dampak ketidakhadiran ayah juga dapat terlihat dalam dunia pendidikan dan pergaulan. Dalam beberapa kasus, anak mencari pelarian melalui perilaku berisiko. “Bisa karena ditinggal ayahnya, dia cari pelarian ke substance, obat, narkoba. Bisa kena kenakalan remaja,” jelasnya.
Menurut Elizabeth, dampak psikologis ini sangat bergantung pada bagaimana ketidakhadiran ayah tersebut terjadi. “Kalau tidak ada dari lahir, itu berbeda dengan ayah yang sebelumnya ada lalu meninggal atau menelantarkan,” katanya.
Anak yang sejak lahir tidak memiliki ayah masih mungkin memperoleh figur pengganti seperti dari pamannya. Namun, pengalaman ditelantarkan dinilai lebih kompleks dampaknya.
Ketiadaan figur ayah juga memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. “Mereka suka bertanya tentang harga diri mereka, karena tidak ada yang mencintai mereka, sosok ayah,” kata Elizabeth.
Kondisi ini membuat mereka cenderung mencari validasi dari luar dan membutuhkan pengakuan terus-menerus.
Pada anak laki-laki, dampak tersebut dapat muncul dalam bentuk kesulitan bersikap tegas. Anak laki-laki yang tidak punya sosok ayah biasanya tidak berani menolak. Mereka cenderung berkembang menjadi people pleaser.
Ia menegaskan, absennya peran ayah bukan persoalan sepele karena dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental dan identitas individu. “Struggling sama identitas itu bisa terjadi, dan dampaknya bisa muncul di masa depan, tergantung bagaimana cara ketidakhadiran ayah itu sendiri,” pungkasnya. (I-3)
para ayah dari siswa SDN Pondok Bambu 11 dan SMAN 61 Jakarta tampak menunggu giliran berkonsultasi dengan wali kelas
Pelajari dampak mendalam Gerakan Ayah Mengambil Rapor bagi anak, psikologi, dan keluarga. Dapatkan tips praktis untuk ayah dan sekolah.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang perannya strategis dalam membangun karakter dan kualitas generasi masa depan.
Ia berharap program serupa dapat terus diperluas, bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi terintegrasi dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
Sosok ayah bukan hanya berkaitan dengan seberapa banyak ayah itu hadir dalam hidup anak, tapi seberapa berarti figur ayah dalam kehidupan seorang anak.
Mendukbangga Wihaji mengeluarkan surat edaran (SE) memperkuat peran ayah mengambil rapor di sekolah. Sebab, menurutnya sekita 25% anak di Indonesia tumbuh tanpa ayah atau fatherless
SOSOK ayah kini sering terasa ada tapi tiada. Data fatherless dari Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan bahwa 25,8% anak Indonesia mengalami kondisi fatherless.
UPAYA melakukan pencegahan stunting pada anak haru dilakukan semua pihak, khususnya di tingkat paling dasar, yakni keluarga. Peran ayah menjadi salah satu yang disebut berpengaruh.
Anak-anak yang tumbuh bersama ayah yang aktif secara fisik cenderung memiliki perkembangan fisik yang kuat.
PARA ayah diharapkan berkesempatan untuk mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Hal itu disebut penting untuk membantu meningkatkan perkembangan emosi, sosial, dan kognitif anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved