Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Pemprov Jateng Prioritaskan Pemulihan Psikologis Korban Banjir Bandang Pemalang

Haryanto Mega
26/1/2026 21:46
Pemprov Jateng Prioritaskan Pemulihan Psikologis Korban Banjir Bandang Pemalang
Upaya penanganan bencana banjir bandang di Kabupaten Pemalang.(MI/Haryanto Mega)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah terus melakukan berbagai upaya penanganan bencana banjir bandang di Kabupaten Pemalang. Selain fokus pada penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, Pemprov Jateng juga memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis masyarakat.

Langkah ini dilakukan karena banyak warga masih mengalami trauma pascabanjir bandang yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan korban jiwa.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung lokasi terdampak terparah di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Minggu (25/1).

Dalam kunjungannya, Taj Yasin mendengar langsung kesaksian warga mengenai detik-detik banjir bandang yang datang tiba-tiba dengan arus deras, membawa lumpur dan kayu, hingga memicu kepanikan saat warga berusaha menyelamatkan diri dalam kondisi serba terbatas.

“Banjir ini terjadi secara bersamaan, tidak hanya di Kabupaten Pemalang, tetapi juga di wilayah bawah Gunung Slamet seperti Purbalingga, sebagian Tegal, dan Kabupaten Brebes,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah, disusul dengan pemulihan kondisi mental dan psikologis warga terdampak.

“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap. Ini yang harus kita redakan terlebih dahulu,” kata Taj Yasin.

Menurutnya, pemerintah akan memberi perhatian serius terhadap kesehatan fisik dan mental warga, termasuk melalui pendampingan dan trauma healing, sebelum masuk ke tahap evaluasi dan penanganan lanjutan pascabencana.

“Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ucapnya.

Salah satu warga terdampak, Sulastri (27), warga Desa Penakir, masih terlihat terpukul atas musibah yang menimpanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan banjir bandang yang merenggut nyawa suaminya, Tanto (33).

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 02.00 WIB. Saat kejadian, Sulastri berada di bagian belakang rumah, sementara suaminya berada di bagian depan.

“Kejadiannya sekitar pukul dua dini hari. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” tuturnya.

Sulastri mengaku sempat terbawa arus, namun berhasil bertahan dengan berpegangan pada kayu hingga akhirnya selamat. Sementara sang suami tidak berhasil menyelamatkan diri.

Ia menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, termasuk pemberian santunan sebesar Rp10 juta yang diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah. Bantuan tersebut rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ke depan.

Hal senada disampaikan Supinah (62), warga Desa Penakir lainnya. Ia mengaku bersama pengungsi lain memilih bertahan di posko pengungsian sejak Jumat malam meski air telah surut.

“Rumah masih kotor, jadi saya biarkan dulu. Yang penting saya selamat,” ujarnya.

Selama berada di pengungsian, Supinah mengatakan seluruh kebutuhan dasar telah terpenuhi, mulai dari makanan, pakaian, hingga camilan.

“Makan sehari tiga kali, baju dikasih, terus ada camilan juga,” katanya.

Ia berharap kondisi cuaca segera membaik agar warga dapat kembali ke rumah dengan aman dan tanpa kekhawatiran bencana serupa terulang kembali. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya