Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Psikolog: Warga Desa Lebih Tangguh Hadapi Bencana Dibanding Warga Kota

Putri Rosmalia Octaviyani
21/2/2026 20:29
Psikolog: Warga Desa Lebih Tangguh Hadapi Bencana Dibanding Warga Kota
Warga melintasi jalan akses antardesa pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.(Dok. Antara)

FENOMENA menarik ditemukan oleh tim relawan kesehatan saat menangani dampak bencana banjir di Aceh Tamiang. Warga yang tinggal di wilayah perdesaan terpencil ternyata memiliki daya tahan psikologis atau resiliensi yang lebih kuat dibandingkan warga yang tinggal di pusat kota dalam menghadapi kehilangan harta benda.

Psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), Anna Aulia, mengungkapkan adanya perbedaan signifikan dalam proses pemulihan mental antara kedua kelompok masyarakat tersebut.

Resiliensi Warga Desa vs Warga Kota

“Di desa, mereka fokus bagaimana bisa bertahan hidup lagi. Kalau rumah hilang, mereka bilang akan bangun lagi dan cari pekerjaan lagi,” ujar Anna dalam wawancara khusus di Jakarta, Jumat (20/2).

Selama mendampingi penyintas di sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang, Anna mengamati bahwa warga di wilayah desa terpencil cenderung lebih cepat menerima kondisi pascabencana. Sebaliknya, warga yang tinggal di wilayah pusat kota atau area yang lebih berkembang dinilai lebih terguncang secara emosional.

Kehilangan aset, unit usaha, dan pekerjaan di perkotaan membuat proses pemulihan psikologis menjadi lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama. Menurut Anna, perbedaan ini berkaitan erat dengan cara pandang terhadap kehilangan.

Warga desa yang terbiasa hidup dengan keterbatasan dinilai memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi ketika harus kehilangan harta benda secara mendadak.

Layanan Psikososial dan Pemulihan Trauma

Meski terdapat pola umum, Anna menegaskan bahwa setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap bencana. Besarnya dampak psikologis tidak hanya ditentukan oleh lokasi tempat tinggal, tetapi juga oleh kedalaman pengalaman kehilangan dan kekuatan dukungan sosial yang dimiliki.

Dalam pendampingan di lapangan, relawan TCK melakukan langkah-langkah strategis berikut:

  • Screening Awal: Mengidentifikasi penyintas yang menunjukkan indikasi trauma berat atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).
  • Layanan Psikososial: Memberikan pendampingan agar penyintas kembali terhubung dengan lingkungan sosialnya.
  • Trauma Healing: Melakukan pendekatan pemulihan yang berkelanjutan sesuai dengan tingkat trauma masing-masing individu.

Dukungan Pemerintah Melalui TCK Kemenkes

Penerjunan relawan TCK di Aceh merupakan bagian dari program strategis Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat layanan kesehatan pascabencana. Fokus utama pemerintah tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga memastikan layanan kesehatan mental masyarakat terdampak tetap terjaga.

Anna mengingatkan bahwa pemulihan psikologis adalah proses yang membutuhkan waktu dan tidak bisa berlangsung instan. “Yang paling penting adalah mereka merasa tidak sendiri dan tetap memiliki dukungan dari lingkungan,” pungkasnya.

Kehadiran TCK diharapkan dapat menjadi pilar pendukung bagi masyarakat Aceh Tamiang untuk bangkit kembali, baik secara fisik maupun mental, setelah menghadapi bencana banjir yang melanda wilayah mereka. (Ant/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya