Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS kekerasan fisik yang marak terjadi belakangan ini, termasuk aksi pembacokan di beberapa wilayah, memicu kekhawatiran publik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendalam mengenai apa yang terjadi di dalam pikiran seseorang hingga mereka kehilangan kendali dan melakukan tindakan brutal.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Theresia Novi Poespita Candra, menjelaskan bahwa secara biologis manusia memiliki dua area otak utama yang berperan dalam merespons emosi.
"Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, diam, atau mengikuti," ujar Novi saat dihubungi pada Kamis (5/3/2026).
Di sisi lain, manusia memiliki prefrontal cortex yang berfungsi sebagai penyeimbang. Bagian ini bertanggung jawab untuk berpikir rasional, membuat keputusan logis, serta mengelola emosi dan perilaku.
"Kalau prefrontal cortex tidak terlatih atau tidak optimal, seseorang cenderung merespons secara impulsif. Di situ kekerasan bisa terjadi karena emosi lebih dominan daripada akal," tambahnya.
Menurut Novi, yang meraih gelar Ph.D. dari The University of Melbourne, lemahnya kemampuan seseorang dalam mengelola emosi tidak terjadi begitu saja. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural dan lingkungan:
Pandangan senada disampaikan oleh psikolog klinis ternama, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog. Alumnus Universitas Indonesia ini menyebutkan bahwa perilaku kekerasan kerap muncul saat emosi menjadi sangat intens hingga melampaui kapasitas individu untuk meregulasinya.
"Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara melampiaskan ketegangan emosi," jelas Ratih.
Ia juga mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap frustrasi, antara lain:
Kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi sejak dini adalah kunci utama pencegahan tindakan agresif. Melatih "jeda" antara emosi yang dirasakan dengan tindakan yang diambil dapat menyelamatkan seseorang dari konsekuensi hukum dan sosial akibat kekerasan.
Pemerintah dan lembaga pendidikan diharapkan terus mendorong kampanye kesehatan mental guna membekali masyarakat dengan keterampilan regulasi emosi yang lebih baik di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. (Ant/H-3)
Bagi pejuang garis dua dan penyintas keguguran, prank kehamilan di hari April Mop bukanlah hal lucu.
Banyak orang merasa tertekan karena merasa harus selalu tampil sempurna di depan keluarga besar.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Doja Cat buka suara soal diagnosis BPD yang diidapnya dan alasannya kerap membalas komentar pedas netizen di media sosial.
Analisis data selama 45 tahun mengungkap penggunaan ganja untuk depresi, kecemasan, hingga PTSD tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Peneliti temukan pola otak unik pada pengidap ADHD. Otak pengidap ADHD sering mengalami episode "mirip tidur" meski sedang terjaga, yang memicu gangguan fokus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved