Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Mekanisme Otak saat Emosi jadi Kekerasan: Penjelasan Psikolog UGM

Putri Rosmalia Octaviyani
05/3/2026 16:56
Mekanisme Otak saat Emosi jadi Kekerasan: Penjelasan Psikolog UGM
Ilustrasi, pasien dengan masalah psikologis.(Dok. Freepik)

KASUS kekerasan fisik yang marak terjadi belakangan ini, termasuk aksi pembacokan di beberapa wilayah, memicu kekhawatiran publik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendalam mengenai apa yang terjadi di dalam pikiran seseorang hingga mereka kehilangan kendali dan melakukan tindakan brutal.

Mekanisme Biologis: Amigdala dan Prefrontal Cortex

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Theresia Novi Poespita Candra, menjelaskan bahwa secara biologis manusia memiliki dua area otak utama yang berperan dalam merespons emosi.

"Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, diam, atau mengikuti," ujar Novi saat dihubungi pada Kamis (5/3/2026).

Di sisi lain, manusia memiliki prefrontal cortex yang berfungsi sebagai penyeimbang. Bagian ini bertanggung jawab untuk berpikir rasional, membuat keputusan logis, serta mengelola emosi dan perilaku.

"Kalau prefrontal cortex tidak terlatih atau tidak optimal, seseorang cenderung merespons secara impulsif. Di situ kekerasan bisa terjadi karena emosi lebih dominan daripada akal," tambahnya.

Penyebab Lemahnya Regulasi Emosi

Menurut Novi, yang meraih gelar Ph.D. dari The University of Melbourne, lemahnya kemampuan seseorang dalam mengelola emosi tidak terjadi begitu saja. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural dan lingkungan:

  • Pola Pendidikan: Kurangnya ruang dialog dalam keluarga atau sekolah membuat anak tidak terbiasa mengutarakan perasaan secara sehat.
  • Budaya Kritis: Masyarakat yang tidak melatih anak untuk berpikir kritis dan menunda respons cenderung menghasilkan individu yang reaktif.
  • Dampak Media Sosial: Paparan informasi yang intens dan cepat di media sosial dinilai mempercepat pengambilan keputusan secara impulsif tanpa proses refleksi.

Faktor Kelelahan Mental dan Stres

Pandangan senada disampaikan oleh psikolog klinis ternama, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog. Alumnus Universitas Indonesia ini menyebutkan bahwa perilaku kekerasan kerap muncul saat emosi menjadi sangat intens hingga melampaui kapasitas individu untuk meregulasinya.

"Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara melampiaskan ketegangan emosi," jelas Ratih.

Ia juga mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap frustrasi, antara lain:

  1. Stres berkepanjangan dan kelelahan fisik/mental.
  2. Konflik relasi yang tidak terselesaikan.
  3. Riwayat atau trauma pengalaman kekerasan di masa lalu.
  4. Penggunaan zat adiktif atau alkohol yang mengganggu fungsi kognitif.

Kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi sejak dini adalah kunci utama pencegahan tindakan agresif. Melatih "jeda" antara emosi yang dirasakan dengan tindakan yang diambil dapat menyelamatkan seseorang dari konsekuensi hukum dan sosial akibat kekerasan.

Pemerintah dan lembaga pendidikan diharapkan terus mendorong kampanye kesehatan mental guna membekali masyarakat dengan keterampilan regulasi emosi yang lebih baik di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya