Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN cara berjalan kerap dianggap sepele, terutama pada usia muda yang identik dengan kondisi fisik prima. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan gangguan pada pola berjalan dapat menjadi tanda awal gangguan otak yang tidak boleh diabaikan. Para ahli neurologi menyebut, otak berperan besar dalam mengatur keseimbangan, koordinasi, dan ritme gerak tubuh saat berjalan.
Gangguan cara berjalan atau gait abnormality pada usia muda dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti langkah menjadi lebih pendek, sering tersandung, berjalan melebar, hingga kesulitan menjaga keseimbangan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada 2021 menunjukkan perubahan pola berjalan bisa menjadi indikator awal gangguan neurologis, bahkan sebelum gejala kognitif atau motorik lain muncul secara jelas.
Salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan perubahan cara berjalan adalah gangguan pada otak kecil atau cerebellum. Cerebellum berfungsi mengatur koordinasi dan keseimbangan tubuh. Ketika area ini terganggu, seseorang dapat mengalami gaya berjalan tidak stabil atau tampak seperti sempoyongan. Menurut data National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), gangguan cerebellum dapat terjadi akibat infeksi, cedera kepala, kelainan genetik, hingga gangguan metabolik, dan tidak terbatas pada usia lanjut.
Selain itu, perubahan cara berjalan pada usia muda juga dapat menjadi tanda awal penyakit neurodegeneratif langka, gangguan saraf perifer, atau multiple sclerosis. Laporan dari World Health Organization menyebutkan lebih dari 2,8 juta orang di dunia hidup dengan multiple sclerosis, dan sebagian kasus terdeteksi pada rentang usia 20-40 tahun. Salah satu gejala awal yang sering muncul adalah gangguan koordinasi dan keseimbangan saat berjalan.
Pakar kesehatan menekankan pentingnya memperhatikan perubahan kecil yang terjadi secara bertahap. Jika seseorang mulai merasa jalannya tidak seimbang, mudah lelah saat berjalan, atau merasa kaki tidak merespons dengan baik, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan dapat memperlambat progresivitas gangguan otak yang mendasarinya.
Pemeriksaan neurologis, pencitraan otak seperti MRI, serta evaluasi fungsi saraf menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab gangguan berjalan. Kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sinyal awal gangguan otak diharapkan dapat mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius terhadap kualitas hidup. (Neurology Journal/National Institute of Neurological Disorders and Stroke/World Health Organization/Z-2)
Epilepsi sering disalahartikan sebagai penyakit mistis. Simak 5 fakta penting yang membongkar mitos seputar epilepsi dan bantu hilangkan stigma di masyarakat.
Peran nutrisi, stimulasi, dan pemantauan intensif dalam seribu hari pertama kehidupan bayi prematur menjadi hal yang penting.
Meskipun demensia sering dihubungkan dengan penuaan, penyakit ini bukanlah bagian normal dari proses usia lanjut dan dapat memengaruhi tidak hanya penderita tetapi juga keluarga.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan neurologis telah menjadi penyebab utama penyakit dan kecacatan secara global, dengan peningkatan sebesar 18% sejak 1990.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved