Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Siswa Bunuh Diri di NTT, Sudut Pandang Psikiater Alasan Anak Memilih Akhiri Hidup

M Iqbal Al Machmudi
04/2/2026 09:33
Siswa Bunuh Diri di NTT, Sudut Pandang Psikiater Alasan Anak Memilih Akhiri Hidup
Ilustrasi.(freepik)

SEORANG siswa bunuh diri di NTT. Anak berinisial YBS yang baru menginjak 10 tahun itu memilih mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli buku dan pena untuk perlengkapan sekolah. Psikiater, dr Lahargo Kembaren menekankan bahwa anak berusia 10 tahun sudah memahami konsep kematian dan bunuh diri.

"Ya, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski pemahamannya belum matang secara emosional dan kognitif," kata Lahargo, Rabu (4/2).

Merespons kasus bunuh diri siswa di NTT, ia menjelaskan dari sudut pandang kesehatan jiwa, keputusan anak memilih mengakhiri hidup karena anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang.

Ia menambahkan bahwa cara berpikir masih konkret, hitam putih. Saat tertekan, sambungnya anak mudah sampai pada kesimpulan ekstrem seperti kalau dirinya tidak ada, masalah akan selesai. 

WHO mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu dewasa, tetapi muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional seperti kasus siswa bunuh diri di NTT.

"Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat," ujar Lahargo.

"Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," pungkasnya saat diminta tanggapan soal siswa bunuh diri di NTT.

Sepucuk surat ditemukan dalam kasus siswa yang bunuh diri di NTT. Surat itu ditujukan korban pada ibunya yang merupakan orangtua tunggal. (H-4)


Peringatan: Tulisan ini bukan dimaksudkan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi, berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan segala masalah Anda ke tenaga profesional seperti psikolog, klinik kesehatan mental, psikiater, dan pihak lain yang bisa membantu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya