Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan stunting adalah perawakan pendek pada balita akibat kekurangan gizi kronik. Pada 2022, Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai negara penyumbang stunting terbesar setelah India, Nigeria, dan Pakistan.
Stunting terjadi ketika tinggi badan anak berada di bawah kurva pertumbuhan yang seharusnya. Kondisi ini ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar. Ada sederet faktor yang bisa meningkatkan risiko stunting, yang paling sering adalah tidak terpenuhinya asupan gizi dalam jangka panjang.
Isu stunting ini menghalau anggapan sebagian orang tua yang menganggap anak bertubuh pendek disebabkan faktor genetik. Pada kenyataannya, genetika hanya menyumbang sebagian kecil untuk kondisi kesehatan anak. Meski begitu, anak yang bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting. Itu sebabnya, para orang tua perlu mengetahui ciri anak stunting dan yang tidak.
Penyebab stunting yang biasanya terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan adalah kekurangan gizi kronis, atau kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, ada berbagai faktor lainnya yang dapat menyebabkan stunting, antara lain ibu hamil kekurangan asupan gizi. Melansir dari WHO, sekitar 20% stunting sudah terjadi saat bayi berada dalam kandungan.
Pemicunya, pertama, asupan gizi yang tidak memadai. Kurangnya asupan gizi ini bisa membuat ibu hamil mengalami anemia defisiensi zat besi. Akibatnya, kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan janin.
Kedua, pola makan tidak seimbang seperti kurangnya konsumsi sayuran, buah-buahan, dan sumber protein, dapat menyebabkan anak kekurangan nutrisi penting untuk mencapai pertumbuhan optimal. Demikian terungkap dalam Journal of Maternal and Child Health tahun 2020. Dalam jurnal tersebut dijelaskan kalau faktor genetik yang meliputi tinggi badan ibu dan ayah, serta konsumsi ikan menjadi faktor terjadinya stunting.
Kondisi itu terjadi pada masyarakat Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, lokasinya di bagian selatan Pulau Timor. Kader Desa Kesetnana Aryanti Saetban menyatakan warga secara turun temurun hanya berfokus pada konsumsi nasi dan sayur dalam kesehariannya. "Padahal, di sini ada kekayaan pangan lokal, berbagai jenis ikan serta sumber protein nabati lainnya," kata Aryanti.
Kondisi itu coba diatasi dalam program InJourney Lawan Stunting menginisiasi langkah pencegahan dan penanganan stunting di wilayah yang tercatat sebagai desa dengan kasus stunting tinggi. Program ini dijalankan pada November 2025 hingga Februari 2026 oleh PT Angkasa Pura bersama Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) Sustainability Trisakti sebagai mitra pendamping dalam proses perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.
Program menyasar 48 anak yang teridentifikasi stunting. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pemerintah Desa Kesetnana, Puskesmas Siso, serta para kader kesehatan desa yang terjun langsung mendampingi dan melakukan pemantauan pada anak-anak tersebut.
"Mereka diberi pemahaman, contoh, hingga mempraktikan kebiasaan konsumsi sumber daya lokal yaitu ikan kombong, tongkol, tembang, hingga cakalang. Mereka juga kini terbiasa memvariasikan menu dengan sumber protein lainnya yaitu telur ayam, daging, hingga tempe, hingga tahu. Mereka memvariasikannya dengan sawi, bayam, kangkung, marungga atau daun kelor, pepaya, pisang, alpukat, labu kuning, serta kacang ijo," kata tim gizi Puskesmas Siso Winarti.
Ahli gizi lainnya Elisabeth, menyatakan para ibu, melalui para kader, mendapat pemahaman, komposisi menu anak sesuai kebutuhan. "Agar para balita terhindar dari stunting, namun kmai juga memberikan pemahaman tentangg deteksi dini penyakit menular yang selama ini mereka mungkin tidak sadari. Ini penting karena penanganan penyakit pada anak akan mempengaruhi absorbsi atau penyerapan gizi," kata Elisabeth.
Direktur CECT Sustainability Trisakti Maria Utha menjelaskan, pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan pangan yang difokuskan pada pangan lokal, namun memprioritaskan penguatan pemahaman keluarga. "Kegiatan yang dilaksanakan mencakup distribusi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta penyaluran beras fortifikasi yang didistribusikan melalui kerja sama dengan Perum Bulog."
Selain itu, lanjut Maria Utha, para kader dan orang tua balita juga mengikuti pelatihan serta pendampingan mengenai pola pemberian makan anak, pemantauan pertumbuhan, serta praktik pembuatan menu MPASI sederhana yang dapat diterapkan di rumah.
Setelah tiga bulan pelaksanaan, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat. Rata-rata berat badan anak meningkat sekitar 0,5 kg, dengan 37,2% balita mencapai penambahan berat badan ideal selama periode pemantauan. Sementara itu, dari sisi tinggi badan, anak-anak juga mengalami peningkatan rata-rata sekitar 2,05 sentimeter, dan 39,5% balita mencapai pertumbuhan tinggi badan yang ideal.
"Secara umum, hasil awal program ini menunjukkan dampak yang cukup baik, terutama dalam membantu memperbaiki kondisi berat badan anak. Namun demikian, untuk mengejar ketertinggalan pada pertumbuhan tinggi badan yang menjadi indikator utama stunting, dibutuhkan intervensi yang lebih panjang dan berkelanjutan." (X-8)
Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya 2024, prevalensi tengkes Riau berdasarkan survei Kementerian Kesehatan masih berada di angka 20,1 persen.
Salah satu solusi yang kini banyak dikenalkan dalam upaya mengatasi stunting ialah pemanfaatan daun kelor (moringa oleifera) yang memiliki kandungan gizi tinggi seperti protein, dan vitamin A
Kabupaten Tuban berhasil menurunkan angka stunting sebesar 7,1% dari yang semula 24,9% di tahun 2022 menjadi 17,8% di tahun 2023
Pembiayaan program pembangunan di bidang pangan dan gizi harus memiliki nilai yang signifikan dan terjamin keberlanjutannya.
RPJMN menargetkan prevalensi stunting alias tengkes tinggal 14% pada 2024. Namun progres penurunan belakangan kurang signifikan, bahkan nyaris stagnan.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
BENTROK antarwarga akibat konflik lahan di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pecah pada Jumat (6/3). Kericuhan melibatkan warga empat desa.
Bentrokan warga pecah di Adonara Timur, Flores Timur (6/3/2026). 3 warga luka tembak senjata rakitan & sejumlah rumah terbakar akibat sengketa lahan.
ABB di Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama Happy Hearts Indonesia (HHI) melalui program “Water for All”.
GUBERNUR NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkap potensi dampak serius terhadap sekitar 9 ribu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup Pemprov NTT.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved