Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Pariwisata Labuan Bajo: 95 Persen Wisatawan Menumpuk di Laut, Daratan Masih Tertinggal

Marianus Marselus
01/4/2026 19:28
Pariwisata Labuan Bajo: 95 Persen Wisatawan Menumpuk di Laut, Daratan Masih Tertinggal
Wisatawan melihat komodo saat berwisata di NTT.(Dok. MI)

PEMERINTAH Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyoroti ketimpangan serius dalam sebaran kunjungan wisatawan di destinasi wisata super prioritas Labuan Bajo. Hampir seluruh aktivitas wisata saat ini masih terkonsentrasi di kawasan perairan, sementara potensi wisata daratan (mainland) belum tergarap maksimal.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, Rabu (1/4).  Fransiskus mengungkapkan sekitar 95 persen wisatawan yang datang ke Labuan Bajo hanya berfokus pada wisata bahari, khususnya kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Sementara itu, destinasi wisata di wilayah daratan Manggarai Barat masih relatif sepi pengunjung.

“Hampir 95 persen kunjungan wisatawan kita ini ada di laut (Taman Nasional Komodo). Sedangkan yang di mainland itu hanya sedikit sekali,” ujar Fransiskus.

Kompleksitas Tata Kelola Pariwisata

Menurut Fransiskus, ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada distribusi ekonomi, tetapi juga memperumit tata kelola pariwisata di daerah tersebut. Ia menilai Labuan Bajo memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan destinasi lain di Indonesia karena melibatkan berbagai wilayah dengan kewenangan berbeda.

“Pariwisata ini sebuah ekosistem yang sangat kompleks sebenarnya, terutama di Labuan Bajo,” katanya.

Ia menjelaskan, kompleksitas tersebut muncul dari perpaduan kawasan konservasi TNK yang berada di bawah otoritas pemerintah pusat, wilayah perairan yang luas, serta kawasan daratan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Kondisi ini kerap memunculkan persepsi adanya tumpang tindih kebijakan di mata publik.

Meski demikian, Fransiskus memastikan koordinasi lintas sektor terus diperkuat, mulai dari pengelola TNK, otoritas bandara, hingga pihak imigrasi. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan tata kelola pariwisata yang lebih terintegrasi dan efisien.

Dorong Digitalisasi dan Integrasi Sistem

Sebagai bagian dari pembenahan sistem, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat saat ini tengah mengembangkan pendekatan berbasis digital. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah peluncuran aplikasi Gendang Mabar.

Aplikasi tersebut dirancang untuk terintegrasi dengan sistem reservasi Siora milik Balai Balai Taman Nasional Komodo. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem reservasi yang lebih transparan, akuntabel, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi pariwisata.

“Di Dinas Pariwisata kami juga lagi menyiapkan aplikasi yang namanya Gendang Mabar. Aplikasi ini nanti akan terhubung dengan Siora,” jelasnya.

Perspektif Pelaku Industri

Sementara itu, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, menilai ketimpangan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang pasar dan perilaku wisatawan.

Menurutnya, sebagai tuan rumah, pelaku pariwisata telah menyediakan beragam produk jasa perjalanan wisata, baik di laut maupun daratan. Namun pada akhirnya, pilihan tetap berada di tangan wisatawan.

“Sebagai tuan rumah kita menyediakan pelbagai produk jasa perjalanan wisata. Pilihan mereka (wisatawan) yang tentukan,” ujarnya.

Ia mencontohkan keberhasilan destinasi darat seperti Cunca Lolos yang mampu mencatat angka kunjungan tinggi, bahkan mengungguli beberapa titik kunjungan di kawasan Taman Nasional Komodo.

“Cunca Lolos adalah preseden terbaik. Angka kunjungan mengalahkan beberapa spot wisata di TNK. Itu berarti daya tarik wisata kita memiliki pangsa pasar yang tinggi, tinggal kita arahkan dan promosikan kepada wisatawan,” katanya.

Aloysius juga menegaskan bahwa pengembangan wisata daratan tidak akan mengganggu aktivitas wisata bahari. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan strategi yang tepat.

“Saya melihatnya berbeda. Pengembangan daya tarik wisata di daratan Mabar tidak berdampak buruk terhadap aktivitas wisata bahari,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya strategi untuk “menangkap” wisatawan yang selama ini hanya mengikuti paket liveaboard atau sailing tour menggunakan kapal phinisi, agar turut mengunjungi destinasi darat di Manggarai Barat.

“Wisatawan yang datang dan hanya berpetualangan liveaboard atau sailing tour pakai kapal phinisi harus ditangkap dan 
Ancaman Daya Dukung

Data kunjungan wisata tahun 2024 menunjukkan bahwa Labuan Bajo masih didominasi oleh wisatawan mancanegara sebesar 78 persen, sementara wisatawan domestik hanya 22 persen. Kondisi ini mempertegas perlunya diversifikasi produk wisata agar tidak bergantung pada satu segmen maupun satu kawasan.

Konsentrasi wisatawan di kawasan laut juga memunculkan kekhawatiran serius terkait keberlanjutan lingkungan. Fransiskus menegaskan bahwa ekosistem laut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap tekanan aktivitas manusia.

“Laut itu punya kerentanan yang sangat tinggi. Ini soal isu keberlanjutan. Makanya kami sangat mendukung kebijakan daya tampung (carrying capacity),” tegasnya.

Penerapan konsep daya dukung dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata dan kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Taman Nasional Komodo.

Menurutnya, langkah ini penting untuk menciptakan distribusi ekonomi yang lebih merata. Selama ini, belanja wisatawan cenderung terkonsentrasi pada pelaku usaha kapal, sementara masyarakat desa belum menikmati dampak signifikan.

“Sehingga tidak mendominasi aktivitas baharinya, uang wisatawan tidak hanya ditangkap oleh pengusaha kapal tetapi beredar di desa-desa untuk kemajuan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Tantangan Pemerataan Pariwisata

Ketimpangan antara wisata laut dan daratan kini menjadi tantangan utama pengembangan pariwisata di Manggarai Barat. Pemerintah daerah bersama pelaku industri diharapkan mampu membangun strategi terpadu untuk mendorong wisata darat, tanpa mengurangi daya tarik wisata bahari yang telah lebih dulu mendunia.

Dengan penguatan promosi, integrasi sistem digital, serta distribusi kunjungan yang lebih merata, Labuan Bajo diharapkan tidak hanya dikenal karena keindahan lautnya, tetapi juga kekayaan lanskap daratan dan budaya yang mampu menggerakkan ekonomi hingga ke tingkat desa. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya