Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DESTINASI Pariwisata Super Prioritas atau DPSP Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar, Pertalite, dan Pertadex beberapa Minggu terakhir. Kelangkaan BBM itu mengancam aktivitas pariwisata lumpuh.
Kelangkaan itu terlihat salah satunya di SPBU Sernaru Labuan Bajo. Hingga pukul 23.00 Rabu, (14/8) malam waktu setempat, berbagai jenis kendaraan seperti truk, fuso, bus, dan mobil bermesin diesel tampak memanjang hingga satu kilometer lebih di luar area SPBU.
Pemandangan serupa juga terjadi di SPBU lainnya. Antrean kendaraan terjadi mulai malam hingga pagi hari bahkan hingga berhari hari. Kondisi ini diperparah dengan jam operasional SPBU yang terbilang singkat serta adanya pembatasan pembelian BBM jenis solar.
Baca juga : Labuan Bajo Alami Krisis BBM, Pariwisata Terancam Lumpuh
Staf SPBU Sernaru menjelaskan kelangkaan BBM di Labuan Bajo terjadi akibat kapal tanker pengangkut BBM terlambat tiba di Depot Pertamina Reo, Kabupaten Manggarai. Walhasil distribusi ke Labuan Bajo juga terlambat. Selain itu, kurangnya armada yang membawa BBM dari Depot Pertamina Reo ke Labuan Bajo.
Fransiskus Hambut, seorang tour guide di Labuan Bajo salah satu pelaku wisata yang mendapat imbas krisis BBM ini. Kendaraan wisata miliknya tidak beroperasi 3 hari terakhir akibat krisis BBM. Fransiskus menyebut kelangkaan BBM juga berimbas pada aktivitas kapal-kapal wisata. Tidak sedikit kapal wisata tidak dapat beroperasi.
Sementara itu, Manajer Komunikasi Pertamina Niaga Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, Ahad Rahedi mengatakan gangguan Stok BBM di SPBU Labuan Bajo terjadi akibat adanya peningkatan konsumsi untuk BBM subsidi maupun non subsidi baik untuk kendaraan maupun kapal wisata.
Baca juga : Menparekraf Sandiaga Uno Harap Golden Visa Dorong Investasi di Labuan Bajo
Peningkatan jumlah konsumsi itu imbas dari tingkat kunjungan wisata yang cukup tinggi saat ini yang diprediksi terjadi sampai dengan bulan September mendatang.
Untuk mengatasi krisis BBM di Labuan Bajo, Pertamina berencana akan menambah armada pengangkut BBM dari Depot Pertamina Reo. Selain itu akan mengaktifkan skema alternatif jalu supply dari Terminal BBM (TBBM) Bima Nusa Tenggara Barat melalui penyeberangan Sape menuju Labuan Bajo.
Pertamina menjamin ketersediaan stok BBM aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat serta menghimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying dan membeli BBM sesuai kebutuhan
(Z-9)
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Kepala daerah memiliki kewajiban moral dan administratif untuk memastikan kehadiran negara di setiap pintu rumah warga yang kesulitan.
Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu menegaskan bahwa tragedi siswa bunuh diri di NTT tersebut tidak seharusnya terjadi.
Pulau Sumba semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi unggulan pariwisata Indonesia.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy, mengungkapkan bahwa negara tersebut berhasil menyambut 64 juta pengunjung sepanjang 2025.
Pemerintah Daerah Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta menargetkan kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, bertransformasi menjadi kawasan pedestrian penuh mulai 2026.
Industri pariwisata Bali bersiap menghadapi lonjakan permintaan akomodasi pada Maret 2026 seiring berdekatannya Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
Ia menekankan bahwa kualitas fasilitas mencerminkan pengelolaan kawasan.
Hal yang sering sekali terlihat kurang dalam pemanfaatan cagar budaya disebabkan oleh titik berat dan bobotnya lebih berat kepada komersialisasi pariwisata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved