Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM kemarau mulai merayapi Sumba Timur. Angin mengibas alang-alang, dedaunan berguguran, dan savana pun perlahan berubah warna jadi kuning keemasan. Dari kejauhan, Kampung Prainatang berdiri diam di atas bukit kecil.
Begitu melangkah melewati gerbang batu yang tersusun kokoh, suasana masa lalu seolah menyambut. Tidak ada suara anak-anak berlarian. Tidak terdengar teriakan ibu memanggil anak pulang makan. Yang ada hanyalah angin, desir dedaunan, dan sesekali terdengar ayam berkokok.
Kampung ini sudah berumur ribuan tahun. Berdiri di Desa Mondu, Kecamatan Kanatang, Prainatang dikenal sebagai salah satu kampung megalitik tertua di Sumba Timur. Namun di balik kemegahan sejarah itu, kehidupan kini nyaris senyap.
Rumah-rumah adat berdiri tinggi dengan atap alang-alang. Kubur batu berbentuk meja tersebar di halaman, menjadi penanda kuat identitas leluhur. Tapi rumah-rumah itu ada yang mulai kosong. Ada yang bahkan roboh pelan-pelan, ditinggal penghuninya yang memilih mencari penghidupan di tempat lain.
“Sudah satu atau dua tahun mereka pergi. Ada yang berkebun jauh, ada yang merantau,” ujar Kawau Wolu Mbaru (75), salah satu tokoh kampung yang masih bertahan, Sabtu (26/7). “Kalau air bersih itu harus jalan jauh. Kalau kami orang tua bisa dua jam.” tambahnya.
Benar saja. Air bersih menjadi cerita lama yang belum juga berubah. Warga harus menuruni lembah untuk mendapatkannya. Melelahkan, apalagi bagi mereka yang sudah lanjut usia. Fasilitas dasar termasuk air bersih masih menjadi masalah klasik di Kampung Prainatang.
Di siang hari, Prainatang seperti terlelap. Hanya para orang tua yang masih menganyam di beranda, berharap ada tamu datang membeli. Tidak ada suara anak-anak. Tidak ada kesibukan seperti kampung pada umumnya.
“Yah kami hanya anyam setiap hari, jual ke tamu-tamu yang datang sebagai tanda mata dari kampung Prainatang,” ucap seorang ibu sambil menyusun hasil anyamannya.
Sebagai tujuan wisata budaya, Prainatang menyimpan kekayaan tak ternilai. Sayangnya, tak banyak yang tahu. Tidak ada papan nama, tak ada petunjuk arah. Hanya gerbang batu sederhana yang menandai bahwa di baliknya tersimpan sejarah yang panjang.
Dari pusat kota Waingapu, kampung ini hanya berjarak 30 kilometer. Tapi jalan menuju ke sana terasa jauh karena minimnya akses dan perhatian. Kampung ini bukan tidak ingin hidup, tapi terlalu lama dibiarkan berjalan sendiri.
Di tengah keindahan alam dan nilai budaya yang tinggi, Prainatang seperti menanti sesuatu. Mungkin kunjungan. Mungkin perhatian. Mungkin hanya ingin didengar bahwa mereka masih ada. Masih bertahan. Meski sepi.
(H-3)
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Kepala daerah memiliki kewajiban moral dan administratif untuk memastikan kehadiran negara di setiap pintu rumah warga yang kesulitan.
Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu menegaskan bahwa tragedi siswa bunuh diri di NTT tersebut tidak seharusnya terjadi.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus lebih dari sekadar penyediaan kebutuhan material, tetapi juga trauma healing
Di tangan Garin Nugroho, Yogyakarta tampil bukan sekadar sebagai kota tujuan wisata, melainkan ruang hidup tempat tradisi dan kreativitas bertemu.
Tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ini mengembangkan prototipe produk menggunakan metode SCAMPER.
Kebudayaan memiliki nilai strategis bagi Jawa Tengah,
Mengenali, memahami, dan berbagi pengetahuan tentang budaya lain menjadi kunci penting dalam membentuk generasi muda yang terbuka dan berwawasan global.
Usia Situs Gunung Padang berupa pundan berundak di daerah itu dibangun pada 6.000 Sebelum Masehi (SM).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved