Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Proyek Jalan Inpres Nagekeo Rp18 Miliar PHO dalam Kondisi Rusak

Ignas Kunda
27/3/2026 17:01
 Proyek Jalan Inpres Nagekeo Rp18 Miliar PHO dalam Kondisi Rusak
Jalan sedang diperbaiki pada tanggal 12 Maret 2026 satu hari setelah PHO.(Dok. MI/Ignas Kunda)

RUAS jalan Mauponggo-Ngera-Pu’uwada di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang baru selesai dikerjakan melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) kini menuai protes keras dari masyarakat. Pasalnya, proyek senilai belasan miliar rupiah tersebut dilaporkan telah melakukan Provisional Hand Over (PHO) dalam kondisi fisik yang rusak.

Hasil investigasi Media Indonesia dan Alinsi Jurnalis Nagekeo di ruas jalan Mauponggo - Ngera - Puuwada, pada tanggal 12 Maret 2026 setelah PHO tanggal 11 Maret 2026 diketahui terdapat sejumlah titik mengalami kerusakan. Meski telah dinyatakan selesai dan dilakukan PHO pada 11 Maret 2026, kondisi jalan justru menunjukkan kerusakan serius di beberapa titik. Retakan lebar yang mengeluarkan endapan lumpur terlihat jelas, terutama di kawasan belakang Kampung Ngera.

Beberapa bagian jalan yang retak berusaha ditutupi dengan lapisan aspal hotmix tambahan, namun material tersebut terlihat tidak merekat sempurna. Kondisi ini memicu dugaan bahwa serah terima pekerjaan dilakukan dipaksakan meskipun kualitas belum memenuhi standar kontrak.

Klarifikasi BPJN NTT: Klaim Sudah Mulus

Kasatker PJNW IV Prov. NTT, Wilhelmus Sugu Djawa, memberikan klarifikasi bahwa Paket Preservasi Jalan Mauponggo-Ngera-Pu’uwada 1 senilai Rp9.114.590.000 telah dilaksanakan sesuai kontrak. Menurutnya, kerusakan yang sempat terjadi di akhir tahun 2025 akibat cuaca ekstrem telah diperbaiki oleh CV Ratu Orzora sebelum PHO.

“Saat ini ruas tersebut sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dengan mulus. BPJN NTT berkomitmen memberikan yang terbaik,” ujar Wilhelmus.

PPK Ricard Manukoa juga menambahkan bahwa proyek ini berada dalam pengawasan Kejaksaan Tinggi dan akan segera diaudit oleh BPKP. “Semua sudah diperbaiki, tidak usah takut nanti ada pemeriksaan lab, dan setelah lebaran ada audit dari BPKP untuk semua IJD,“ kata Ricard.

Sorotan Ahli Konstruksi: Masalah Struktural

Seorang sumber ahli konstruksi jalan aspal hotmix yang berpengalaman dalam proyek APBN menyoroti penggunaan metode lapisan tipis aspal pasir (latasir) dalam perbaikan ini. Menurutnya, metode tersebut hanya berfungsi menutup permukaan aspal yang kasar, bukan untuk memperkuat konstruksi badan jalan.

“Pekerjaan latasir seperti ini hanya untuk menutup pori-pori aspal yang kasar atau retak rambut, bukan untuk memperkuat konstruksi badan jalan,” ungkapnya. Ia juga mengkritik kualitas agregat yang diduga mengandung banyak lumpur tanah, yang terlihat dari video kerusakan.

“Mereka tidak memaparkan kondisi nol sebelum kerja, hanya mengirim kondisi yang sudah 100 persen selesai,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk kondisi jalan seperti yang diberitakan sebelumnya, seharusnya pekerjaan dimulai dari lapisan dasar yang kuat. Tahapan ideal mencakup penggunaan pondasi agregat kelas A yang dipadatkan hingga mencapai sekitar minimal 98 persen kepadatan, sebelum dilanjutkan dengan penghamparan lapis aus berupa Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC).

Dalam perencanaan proyek tersebut, disebutkan bahwa lapisan aspal memang hanya dirancang satu lapis, yakni HRS-WC. Oleh karena itu, kualitas pekerjaan pada lapis pondasi agregat menjadi faktor krusial dalam menjamin ketahanan jalan.

 “Kalau pondasi tidak dikerjakan dengan baik, maka lapisan aspal di atasnya akan rentan rusak,” jelasnya.

Secara teknis, ia menambahkan bahwa dalam konstruksi jalan yang ideal, sebelum lapisan HRS-WC seharusnya digunakan lapisan dasar aspal seperti HRS-Base. Namun, berdasarkan petunjuk teknis dari pemerintah pusat, beberapa proyek langsung menggunakan HRS-WC tanpa lapisan tersebut, sehingga pelaksanaan di lapangan mengikuti desain yang telah ditetapkan.

Meski demikian, metode tersebut dinilai masih dapat diterapkan jika kondisi tanah dasar cukup stabil. Alternatif lain adalah dengan menggunakan urugan atau timbunan pilihan pada lapisan dasar sebelum pemasangan agregat.

Untuk proyek-proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), praktik yang lebih umum dilakukan adalah konstruksi berlapis. Dimulai dari timbunan pilihan, dilanjutkan agregat kelas B, agregat kelas A, dan kemudian dilapisi aspal sebagai lapisan akhir.

Selain itu pekerjaan yang dilakukan selama musim hujan bukalah menjadi alasan. Kalau struktur tanahnya labisl ada altenatif lain yang sudah disiapkan seperti memperkuat struktur fondasinya dengan semen. Kecuali kalau ada bencana besar seperti banjir dan longsor yang tidak bisa dihindari atau force majure dalam istilah teknik. Kemudian sebelum pekerjaan dilakukan dalam perencanan teknis selalu ada uji daya dukung tanah apakah tanahknya labil atau tidak. 

Viktor Tegu, anggota DPRD Nagekeo asal Ngera, menegaskan bahwa pada 12 Maret 2026 jalan masih dalam perbaikan saat wartawan meninjau lokasi. "Saya kira tidak benar bilang hoaks soal berita, ketika wartawan datang tanggal 12, kenyataan di lapangan masih ada perbaikan," tegas Viktor.

Warga setempat, Egidius Situ, juga membenarkan adanya kerusakan sebelum dilakukan pelapisan aspal baru. Dengan total anggaran Rp18 miliar, masyarakat berharap kualitas jalan dapat bertahan lama dan tidak hanya diperbaiki secara estetika di permukaan saja. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya