Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Penantian 80 Tahun Sia-sia, Jalan Rp18 Miliar di Nagekeo Rusak dalam Sebulan

Ignas Kunda
17/3/2026 13:59
Penantian 80 Tahun Sia-sia, Jalan Rp18 Miliar di Nagekeo Rusak dalam Sebulan
Proyek jalan Inpres senilai Rp18,3 miliar di Nagekeo NTT rusak parah.(Dok. Ignas Kunda)

HARAPAN warga Desa Ngera dan Lewa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menikmati jalan mulus setelah puluhan tahun merdeka kini hancur. Proyek jalan hotmix senilai Rp18,3 miliar yang baru selesai dikerjakan pada akhir 2025 tersebut kini sudah rusak parah meski baru digunakan kurang dari satu bulan.

Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan signifikan pada ruas jalan Mauponggo - Ngera - Puuwada sepanjang 4 kilometer. Aspal hotmix yang seharusnya kokoh kini dipenuhi retakan lebar hingga mengeluarkan endapan lumpur. Bahkan, di beberapa titik, aspal telah pecah menjadi bongkahan besar yang membahayakan pengendara.

Warga menduga kuat adanya pelanggaran spesifikasi teknis dalam pengerjaan proyek tersebut. Salah satu poin yang disoroti adalah penggunaan alat berat grader untuk menghampar aspal, yang seharusnya menggunakan asphalt finisher guna menjamin kualitas permukaan.

"Mereka pakai oto besar lalu salin itu aspal lalu pakai grader yang seharusnya hanya untuk ratakan agregat. Itu aneh, baru saya lihat selama orang kerja hotmix," ungkap salah seorang warga yang terekam dalam video yang kini beredar di media sosial.

Rincian Anggaran dan Kontraktor

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek ini terdiri dari dua paket pekerjaan Inpres Jalan Daerah Tahun Anggaran 2025 dengan total nilai kontrak mencapai Rp18.397.888.000. Berikut rinciannya:

  • Paket 1: Preservasi Jalan Mauponggo - Ngera - Puuwada 1 (2 KM) senilai Rp9.114.590.000, dikerjakan oleh CV Ratu Orzora.
  • Paket 2: Preservasi Jalan Mauponggo - Ngera - Puuwada 2 (2 KM) senilai Rp9.283.298.000, dikerjakan oleh CV Anugerah Cipta Jaya.

Kedua paket tersebut berada di bawah pengawasan konsultan supervisi PT Maha Charisma Adiguna. Namun, meski menelan anggaran fantastis, kualitas pengerjaan justru jauh dari standar Spesifikasi Umum Bina Marga.

Tanggapan Ahli dan Pihak Terkait

Seorang ahli teknik jalan yang dihubungi Media Indonesia menegaskan bahwa faktor cuaca atau hujan tidak bisa dijadikan alasan kerusakan prematur jika struktur dasar (base course) dikerjakan dengan benar. "Kalau tanahnya labil, ada alternatif teknik seperti base dari semen untuk memperkuat struktur. Hujan bukan alasan kecuali terjadi bencana besar," tegasnya.

Sementara itu, pihak perusahaan melalui seorang pekerja bernama Yanto berdalih bahwa jalan tersebut masih dalam proses pemeliharaan dan terkendala kondisi tanah yang labil akibat hujan saat pengerjaan akhir tahun lalu.

Kekecewaan mendalam juga disampaikan oleh anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Viktor Tegu. Ia mendesak pemerintah segera memperbaiki kualitas jalan agar tidak merugikan keuangan negara. "Paling penting itu memperbaiki kualitas jalan yang sedang dikerjakan agar bertahan lama," ujar Viktor.

Hingga berita ini diturunkan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Ricard Manukoa, belum memberikan jawaban meski telah dihubungi berkali-kali oleh jurnalis untuk memberikan klarifikasi terkait kerusakan jalan tersebut. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya