Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Dosen UGM: Kemungkinan Kerusakan Organ Ekolokasi

Agus Utantoro
31/3/2026 20:05
Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Dosen UGM: Kemungkinan Kerusakan Organ Ekolokasi
Paus pilot terdampar di NTT.(Dok. UGM)

PULUHAN ekor paus pilot, Senin (9/3) lalu yang ditemukan terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari total 55 ekor paus terdampar, 21 ekor diantaranya 4 anakan dan 17 dewasa yang ditemukan mati. Sedangkan sisanya sebanyak 34 ekor berhasil digiring kembali ke laut.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Akbar Reza, S.Si., M.Sc., menyatakan keprihatinannya atas puluhan paus pilot yang mati terdampar tersebut. Paus pilot itu sendiri katanya merupakan hewan dengan status konservasi dalam perlindungan penuh. Dengan kejadian tersebut Akbar mengaku merasa resah karena secara global, jika dilihat dari data  International Union for Conservation of Nature (IUCN), tidak ada data populasi globalnya. “Kalau kita lihat dari data IUCN gitu ya, kita nggak punya data populasi globalnya, jadi kita nggak tahu dia itu populasinya jumlahnya itu meningkat, menurun, stabil atau seperti apa,” katanya, Selasa (31/3).

Kejadian ini jelasnya merupakan alarm adanya gangguan ekologis di sekitar perairan, terlebih hal ini bukan kali pertama terjadi. Beberapa tahun silam, 2024 terdapat 50 ekor paus pilot terdampar di Alor, pada 2020 terdapat 11 ekor paus pilot yang terdampar di Sabu Raijua dan 52 ekor paus pilot yang terdampar di Madura. “Memang ya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali ya, meskipun tentu sering terjadi, bukan berarti alami,” jelasnya.

Menurut dia,  kejadian ini berulang terjadi di area NTT, Laut Sawu dan sekitar Kupang sebelah barat, karena memang area ini merupakan jalur migrasi tahunan. Apalagi saat ini memang musimnya, dari awal tahun sampai tengah tahun, mereka bermigrasi dari selatan. Dari Australia yang dekat dengan Antartika yang dingin, mereka mencari perairan yang hangat di daerah tropis.

Kolaborasi penelitian dari BRIN dan James Cook University, Australia, mengungkapkan bahwa dari tahun 1990-an sampai 2021, ada lebih dari 20 spesies paus dan lumba-lumba yang terdampar di perairan Indonesia. “Dan jenis-jenis lain yang juga pernah tercatat, misalnya lumba-lumba hidung botol, paus biru yang besar itu tiga ekor terdampar mati. Ada juga dugong, hiu paus, yang paus besar itu yang juga sering terdampar di Jogja tiap akhir dan awal tahun, pernah tercatat juga di sana,” jelasnya.

Untuk mengetahui penyebab pasti mengapa hewan-hewan laut ini dapat terdampar, Akbar diperlukan pembedahan lebih lanjut atau nekropsi. Sebagaimana manusia melakukan visum et repertum untuk mengetahui penyebab kematian itu. Berdasarkan data-data nekropsi sebelumnya dari Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional, yang juga berkolaborasi dengan Fakultas Biologi UGM, terdapat beberapa temuan, salah satu di antaranya adalah kerusakan organ ekolokasi pada hewan tersebut. “Kalau yang sekarang kan belum selesai nih nekropsinya,” ungkapnya.

Ekolokasi ini berguna bagi paus untuk mencari jalan dan juga makan dari pantulan gelombang. Ada beberapa faktor mengapa organ ini bisa rusak, misalnya, adanya tumpang tindih dengan kegiatan yang juga mengeluarkan gelombang suara, juga kerusakan organ yang dikarenakan parasit maupun pencemaran lingkungan, seperti plastik, jaring nelayan, maupun serpihan kapal. Sedangkan tumpang tindihnya kegiatan dengan gelombang, seperti ramainya kapal,  survei seismik, gempa, atau eksplorasi migas yang memakai sonar. “Kondisi inilah yang kemudian membuat paus-paus ini terdampar,” katanya. 

Ditambah, beberapa lokasi di NTT substratnya lumpur dan pasir, yang membuat pemantulan gelombang ini tidak sekuat jika substratnya keras, semisal karang dan batuan. “Nah, berkaitan kerusakan organ ekolokasi, tentu hal ini bisa makin parah, karena kalau dia rusak ketika si paus pilot atau paus sejenis bergerak ke area dangkal, dia jadi nggak tahu itu sudah dangkal atau masih dalam gitu. Jadi, ibaratnya sensornya rusak tuh. Nggak tahu dia, akhirnya terdampar,” jelasnya.

Disebutkan juga  paus pilot juga merupakan hewan yang hidup berkelompok, yang biasanya dipimpin paus betina dewasa. Paus memang sensitif terhadap perubahan lingkungan, seperti pencemaran air, logam berat, bahkan badai matahari. Untuk mengetahui hal ini secara pasti, diperlukan nekropsi; selebihnya hanyalah dugaan. “Memang dugaan-dugaan terbesar karena polusi suara, karena pencemaran air, bisa airnya kualitasnya buruk, atau ada plastik, ataupun ada sampah-sampah jaring ikan, jaring nelayan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Mitigasi Paus Terdampar

Untuk memitigasi agar hal serupa tidak terjadi, kita harus mengetahui pola pergerakan mereka. Sayangnya, masih sedikit penelitian tentang hal ini, Akbar menjelaskan. Hal ini penting karena, semisal ada waktu tertentu mereka melintasi kapal, dapat dialihkan ke jalur lain agar tidak terjadi tabrakan suara maupun tabrakan fisik dengan paus-paus ini. Di Selandia Baru, misalnya, mereka sudah memiliki program bernama PilotPulse yang dapat memberikan peringatan dini yang membuat mereka dapat mengantisipasi dan bersiaga jika ada indikasi paus mendekat dan akan terdampar.

Jika sudah terlanjur terdampar, maka hal yang paling krusial adalah protokol menanganinya dan bagaimana membawanya kembali ke laut secepat mungkin. Juga dibutuhkan protokol sederhana semacam tidak boleh diduduki, tidak boleh selfie, tidak boleh menutupi lubang semprot paus, dan sebagainya. “Nanti kalau ditutupi, dia bikin tambah cepat mati, tambah lemas, termasuk dia kepanasan, karena punya jaringan lemak yang banyak, sehingga harus kena air yang banyak. Nah, protokol-protokol itu penting, supaya peluang dia mati lebih kecil, termasuk nekropsi,” jelasnya.

Terkait nekropsi menurut dia masih menjadi tantangan karena kadang di lapangan kurang dokter hewan yang memiliki kapasitas tersebut. Terlebih untuk hewan sebesar paus, yang memerlukan skill khusus. “Jadi memang nekropsi sendiri masih jadi batasan, selain karena dokter hewan terbatas, alat-alat juga masih terbatas. Padahal itu penting untuk memahami kira-kira penyebab kematiannya,” pungkasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya