Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Relevansi Pemikiran Guru Tua Sayid Idrus Di Era Modern  

Mohsen Hasan AlHinduan Tenaga Edukatif Unisa Pengembang LBA Unisa - Direktur Studi Islam & Bahasa Arab Jakarta
31/3/2026 16:51
Relevansi Pemikiran Guru Tua Sayid Idrus Di Era Modern  
Mohsen Hasan AlHinduan(Dok.Istimewa)

SEJARAH Indonesia prakemerdekaan tidak hanya dibentuk oleh pidato politik, rapat besar, atau letupan senjata. Ada kerja sunyi yang bergerak melalui jalur lain: pendidikan, ekonomi, dan jaringan kepercayaan lintas negeri.

Di wilayah timur Nusantara, salah satu aktor terpenting dari kerja sunyi itu adalah Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri ulama Hadrami yang berperan sebagai pendidik, saudagar, da’i, dan diplomat informal sebelum republik ini lahir.

Ia tidak tercatat sebagai anggota partai politik. Tidak pula dikenal sebagai juru runding resmi dengan kekuasaan kolonial. Namun, jejaringnya melintasi Hadhramaut, Hijaz, Afrika Timur, Singapura, dan Nusantara, menjadikannya simpul penting komunikasi umat Islam dan nasionalisme religius di Indonesia Timur.

Ulama Kosmopolit

Sayid Idrus lahir di Tarim, Hadhramaut, pada 1891, sebuah kota yang selama berabad-abad melahirkan ulama-saudagar dengan mobilitas lintas samudra. Dari Tarim, ia mewarisi dua tradisi sekaligus: disiplin ilmu agama yang ketat dan etos kemandirian ekonomi.

Sejak muda, ia telah terbiasa berpindah dari satu pusat Islam ke pusat lain Aden, Mombasa, Zanzibar, Singapura membangun relasi dengan ulama, pedagang, dan pemimpin komunitas Muslim. Mobilitas ini membentuknya sebagai ulama kosmopolit yang memahami politik kolonial bukan dari buku, melainkan dari pengalaman lapangan dan percakapan lintas jaringan.

Tidak seperti sebagian ulama yang bergantung pada patron politik, Sayid Idrus membangun kemandirian ekonomi melalui perdagangan. Ia terlibat dalam jaringan bisnis tekstil, hasil bumi, dan distribusi barang kebutuhan komunitas Muslim model khas diaspora Hadrami yang berbasis kepercayaan (trust-based networks).

Ekonomi baginya bukan tujuan akhir. Ia adalah alat strategis. Dengan kemandirian finansial, Sayid Idrus memiliki ruang gerak luas:

  • tidak mudah ditekan kolonial,
  • tidak bergantung pada kekuasaan, dan bebas menentukan arah dakwah serta pendidikan. Dalam konteks pra-kemerdekaan, kemandirian semacam ini adalah modal politik yang nyata, meski tidak disebut sebagai politik.

Diplomasi Tanpa Jabatan

Peran paling menarik dari Sayid Idrus adalah fungsinya sebagai diplomat informal umat. Melalui jejaring ulama dan saudagar Hadrami di Timur Tengah dan Afrika Timur, ia menyampaikan kondisi umat Islam di Indonesia kepada dunia luar, menjaga arus masuk buku, guru, dan gagasan Islam moderat, memfasilitasi hubungan antara tokoh lokal Indonesia Timur dan jaringan Islam internasional.

Dalam era ketika negara Indonesia belum ada, diplomasi semacam ini menjadi saluran legitimasi moral dan intelektual. Dunia Islam mengenal Indonesia bukan hanya sebagai koloni, tetapi sebagai komunitas Muslim yang hidup dan bergerak.

Sayid Idrus tidak pernah mendirikan partai politik. Ia memahami bahwa di Indonesia Timur, politik frontal justru berisiko memecah masyarakat. Strateginya berbeda: membangun manusia dan institusi.

Pendekatan ini terlihat jelas ketika ia mendirikan Alkhairaat di Palu pada 1930. Secara kasat mata, Alkhairaat adalah lembaga pendidikan. Namun, secara strategis, ia adalah proyek sosial-politik jangka panjang: mencetak kader Muslim berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran kebangsaan.

Jaringan Alkhairaat yang kemudian menyebar ke Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Papua, menjadi salah satu fondasi integrasi sosial Indonesia Timur ke dalam republik. Dalam dakwah, Sayid Idrus dikenal cerdas membaca konteks dan tegas dalam prinsip. Ia menolak sinkretisme yang mengaburkan akidah, tetapi juga menentang puritanisme kaku yang memutus tradisi. Dakwah baginya harus berlandaskan ilmu, disampaikan dengan akhlak, dan diarahkan pada kemaslahatan sosial.

Ketegasannya tidak lahir dari emosi, melainkan dari argumentasi ilmiah. Ia mendidik dengan kesabaran, membangun dengan ketekunan, dan menegur dengan kewibawaan.

Mengapa Jarang Disebut

Ada alasan mengapa nama Sayid Idrus tidak sering muncul dalam buku sejarah nasional:

  • Ia bekerja di luar Jawa wilayah yang lama terpinggirkan dalam historiografi.
  • Ia tidak meninggalkan manifesto politik, melainkan jaringan pendidikan.
  • Ia beroperasi sebagai “diplomat sunyi”, bukan aktor panggung. Namun, justru di situlah kekuatannya. Ia adalah arsitek sosial yang fondasinya  tidak terlihat, tetapi menopang bangunan besar bernama Indonesia. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya