Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Misa Jumat Agung di Labuan Bajo: Umat Jalan Kaki, Kendaraan Motor Dibatasi

Marianus Marselus
03/4/2026 15:24
Misa Jumat Agung di Labuan Bajo: Umat Jalan Kaki, Kendaraan Motor Dibatasi
Jumat Agung di Labuan Bajo, Umat jalan kaki mengikuti prosesi jalan salib.(Dok. MI/Marianus)

SUASANA hening menyelimuti Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada perayaan Jumat Agung, 3 April 2026. Dalam bingkai program Silentium Magnum atau Jumat Hening, ribuan umat Katolik berjalan kaki hingga 2 kilometer menuju gereja untuk mengikuti Misa Jumat Agung, sebuah peristiwa iman yang tidak hanya sarat makna religius, tetapi juga refleksi ekologis.

Langkah-langkah kaki umat yang menyusuri jalanan kota menjadi simbol penghayatan atas sengsara Kristus. Dalam tradisi iman Katolik, Jumat Agung mengenang perjalanan penderitaan Yesus menuju Golgota, sebuah jalan salib yang kini dimaknai ulang secara kontekstual oleh umat di Labuan Bajo melalui kesediaan berjalan kaki, meninggalkan kenyamanan kendaraan bermotor, dan memasuki ruang hening serta permenungan.

Pelaksanaan Jumat Agung tahun ini kembali diwarnai kebijakan pembatasan kendaraan bermotor melalui program Silentium Magnum, yang untuk kedua kalinya diterapkan di wilayah tersebut. Pemerintah daerah mengatur aktivitas masyarakat dalam dua sesi waktu, yakni pukul 06.00–11.00 WITA dan 14.00–18.00 WITA, dengan imbauan kuat untuk mengurangi mobilitas, menekan kebisingan, serta mengutamakan berjalan kaki.

Di tengah kebijakan tersebut, pemandangan umat berjalan kaki menuju gereja menjadi gambaran nyata perubahan pola hidup, meski hanya dalam satu hari. Jalan-jalan yang biasanya padat kendaraan berubah menjadi ruang kontemplatif, di mana umat melangkah dalam keheningan, seakan menyatu dengan makna pengorbanan yang dikenang dalam liturgi Jumat Agung.

Misa Jumat Agung di Katedral Roh Kudus Labuan Bajo dilaksanakan dalam dua sesi, yakni pukul 11.00 WITA dan pukul 15.00 WITA. Pengaturan ini dilakukan untuk mengakomodasi jumlah umat yang besar, sekaligus menjaga kekhusyukan perayaan yang menjadi inti dari refleksi iman umat Katolik.

Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, menegaskan kebijakan pembatasan kendaraan tidak semata-mata untuk kepentingan teknis ibadah, tetapi juga sebagai langkah strategis membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.

“Langkah ini bukan hanya soal pengaturan ibadah, tetapi juga bagian dari gerakan bersama untuk menekan polusi dan menjaga lingkungan hidup. Kita ingin membangun kebiasaan baik, dimulai dari hal-hal kecil, demi masa depan yang lebih baik bagi kita dan generasi mendatang,” tegasnya, Jumat (3/4). 

Ia menjelaskan, pengaturan waktu aktivitas masyarakat, termasuk jeda pada pukul 12.00–14.00 WITA, juga mempertimbangkan kebutuhan umat Muslim yang melaksanakan salat Jumat. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga penghormatan terhadap keberagaman dan praktik keagamaan yang hidup berdampingan di Manggarai Barat.

Menurutnya, semangat utama dari program ini adalah mengajak masyarakat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, termasuk dengan berjalan kaki ke tempat ibadah sebagai bentuk kontribusi sederhana namun berdampak terhadap pengurangan emisi.

“Ini adalah gerakan bersama. Kita ingin masyarakat mulai membiasakan diri berjalan kaki, mengurangi kendaraan, dan ikut menjaga kualitas lingkungan. Kalau dimulai sekarang, dampaknya akan kita rasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Jumat Agung di Labuan Bajo tahun ini tidak hanya menjadi perayaan liturgis, tetapi juga ruang perjumpaan antara iman, kesadaran ekologis, dan solidaritas sosial. Dari langkah-langkah kaki yang menempuh jarak hingga dua kilometer, tersirat pesan kuat: pengorbanan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari tindakan kecil—bahkan dari perjalanan menuju altar.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya