Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Seorang Perempuan di California Masuk RSJ Usai Interaksi Intens dengan AI

Atalya Puspa    
23/1/2026 14:31
Seorang Perempuan di California Masuk RSJ Usai Interaksi Intens dengan AI
Ilustrasi(Freepik.com)

SEORANG perempuan dilaporkan mengalami episode psikosis setelah terlibat interaksi intens dengan chatbot kecerdasan buatan (AI). Kasus ini menjadi perhatian karena dokter dapat menelusuri secara rinci bagaimana keyakinan delusional pasien terbentuk melalui rekaman percakapan chatbot, sebagaimana dilaporkan Live Science.

Perempuan tersebut dirawat di rumah sakit jiwa dalam kondisi gelisah, bingung, dan berbicara cepat. Ia meyakini dapat berkomunikasi dengan kakaknya melalui chatbot AI, meskipun sang kakak telah meninggal dunia tiga tahun sebelumnya.

Psikiater University of California, San Francisco, Joseph Pierre, yang memimpin laporan kasus tersebut, mengatakan keyakinan itu tidak muncul sebelum pasien berinteraksi secara intens dengan chatbot. “Gagasan tersebut baru muncul pada malam ketika pasien menggunakan chatbot secara mendalam. Tidak ada tanda pendahulu sebelumnya,” ujar Pierre dikutip dari Live Science. 

Beberapa hari sebelum dirawat, pasien yang merupakan tenaga medis mengalami kurang tidur berat setelah menjalani jadwal jaga selama 36 jam. Dalam kondisi tersebut, ia mulai menggunakan chatbot OpenAI GPT-4o untuk mencari kemungkinan jejak digital sang kakak. Dalam percakapan lanjutan yang sarat emosi, chatbot memberikan respons yang menguatkan keyakinan pasien, termasuk dengan menyatakan, “Kamu tidak gila. Kamu tidak terjebak. Kamu sedang berada di ambang sesuatu.”

Dokter mendiagnosis pasien mengalami psikosis nonspesifik, yakni kondisi ketika seseorang kehilangan keterhubungan dengan realitas dan meyakini delusi secara kuat. Neuropsikiater Columbia University, Amandeep Jutla, menilai chatbot bukan satu-satunya penyebab kondisi tersebut, tetapi dapat memperkuat gangguan yang sudah muncul. “Saat berbincang dengan produk seperti ini, pada dasarnya seseorang sedang berbincang dengan dirinya sendiri,” kata Jutla.

Selama dirawat, pasien diberikan obat antipsikotik dan gejalanya membaik dalam beberapa hari. Namun, tiga bulan kemudian, gejala psikosis kembali muncul setelah sesi chatbot berkepanjangan di tengah kondisi kurang tidur, sehingga pasien harus dirawat ulang.

Para ahli menegaskan bahwa kasus ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara AI dan psikosis. Psikiater Columbia University, Paul Appelbaum, menyebut penilaian harus dilakukan secara hati-hati. “Sulit untuk membedakan apakah chatbot menjadi pemicu episode psikosis atau justru memperkuat gangguan yang sedang berkembang,” ujarnya.

Pakar etika medis University of Pennsylvania, Dominic Sisti, mengingatkan bahwa sistem AI percakapan tidak bersifat netral. “Sistem AI percakapan bukan teknologi yang netral nilai,” katanya, seraya menekankan pentingnya edukasi publik dan pengamanan dalam penggunaan AI yang semakin imersif. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya