Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PERILAKU melukai diri di kalangan remaja semakin menjadi perhatian serius dunia kesehatan jiwa. Psikiater RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda, Sri Purwatiningsih, menegaskan bahwa pola asuh yang tidak sehat sejak masa kanak-kanak merupakan faktor dominan yang memicu perilaku ini.
Menurutnya, melukai diri kerap dijadikan remaja sebagai cara untuk melepaskan tekanan batin, seperti rasa cemas maupun kesedihan. “Tindakan ini memberikan sensasi lega sesaat, meskipun sebenarnya merugikan diri sendiri,” ujar Sri dikutip dari Antara,
Sri menjelaskan, perilaku menyakiti diri bisa berupa agresi langsung, seperti menggunakan benda tajam atau membenturkan kepala, maupun tidak langsung, misalnya dengan menahan makan dan minum. Hal ini berbeda dengan percobaan bunuh diri, meski keduanya bisa saling berkaitan pada kondisi gangguan jiwa yang lebih berat.
Kasus remaja dengan keluhan serupa nyaris ditemukan setiap hari di Samarinda. Masalah perundungan disebut sebagai salah satu pemicu yang paling sering muncul. Kondisi ini juga tampak secara nasional dengan terjadinya kasus massal di sejumlah daerah, seperti Bengkulu Utara, Bali, dan Yogyakarta.
“Sebagian besar pasien datang dengan latar belakang depresi, gangguan kecemasan, bipolar, atau gangguan kepribadian,” jelasnya.
Sri menekankan, pola asuh keras yang menutup ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya menjadi titik awal masalah. Anak yang dilarang menangis atau tidak mendapat validasi atas kesedihannya berisiko kesulitan mengelola emosi ketika dewasa. Akibatnya, saat menghadapi tekanan berat, mereka memilih jalan pintas dengan menyakiti diri.
Selain pola asuh, faktor lingkungan, tekanan akademis, hingga kerentanan genetik turut berperan dalam membentuk perilaku tersebut.
Meski demikian, Sri melihat sisi positif: semakin banyak remaja yang mulai mencari bantuan profesional atas inisiatif sendiri. “Ini perkembangan baik, walau sebagian masih harus berjuang menghadapi stigma dari keluarga maupun masyarakat,” katanya. (Ant/Z-10)
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Peneliti UCSF mengungkap stres pada anak akibat bullying hingga kemiskinan berdampak permanen pada otak.
Penelitian University of Georgia ungkap pola asuh ayah dan ibu memengaruhi kecemasan sosial remaja.
Benturan antara tradisi lama dan saran medis modern masih menjadi masalah besar dalam penerapan Makanan Pendamping ASI (MPASI) di Indonesia
UPAYA membangun pola asuh keluarga yang baik harus menjadi perhatian serius semua pihak untuk mewujudkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing di masa depan.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Paparan berita negatif berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental. Psikolog menjelaskan risiko vicarious trauma dan cara mencegahnya.
Pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu di provinsi kepulauan
Sering memuji anak secara berlebihan bisa menjadi salah satu pemicu munculnya gangguan kepribadian narsistik/Narcissistic Personality Disorder (NPD) di masa depan.
GANGGUAN kepribadian narsistik/Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam beradaptasi di lingkungan sosialnya.
NARCISSISTIC Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik adalah salah satu jenis masalah terkait dengan pola perilaku seseorang dalam kehidupan sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved