Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
TARGET nnol kematian akibat dengue pada 2030 yang dicanangkan negara-negara ASEAN dinilai memerlukan upaya luar biasa, terutama bagi Indonesia yang hingga kini masih mencatat angka kematian dengue relatif tinggi dibandingkan rata-rata global. Hal itu disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia, Tjandra Yoga Aditama.
Ia mengingatkan bahwa komitmen regional ASEAN terhadap pengendalian dengue bukanlah hal baru. Ia menyinggung kembali momentum tahun 2011, saat Indonesia menyelenggarakan ASEAN Dengue Conference yang menghasilkan Jakarta Call for Action on Combating Dengue. Deklarasi tersebut kemudian dicanangkan bersamaan dengan peluncuran resmi Hari Dengue ASEAN atau ASEAN Dengue Day pada 15 Juni 2011 di Museum Nasional Jakarta, yang untuk pertama kalinya diperingati di Indonesia.
“Target nol kematian dengue tahun 2030 merupakan kelanjutan dari komitmen panjang ASEAN. Namun, tantangannya masih sangat besar,” ujar Tjandra dalam keterangan resmi, Selasa (10/2).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2025 tercatat 161.752 kasus dengue di Indonesia dengan 673 kematian. Angka tersebut menunjukkan case fatality rate (CFR) sebesar 0,42%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan CFR dengue global sebesar 0,07%, sebagaimana dilaporkan dalam artikel ilmiah 14 million cases and 9000 deaths reported in 2024 yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases pada September 2025.
Menurut Tjandra, kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu bekerja jauh lebih keras jika ingin mencapai target Zero Dengue Deaths pada 2030.
Ia menekankan sedikitnya sembilan langkah penting dalam pengendalian dengue, dengan pengendalian vektor nyamuk sebagai pilar utama. Upaya ini mencakup penerapan 3M Plus secara konsisten, penguatan peran pengelola kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Langkah berikutnya adalah penguatan surveilans yang adaptif terhadap fluktuasi perubahan iklim. Selain itu, penanganan kasus harus mencakup deteksi dini dengan ketersediaan alat diagnostik seperti rapid diagnostic test (RDT), sistem rujukan yang baik, serta pelayanan optimal di rumah sakit, khususnya untuk kasus berat.
Tjandra juga menyoroti pentingnya perluasan cakupan dan peningkatan mutu vaksinasi dengue, serta pemanfaatan pendekatan inovatif seperti penggunaan nyamuk Wolbachia. Upaya tersebut perlu dilengkapi dengan respons cepat dan terkoordinasi dalam penanganan wabah ketika kasus meningkat.
“Seluruh langkah ini harus ditopang oleh komitmen politik yang jelas dan berkelanjutan dalam pengendalian dengue,” tegasnya.
Sebagai penutup, Tjandra mengingatkan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam musim hujan, sehingga kewaspadaan terhadap dengue harus terus ditingkatkan di semua lini, baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat. (H-4)
SEORANG siswa bunuh diri di NTT. Anak berinisial YBS yang baru menginjak 10 tahun, Psikiater, menekankan bahwa anak berusia 10 tahun sudah memahami konsep kematian
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas tertawa dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Penyalahgunaan gas tertawa dapat memicu timbulnya bekuan darah, gangguan hitung darah, serta menghambat fungsi saluran pembuangan (buang air besar dan kecil).
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved