Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Beban Biaya Gagal Ginjal Per Pasien Lampaui Jantung, BPJS Kesehatan Soroti Tren Usia Muda

Basuki Eka Purnama
17/3/2026 06:56
Beban Biaya Gagal Ginjal Per Pasien Lampaui Jantung, BPJS Kesehatan Soroti Tren Usia Muda
Ilustrasi--Dokter spesialis penyakit dalam memeriksa kondisi kesehatan seorang pasien gagal ginjal di klinik hemodialisa di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur.(ANTARA/Destyan Sujarwoko)

BPJS Kesehatan mencatatkan data mengejutkan terkait efisiensi pembiayaan kesehatan di Indonesia sepanjang 2025. Meski penyakit jantung masih memegang nominal tertinggi secara akumulatif, biaya penanganan medis per individu untuk pasien gagal ginjal ternyata jauh lebih besar.

Dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu (11/3), Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica, mengungkapkan bahwa total biaya penanganan gagal ginjal mencapai Rp13 triliun pada 2025. Angka ini menempatkan gagal ginjal di posisi kedua setelah penyakit jantung yang menelan biaya Rp17 triliun.

Namun, Tiffany memberikan catatan kritis mengenai rasio jumlah pasien. Biaya Rp17 triliun pada penyakit jantung diakses oleh sekitar 3 juta jiwa, sedangkan Rp13 triliun pada gagal ginjal hanya diakses oleh sekitar 640 ribu jiwa.

“Jadi walaupun memang secara nominal damage-nya lebih besar jantung, tapi secara pembiayaan per orang ini sebenarnya di ginjal banyak sekali pembiayaannya,” kata Tiffany.

Tingginya biaya ini disebabkan oleh karakteristik terapi ginjal yang beragam dan berkelanjutan. Pasien umumnya memerlukan hemodialisis (cuci darah) dua hingga tiga kali seminggu, atau prosedur transplantasi yang memerlukan obat-obatan mahal secara rutin setiap bulan.

Tren Usia Produktif dan Dominasi Hemodialisis

Data BPJS Kesehatan 2025 menunjukkan kasus gagal ginjal paling banyak ditemukan pada laki-laki kelompok usia 50-60 tahun. Namun, yang menjadi perhatian serius adalah munculnya kasus pada kelompok usia produktif, yakni belasan hingga 20-an tahun.

“Di angka belasan tahun, 20 tahun, usia-usia muda produktif, ini di data klaim BPJS Kesehatan tercatat sudah mengalami gagal ginjal. Walaupun mungkin kita belum tahu ya stage berapa, tapi secara besar memang dari stage 3, 4, 5 ini juga masuk di sini,” tutur Tiffany.

Terkait metode pengobatan, layanan hemodialisis masih menjadi pilihan utama dan terus mengalami kenaikan klaim sebesar 7% pada 2025. Tercatat ada 147 ribu kunjungan klaim hemodialisis dengan total biaya general mencapai Rp7 triliun sejak 2021. 

Di sisi lain, metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) mulai dilirik oleh 3.247 jiwa dengan serapan biaya Rp210 miliar.

“Ini bertambah terus tiap tahun walaupun memang pertambahannya tidak eksponensial, cukup pelan-pelan tapi perlahan tampaknya semakin banyak yang pindah ke CAPD,” imbuhnya.

Sementara itu, tindakan transplantasi ginjal juga menunjukkan kenaikan tipis, dari 130 peserta pada 2024 menjadi 135 peserta di tahun 2025.

Urgensi Preventif

Melihat beban ekonomi yang terus meningkat, Tiffany menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari kuratif (pengobatan) menuju preventif (pencegahan). 

Fokus utama ke depan adalah deteksi dini dan edukasi gaya hidup sehat untuk memitigasi beban ekonomi jangka panjang tanpa mengurangi kualitas layanan.

“Dengan mengoptimalkan deteksi dini serta edukasi gaya hidup sehat sebagai langkah mitigasi beban ekonomi jangka panjang,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik