Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Studi Ini Ungkap 4 Faktor Penghambat Transplantasi Ginjal di Negara Berkembang

Abi Rama
16/3/2026 14:34
Studi Ini Ungkap 4 Faktor Penghambat Transplantasi Ginjal di Negara Berkembang
ilustrasi(freepik)

TRANSPLANTASI ginjal merupakan solusi medis paling efektif bagi pasien gagal ginjal stadium akhir. Namun, bagi masyarakat di negara berkembang, prosedur ini masih menjadi tantangan besar.

Sebuah studi berjudul "Scoping Review: Tantangan Transplantasi Ginjal di Negara Berkembang" yang dipublikasikan dalam PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, membedah faktor-faktor penghambat tersebut. Berikut adalah empat alasan utama menurut hasil penelitian tersebut:

1. Kekurangan Fasilitas Medis dan Tenaga Ahli

Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu tantangan utama transplantasi ginjal di negara berkembang adalah keterbatasan fasilitas medis.

Banyak rumah sakit di negara berkembang belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk menjalankan prosedur transplantasi ginjal secara optimal. Fasilitas seperti ruang perawatan intensif (ICU), peralatan bedah modern, hingga laboratorium imunologi sering kali masih terbatas.

Selain itu, jumlah tenaga medis yang memiliki keahlian khusus dalam transplantasi ginjal juga masih sangat sedikit. Kekurangan ahli bedah transplantasi serta tim medis yang terlatih membuat prosedur ini tidak dapat dilakukan secara luas.

2. Ketersediaan Donor Organ Masih Rendah

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya ketersediaan donor organ.

Banyak negara berkembang belum memiliki sistem pendaftaran donor organ yang terorganisir dengan baik. Akibatnya, jumlah ginjal yang tersedia untuk transplantasi sangat terbatas.

Sebagian besar transplantasi ginjal di negara berkembang masih bergantung pada donor hidup, biasanya dari anggota keluarga pasien. Sementara itu, donor dari orang yang telah meninggal atau donor kadaverik masih sangat jarang.

3. Biaya Transplantasi Sangat Mahal

Faktor ekonomi juga menjadi penghalang besar bagi pasien di negara berkembang.

Biaya transplantasi ginjal tidak hanya mencakup operasi, tetapi juga perawatan jangka panjang setelah transplantasi. Pasien harus mengonsumsi obat imunosupresan secara terus-menerus untuk mencegah penolakan organ oleh tubuh.

Obat-obatan tersebut umumnya memiliki harga yang tinggi dan tidak selalu ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan di negara berkembang.

Akibatnya, banyak pasien yang akhirnya memilih menjalani dialisis, meskipun metode tersebut memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup.

4. Hambatan Sosial dan Budaya

Selain faktor medis dan ekonomi, penelitian ini juga menyoroti pengaruh sosial dan budaya terhadap program transplantasi ginjal.

Di beberapa masyarakat, donor organ masih dianggap tabu atau bertentangan dengan nilai budaya dan agama. Stigma sosial terhadap donor hidup juga membuat banyak orang ragu untuk mendonorkan organ mereka.

Kurangnya edukasi mengenai manfaat transplantasi ginjal turut memperparah situasi ini. Banyak pasien yang tidak memahami bahwa transplantasi ginjal dapat menjadi solusi jangka panjang yang lebih efektif dibandingkan dialisis.

Perlunya Kebijakan dan Edukasi yang Lebih Baik

Para peneliti menilai bahwa upaya untuk meningkatkan transplantasi ginjal di negara berkembang memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain meningkatkan fasilitas medis, memperbanyak pelatihan tenaga kesehatan, serta memperkuat kebijakan terkait donor organ.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya donor organ juga dinilai penting untuk meningkatkan jumlah donor. Dengan dukungan kebijakan yang lebih kuat dan peningkatan kesadaran publik, transplantasi ginjal diharapkan dapat menjadi solusi pengobatan yang lebih mudah diakses bagi pasien gagal ginjal di negara berkembang. (P-4)

Sumber: Jurnal Universitas Pahlawan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya